1/22/2019

,

Konsumen Indonesia Berubah


Gumpalan – Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi berbasis internet tercepat di Asia Tenggara. Data-data penting yang muncul, dan terus berubah, dapat dibaca oleh pelaku bisnis sebagai peluang sekaligus tantangan. Bagi yang tak siap dan masih mengandalkan intuisi saja, bersiap-siaplah tertinggal oleh gelombang digital ini.

Laporan dari Google baru-baru ini menunjukkan berbagai data yang bakal bisa jadi indikator penting mengenai masyarakat yang sedang berubah terkait dengan internet. Saat ini, internet telah menjadi bagian integral dari sejumlah besar kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Mereka menggunakannya untuk mencari referensi produk, mencari topik penelitian yang menarik, berbelanja, memuaskan kebutuhan hiburan mereka, dan memperoleh keterampilan baru melalui tutorial online.

Boleh dikata, internet adalah kekuatan pendorong bagi banyak sektor ekonomi di negara ini karena dunia digital memengaruhi life cycle pembelian sejumlah besar orang Indonesia.

Oleh karena itu, “sangat penting bagi pelaku bisnis untuk memahami perilaku online orang Indonesia dan bisnis adaptif untuk memenuhi kebutuhan konsumen,” tulis Google dalam laporan tahunan berjudul Year in Search: 2018 Insights for Brands yang dapat diunduh dari laman thinkwithgoogle.com.

Laporan itu memberikan ringkasan soal apa yang paling dicari orang Indonesia secara online, bagaimana mereka membalikkan stereotip lama, dan apa saja yang menarik perhatian konsumen. Berikut beberapa data yang disajikan.

Mobile Only


Adagium ‘mobile first’ seolah tak berlaku lagi, karena kini mayoritas pengakses internet sudah ‘mobile only.’ Artinya, saat ini Anda harus lebih fokus pada pengembangan produk berbasis mobile. Manfaatkan semaksimal mungkin perangkat ponsel cerdas yang semakin canggih.

Saat ini, sebanyak 94% masyarakat yang beraktivitas online telah memiliki smartphone, naik signifikan dari sekitar 40% pada 2013. Pertumbuhan ini didukung oleh harga ponsel yang kian terjangkau. “Perangkat ini merupakan bagian integral dari kehidupan online konsumen dan juga merupakan bagian penting dari jalur pembelian mereka,” ungkap Google.

Menurut laporan itu, terjadi kenaikan dua kali lipat dalam pencarian merek ponsel cerdas lewat mesin pencari Google selama tahun lalu.

Orang Indonesia juga menginginkan pengalaman penjelajahan ke website secara lebih mulus. Menurut data, 53% orang segera meninggalkan website jika laman tersebut butuh waktu lebih dari 3 detik untuk tampil. Padahal, diperlukan rata-rata 6 detik untuk memuat halaman web seluler di Indonesia.

Di Luar Kota Besar


Ada data menarik. Sejalan dengan semakin terhubungnya orang-orang yang tinggal di luar kota-kota besar, mereka juga berkontribusi terhadap setengah dari pencarian mesin telusur terkait dengan ‘paket internet’. Hal ini menandakan bahwa masyarakat di kota-kota kecil maupun kawasan rural semakin butuh koneksi internet yang berkualitas.

“Populasi digital baru ini memiliki dampak signifikan dalam mendorong pertumbuhan pencarian di berbagai sektor seperti kecantikan, perawatan bayi, dan perawatan pribadi.”

Sebanyak 52% pencarian terkait dengan produk kecantikan berasal dari penduduk di luar kota besar, dan pertumbuhannya dua kali lipat dibandingkan dengan aktivitas yang sama yang dilakukan masyarakat di kota besar.

Mematahkan Stereotip


Data perilaku online orang Indonesia juga menantang banyak stereotip (prasangka) lama. Berikut tiga dari sejumlah beberapa perubahan itu:

1. Sebanyak 68% dari wanita usia 18-24 tahun menggunakan e-money untuk membayar belanjaan online, sementara hanya 58% pria dalam kelompok usia yang sama yang berbelanja dengan uang elektronik.

