8/31/2010

Mencari n

saban kali main ke tempatku, dia akan memintaku mengeluarkan mesin ketik. matanya sipit dan bening, seperti pedang terasah. ia meminta selembar kertas lalu mengamati caraku memasangnya di mesin ketik. dia akan mengusirku dari hadapan mesin ketik. dia akan menguasai mesin ketik itu sepenuhnya, seperti hendak menulis sebuah novel.

aku pergi ke dalam sebuah buku sambil sesekali menengoknya. dia berpikir keras, sekeras penyair yang belajar menaruh titik dan koma sebelum judul. kupikir, dia sedang mencoba mengenali idenya, menjabarkan dan menata di kepalanya. matanya yang sipit makin sipit mengarah ke mesin ketik. entah, mungkin dia sedang berpikir mengenai kata apa yang tepat untuk mengawali sebuah kalimat.

8/16/2010

Tiket KA Mudik yang Ludes

Tuuuut… tuuut… tuuut… Bunyi kereta? Bukan. Itu bunyi dari hape saya. Mau pesan tiket online. Suara perempuan di kejauhan menjawab lalu hilang dan berganti lagi dengan mbak tutut… Tak berapa lama kemudian, saya dapati berita kalau tiket kereta api untuk tanggal 7 dan 8 tujuan jogja sudah habis. Hahahahaha…. saya hanya bisa tertawa dalam hati.

Baru tahun ini saya jadi bagian dari gerombolan mudik dari jakarta ke daerah lain. Mudik bukan hal penting untuk saya, tapi sepertinya ada beban sosial kalau saya tak ikut pulang dan menemui orangtua. Untungnya, saya tidak pernah ambil pusing dengan lebaran. Beberapa tahun ini saya lebih memilih melewati hari pertama lebaran di jogja, bukan di rumah orang tua. Saya tak merasa berdosa karena itu, pun tak perlu rikuh. Dan, sekali ini, rasanya saya juga tak perlu berdosa kalau tak ikut mudik.

Saya menyukai ramadhan, tapi kadang agak sensi dengan lebaran. Harga-harga naik, angkutan naik (apalagi angkutan di daerah-daerah yang naiknya bisa sampai 50%), orang-orang tua dituntut menyediakan baju baru untuk anak-anaknya…. wow. Saya tak membencinya (toh saya juga dapat thr, bingkisan dll), hanya kadang kasihan. Tuntutannya selalu sama, bagi mereka yang kaya maupun jelata, sediakan pakaian baru untuk anak-anak, makanan tersedia di meja, perbaiki rumah biar lebih indah, keluarkan biaya untuk ini dan itu… Tanpa perlu menelaah apa akibatnya bagi kalangan rendah, ini adalah sambutan yang luar biasa untuk sebuah hari raya. Mungkin, yang saya tolak adalah kemewahan yang sering dipaksakan.

8/11/2010

Pembunuh Waktu Senja

Para Un Angelito
Hari sudah senja. Kota terasa lebih damai saat begini. Di sudut-sudut taman terdengar anak-anak bermain. Mereka menikmati cuaca cerah hari ini.
Tahukah kamu, siapa yang berpikir bahwa senja adalah waktu yang pantas untuk membunuh? Aku. Sebenarnya sangat jarang orang berpikir sepertiku. Orang membunuh di malam hari atau di cuaca yang panas. Mereka takut diketahui umum dan umumnya membawa rasa takut dalam perbuatannya.
Aku adalah anak muda yang berbakat untuk melakukan sesuatu saat senja. Diam di taman dan mengawasi orang-orang sambil minum kopi. Dengan sebuah niat, yang merupakan keseluruhan “kesungguhanku”, aku bisa mendekati seorang perempuan yang sendiri dan menyeretnya ke rimbu pohon pagar. Ia mati tanpa suara. Hanya darahnya akan mengundang naluri anjing untuk menyalak. Tapi ini Indonesia, anjing tidak bisa begitu saja berkeliaran. Mereka benci hewan ini. Hewan manis dan sedikit ganas yang enak.
Kadang aku mengayuh sepeda, melewati sebuah jalan di perumahan dan menggoda gadis yang sedang akan pergi jogging. Mereka menyukai pria tampan dan agresif, dan aku akan berpikir banyak tentang bentuk tubuh mereka setelah mati. Tinggal kau ajak melihat sesuatu yang aneh di ujung gang, dan ia bisa tergeletak di sana sampai beberapa menit sebelum terjadi kekacauan. Tentu saja itu perumahan yang sepi, perumahan orang-orang kaya, dan aku tidak pernah dicurigai seorangpun sebagai pembunuh di waktu senja.

8/10/2010

Tinggalkan Bumi Atau Punah

Stephen Hawking memperingatkan umat manusia bahwa dalam 2 abad mendatang harus bisa menaklukkan angkasa atau manusia akan punah. Ia mengatakan, seperti dikutip bisnis.com, “Saya optimistis jika kita bisa menghindari bencana dalam 200 tahun ke depan, maka spesies kita akan aman.” Ilmuwan asal Inggris itu mengaitkan masa depan manusia yang sedang memasuki periode kritis terkait keserakahan manusia yang terus mengerus sumber daya Bumi yang terbatas. ”… kode genetik kita mengandung insting agresif dan egois yang menjadi kelebihan manusia untuk bisa bertahan di masa lalu,” katanya.

