6/22/2011

Mencari keseimbangan baru

(tulisan pernah dimuat bisnis indonesia, ini versi awalnya) 

Harga pangan selalu berkaitan dengan kepul asap dari dapur rakyat. Kalau kepul asap itu tak muncul, para pemimpin patut waspada.

Kenaikan harga pangan disebut-sebut jadi salah satu pemicu unjuk rasa di Tunisia yang melengserkan Presiden Ben Ali dari kursi kekuasaan yang didudukinya dalam 23 tahun itu.

Rakyat yang terbebani berbagai kenaikan harga barang menjadi berang melihat protes Mohammed Bouazizi yang membakar diri tidak terlalu digubris. Sekalipun sang presiden telah membesuk rakyatnya itu sebelum ajal, para demonstran terlanjur melihat kisah satir pedagang sayur ilegal.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menengarai gejolak yang menular ke Mesir, Libya dan beberapa negara Timur Tengah itu disebabkan kenaikan harga pangan yang menekan daya beli masyarakat.

Harga komoditas yang lebih tinggi tertransmisi dalam satu rantai dengan inflasi di kebanyakan negara. Hal itu mengurangi daya beli rakyat miskin dan meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas ekonomi dan kerawanan pangan di beberapa negara berkembang

Dan, tingginya harga pangan global masih akan berlanjut dalam dekade mendatang. Dunia menghadapi tekanan dari ketidakstabilan harga pangan karena pelambatan produktivitas pertanian, sedangkan permintaan terus naik seiring pertambahan penduduk.

Sebuah laporan kolaborasi Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan FAO menyatakan harga pangan akan tetap tinggi dalam dekade berikutnya setelah dalam 10 tahun terakhir produksi pertanian melambat dan permintaan meningkat.

Dalam laporan tahunan bertajuk Agricultural Outlook, sebagaimana dikutip Bloomberg, disebutkan pertumbuhan produksi pertanian global akan turun menjadi rata-rata 1,7% per tahun sampai 2020, dibandingkan dengan 2,6% pada dekade sebelumnya.