2. Satu dari tiga orang yang berbelanja kebutuhan bayi adalah pria.

3. Ada peningkatan 2,7 kali dalam hal volume pencarian soal merek perawatan pribadi pria.

Perilaku Pembeli yang Semakin Penasaran, Penuntut, dan Tidak Sabaran

Pembeli membuat lebih banyak pilihan informasi dan menginginkan sesuatu sekarang. Mesin pencari membantu orang Indonesia membuat pilihan yang semakin cerdas tentang pembelian produk. Mereka juga haus akan informasi tentang produk dan layanan, dan mereka menginginkan jawaban yang cepat.

Sebagian besar masyarakat menggunakan mesin pencari untuk membandingkan merek, mencari informasi terperinci soal produk, mencari penawaran terbaik, dan menemukan pengalaman tanpa batas.

“62% dari mereka menggunakan mesin telusur dalam perjalanan pembelian mereka. Ini tampaknya memiliki dampak langsung pada pengeluaran mereka,” ungkap Google. Sebagai contoh, keluarga yang terkoneksi internet menghabiskan 1,5 kali lebih banyak untuk membeli produk konsumer daripada rumah tangga yang offline.

Ada juga pertumbuhan yang tinggi untuk penelusuran dengan kata kunci “terdekat” dan “pengiriman cepat”, yang jadi bukti bahwa orang Indonesia semakin banyak tergantung ke mesin pencari untuk solusi pembelian barang yang mudah dan cepat. Bahkan, penelusuran dengan kata “terdekat” naik 14 kali dibandingkan dengan 2017.

Kata “review” juga semakin banyak diketikkan lewat jalur telusur di YouTube, tumbuh 1,4 kali dibandingkan tahun sebelumnya.

Tumbuhnya Cashless Society


Solusi pembayaran kini tumbuh secara cepat untuk mendukung transaksi digital. Hal ini juga sejalan dengan prediksi bahwa ekonomi digital Indonesia akan tumbuh hingga US$100 miliar pada 2025.

Menurut laporan Google itu, pertumbuhan ekonomi digital ini akan banyak ditopang oleh transaksi e-commerce, pemesanan tiket perjalanan online, dan transportasi daring. Pasalnya, orang semakin mudah dalam transaksi dengan menggunakan pembayaran online dan uang elektronik.

Produk-produk ini ideal untuk negara seperti Indonesia, di mana kurang dari setengah populasi yang sudah jadi bagian dari sistem keuangan formal. Indikasinya terlihat dari pertumbuhan penggunaan kata kunci soal aplikasi e-money dan cara untuk menggunakannya. Ada pertumbuhan enam kali soal pencarian aplikasi keuangan digital sejak 2010.

Beberapa frasa kunci yang paling sering dipakai di mesin pencari adalah tentang penyedia dan merek e-money, manfaat menggunakan e-money, cara mendaftar untuk aplikasi e-money, dan cara menambah saldo e-money.

1/17/2019

, , ,

Surat dari Mako Brimob: Panggil Saya BTP Bukan Ahok.






Gumpalan-- Dari dalam jeruji besi, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan Ahok, menyampaikan surat dan diunggah lewat Instagram oleh sahabat-sahabatnya.

Surat jelang bebasnya Ahok dari penjara itu sebagai respons atas kabar yang menyebut para pendukung atau Ahokers akan menyambut kebebasannya pada 24 Januari mendatang. Selama dua tahun di balik jeruji, Ahok banyak berubah, dan perubahan itu bisa Anda baca dalam surat ini. Berikut adalah surat lengkap Ahok.

...............