Wow, apa itu tidak membuat kita merinding? Ini bukan soal kita sekarang, tapi mengenai masa depan manusia. Untuk saya sih, memang akan ada waktunya bagi manusia untuk punah dan mereka tidak berhak menyesalinya karena merekalah yang merusak bumi. Tapi, bagi orang lain, bagi mereka yang baru menatap dunia, bisakah menerima bahwa mereka lahir untuk sebuah kepunahan?

Manusia berusaha maju dengan modernisasi, namun mereka tak merasa menghancurkan sendi-sendinya sendiri. Pertumbuhan ekonomi berbanding terbalik dengan kerusakan alam. Setiap angka presentase pertumbuhan PDB, menyumbang kerusakan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Desain ekonomi dunia tidak pernah memperhitungkan kerusakan ekologi dan sosial. Setelah membuka hutan-hutan jadi perkebunan, mereka akan semakin terikat untuk maju dan rusak. Tiap jalan yang dibangun dan dibeton, hanya memperhitungkan soal ganti rugi tanah pada penghuni sebelumnya, tidak pernah membayar kompensasi kerusakan panjang yang mereka jelang.

8/03/2010

Bangku ini untuk pacar saya, ibu silakan berdiri!

Ah, jakarta…. kata orang jaman kuliah dulu, adalah kota yang menekankan hidup untuk egoisme pribadi. Saya hampir percaya dan meyakininya. Cerita-cerita tak enak tentang Jakarta saya dapat dari teman sepenangungan di Code. Katanya, Jakarta itu begini dan begitu … pokoknya serba nagatip.
Sampai akhirnya, saya pun ingin menengok ketidaknyamanan itu. Mungkin, kalau saya alami sendiri, segala sesuatunya akan terasa berbeda. Sekalian, ini juga tuntutan peran.

Beberapa bulan di Jakarta, belum terlalu kentara apa yang dimaksud dengan kehidupan jakarta. Saya malah bertemu saudara-saudara yang sudah lebih lama berpartisipasi dalam upaya memadatkan jakarta. Di jogja, saya menjalin persaudaraan dengan orang-orang tak berkait darah dengan saya. Artinya, saya sudah begitu nyaman di sana. Ketika harus meninggalkannya, saya bersumpah untuk kembali. Kembali kepada saudara-saudara saya, adik-adik saya.

Setelah sekian bulan di ibukota, saya mulai merasakan kehidupannya. Banyak yang saya sukai, yang mungkin tidak Anda sukai. Saya kadang menikmati macet sebagai saat yang paling tepat untuk melamun dan berpikir, mengawang-awang tidak tentu. Saya suka melihat perempuan-perempuan berjajar di sekitaran jatinegara, lalu saya ceritakan sebagai lelucon ketika sampai di rumah. Saya kadang menyusuri pasar-pasar lecek, becek, dan riuh manusia yang keringatnya jadi sangat semerbak. Hanya untuk melihat-lihat manusia. Bagi saya, manusia itu benda amatan yang menarik.

8/02/2010

Nuna

Udara menyengat ini pasti lebih dari 40 derajat celcius. Sumpah mati, tubuhku jadi kayak terpanggang waktu melewati jalan yang ramainya luar biasa. Belum lagi waktu kendaraan lewat tepat di sampingku dan mengeluarkan asap gelap, panasnya seperti menusuk paru-paru. Biasanya aku tidak suka jalan di siang hari yang panas seperti neraka ini. Tapi, demi untuk dapat makan hari ini dan besok, rasanya pengorbanan juga perlu.

Maksudku, tentu kalian mengerti bahwa orang miskin sepertiku perlu pekerjaan-pekerjaan kasar yang menyengsarakan untuk mempercepat mencapai kematian, mungkin. Dan, pekerjaanku jelas tidak tentu, sama tidak menentunya dengan makanku. Tapi, aku pikir kalau aku tetap kerja maka aku juga tetap bisa makan. Dan pekerjaanku yang tidak tentu itu kadang menuntutku, atau sering, berjalan di bawah terik matahari begini. Aku tidak ingin bohong, bertahun-tahun aku berjalan di bawah terik matahari begini untuk pekerjaan yang tidak tentu. Tapi yang kali ini neraka benar rasanya.

Aku menyesal, aku malu bercerita apa pekerjaanku sebenarnya. Ini suatu rahasia, maksudku sesuau yang kalau diungkapkan akan bikin malu aku dan mungkin keluargaku dan beberapa orang lain-lain yang gengsinya akan terbakar begitu tahu aku bekerja begini ini. Yah, kalian tahulah, aku ini masih kuliah dan anak yang kuliah kan seharusnya belajar mati-matian biar cepat lulus dan mendapat nilai yang mentereng sehingga orang-orang akan selalu bangga bahwa aku ini sarjana anu. Dan rata-rata kan yang namanya mahasiswa itu anak orang kaya, setidaknya cukup mampu bayar ini itu, beli buku ini itu, pakai ini itu, dan ke ini itu. Tahulah kalian tentang apa itu dan apa ini.