Kepada Saudara-saudara


AHOKERS


dimanapun saudara berada

Terimakasih atas doa serta dukungannya selama ini untuk saya. Tidak pernah dalam pengalaman hidup saya, bisa menerima begitu banyak pemberian dari makanan, buah2an, pakaian, buku-buku, dan lain-lain dari saudara-saudara. Saya merasa begitu dikasihi dan kasih sayang yang saudara-saudara berikan kepada saya lebih baik daripada emas dan perak maupun dibandingkan kekayaan yang besar.

Saya mendengar ada yang mau menyambut kebebasan saya di Mako Brimob, bahkan ada yang mau menginap di depan Mako Brimob. Saya bebas tanggal 24 Januari 2019, adalah hari Kamis, hari orang-orang bekerja, jalanan di depan mako Brimob dan di lapas Cipinang adalah satu-satunya jalan utama bagi saudara-saudara kita yang mau mencari nafkah. Saya sarankan demi untuk kebaikan dan ketertiban umum bersama, dan untuk menolong saya, sebaiknya saudara-saudara tidak melakukan penyambutan apalagi menginap.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi, bahwa saya diijinkan untuk ditahan di mako Brimob. Saya bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI 2017. Jika saya terpilih lagi di Pilkada tsb, saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai Balai Kota saja, tetapi di sini saya belajar menguasai diri seumur hidup saya. Kuasai Balaikota hanya untuk 5 tahun lagi. Saya kalau ditanya jika waktu bisa diputar kembali, mau pilih yang mana? Saya akan katakan saya memilih ditahan di mako untuk belajar 2 tahun (liburan remisi 3,5 bulan), untuk bisa menguasai diri seumur hidupku. Jika terpilih lagi, aku akan semakin arogan dan kasar dan semakin menyakiti hati banyak orang. Pada kesempatan ini saya juga mau sampaikan kepada Ahokers, para PNS DKI, para pembenciku sekalipun, aku mau sampaikan mohon maaf atas segala tutur kata, sikap, perbuatan yang sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati dan perasaan saudara dan anggota keluarganya. Saya mohon maaf dan saya keluar dari sini dgn harapan Panggil saya BTP bukan Ahok.

Pemilu dan Pilpres 2019 akan dilangsungkan tgl 17 April 2019. Saya menghimbau seluruh Ahoker jangan ada yang Golput, kita perlu menegakkan 4 pilar bernegara kita, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI dgn cara memiliki partai politik yang mau menegakkan 4 pilar di atas di seluruh Indonesia. Kita harus mendukung agar di DPRD dan DPR RI maupun DPD RI memiliki jumlah kursi yang mencapai di atas 30% untuk partai yang teruji dan berkomitmen pada Pancasila.

Saya ingin mengutip pidato Presiden Soekarno yang saya kutip pada buku Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaksara (10 Januari 1967). Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, terbitan Serambi (www.serambi.co.id). Apa yang Presiden Soekarno sampaikan, aku harap juga diterima menjadi pikiran dan harapan aku kepada seluruh Ahokers di manapun domisili saudara: “Saudara-saudara. Pancasila adalah jiwa kita, bukan hanya jiwaku. Tetapi ialah jiwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dan selama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berjiwa Pancasila, insya Allah SWT, engkau akan tetap kuat, tetap kuat dan sentosa. Tetap kuat dan sentosa. Tetap kuat dan sentosa menjadi tanduk daripada banteng Indonesia, yang telah kita dirikan pada tanggal 17 Agustus 1945...., engkau adalah penegak daripada Pancasila. Dan setialah kepada Pancasila itu, pegang teguh kepada Pancasila, bela Pancasila itu. Sebagaimana akupun berpegang teguh kepada Pancasila, membela Pancasila, bahkan sebagaimana kukatakan lagi tadi. Saudara-saudara, laksana panggilan yang aku dapat daripada atasan untuk memegang teguh kepada Pancasila ini."

Majulah demi kebenaran, Perikemanusiaan dan Keadilan.

Ingatlah sejarah dan tujuan para proklamator dirikan negeri ini.

MERDEKA!






Salam dari Mako Brimob





BTP





Basuki Tjahaja Purnama

1/16/2019

Benarkah Politik Indonesia Semakin Runyam?

GUMPALAN - Sobat GUMPALAN, wacana politik di media sosial maupun media mainstream Indonesia terus mengangkat dengan isu dan debat sampah yang kian menumpuk. Menjelang pilpres dan pileg, perang urat saraf dikumandangkan para politisi maupun komentator.

Sekarang ini kita tim redaksi GUMPALAN menangkap gejala adanya friksi yang kian tidak terarah. Perang tidak hanya ditujukan untuk lawan, tapi juga memerangi sang wasit, menyerang komentator, dan kami khawatir para pemain politik itu sebentar lagi menyerang penonton dan komentator, termasuk GUMPALAN.

Gejala-gejala ini mulai tampak pada pribadi andi arief sang sekjen partai demokrat, yang dalam hal ini tidak punya calon dalam kontestasi capres-cawapres. Juga pada beberapa politis lainnya, tentu saja. Penyebutan andi arief hanya sebagai contoh lantaran ia cukup dikenal dengan sejumlah kontroversi, yang terakhir dikait-kaitkan dengan hoax soal surat suara yang sudah dicoblos untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Sebagai petinggi partai dan terakhir sebagai pesohor di media sosial, karena pengikutnya termasuk banyak dan menunggu ia mentwitkan sesuatu yang 'bernilai' untuk ditanggapi. Andi arief sekarang ini cukup gencar menyuarakan ketidakpercayaan kepada KPU sebagai penyelenggara pemilu. Jika publik kemudian sependapat dengannya, tentu sangat berbahaya karena kontestasi demokrasi jadi tidak bernilai lantaran netralitas penyelenggara ya tidak legitimate.

Dalam demokrasi, kepercayaan publik amat penting mengingat apa yang terjadi banyak bergantung padanya. Politisi yang tak dipercaya otomatis akan bisa gugur atau tidak terpilih. Apalagi jualan politisi dalam kampanye adalah janji-janji yang memang fiktif selama jadi janji kampanye.

Hilangnya kepercayaan publik juga akan mudah jadi sumbu pembakar emosi dan pada akhirnya akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Yang diharapkan dari tidak percaya ya publik terhadap KPU adalah delegitimasi siapa yang kemudian terpilih dalam kontestasi ini. Ini juga bisa menimbulkan kemarahan publik, dan pada akhirnya ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Dalam kasus-kasus people power atau publik yang menggulingkan pemerintah resmi, atau juga sejatinya orang yang memanfaatkan kemarahan masyarakat, dimulai dari ketidakpercayaan atas penyelenggara pemilu.

Ini adalah amunisi yang kuat untuk menimbulkan kekacauan, lebih berbahaya daripada sekadar mendelegitimasi salah satu kontestan. Seperti sepakbola, jika wasitnya tidak kredibel tentu permainan jadi buruk seluruhnya, mau menang atau kalah ya kecewa. Maka rusuhlab pemain dan penonton. Kalau yang tidak bener adalah pemain, maka ada wasit yang akan menghakimi. Tapi kalau sudah wasit yang tidak benar, maka rusaklah seluruh permainan.

Dari narasi sederhana ini kita bisa melihat bahwa posisi KPU itu krusial. Bukannya kita sekadar membela KPU ya, tapi kalau menyebarkan kebohongan demi menghancurkan citra KPU itu sesuatu yang patut dicurigai. Namun, ini berbeda jika KPU memang terbukti bersalah, maka ya memang kita semua harus bertindak.

Legitimasi KPU bisa jadi penentu, runyam tidaknya politik Indonesia hari ini. Pasalnya, pemilu sebagai bentuk demokrasi partisipatif sangat mengandalkan coblosan sebagai gambaran utama. Semoga, 2019 jadi tahun politik yang bersih dan damai.