9/28/2012

PENIPUAN INVESTASI AMANAH IA1: Korban Akan Kirim Surat ke Kapolri - Bisnis.com

PENIPUAN INVESTASI AMANAH IA1: Korban Akan Kirim Surat ke Kapolri - Bisnis.com


Intan Pratiwi
Jum'at, 28 September 2012 | 04:53 WIB
JAKARTA: Sejumlah korban dari penipuan Investasi Amanah 1 (IA1) menyatakan akan mengajukan surat tertulis kepada Kapolri Jenderal Timur Pradopo agar Markas Besar Kepolisian mengambil alih kasus  tersebut dari Polda Metro Jaya. 
 
Salah satu korban yang sebelumnya melapor ke Polda Metro Jaya Ravin Prayitno menyatakan surat tersebut akan berisikan permintaan agar kasus penipuan IA1 ditangani oleh Markas Besar Kepolisian. Hal ini bertujuan agar kasus cepat ditangani sehingga pemilik IA1 Muh. Sholeh Suaidi segera tertangkap. 
 
"Saat ini kasus ditangani oleh Polda. Karena masih ditangani Polda maka Mabes belum bisa menangani. Tapi kan hingga kini belum ada perkembangannya di Polda. Jadi kami akan mengirim surat kepada Kapolri agar Mabes saja yang menangani kasus tersebut," ujarnya kepada Bisnis. 
 
Dia mencontohkan ketika kasus penipuan Koperasi Langit Biru ditangani oleh Mabes Polri, pemiliknya Ustad Jaya Komara dapat segera tertangkap. Artinya dengan kasus ditangani oleh Mabes maka dia berharap pemilik IA1 segera ditangkap dan uang dapat segera dikembalikan. 
 
"Kami hanya ingin uang cepat dikembalikan. Kerugian sudah mencapai triliunan," tegasnya. 
 
Sebagai informasi IA1 pada awalnya merupakan bentuk investasi Forex yang berdiri pada Agustus 2011. IA1 menawarkan investasi dengan keuntungan 100% hingga 200% tiap bulannya yang ditawarkan via online. 
 
Anggotanya mencapai ribuan orang yang dikelola oleh 68 konsorsium dari Sabang sampai Merauke. Awalnya pengembalian uang berlangsung lancar. Namun sejak Januari 2012 hingga kini tidak ada pengembalian uang sama sekali. 
 
Pemiliknya yang dikenal dengan nama Suaidi juga tidak diketahui posisinya dan telah dimasukkan ke Daftar Pencarian Orang Polda Metro Jaya. Adapun kerugian yang dialami oleh member IA1 ditaksir mencapai Rp1,6 triliun. (faa) 

+++++++++++++++++++ 

Inilah hidup di dunia ketiga kawan... gagap investasi karena pendidikan finansial tak pernah benar-benar dilakukan. Keinginan untuk kaya raya begitu meluap, dan bersama keinginan itu terbukalah pintu sang penipu. 

Begitu mudahnya masyarakat kita tertipu, mungkin karena karakter instan yang ditanamkan secara kultural dalam masyarakat ini. Mau jadi PNS nyogok, mau izin usaha bayar biaya tak resmi, mau dapat proyek harus bayar komisi ... ah, dan yang kecil-kecil pun ikut2an.

Seolah manusia di negeri ini tak pernah belajar dari masa lalu, tak mau bekerja keras, tak tegas, dan selalu individualis bertameng ketimuran. Ya, ternyata masyarakat ini sangat egois dan individualis, tidak seperti gambaran dalam buku pelajaran yang menyebut bahwa orang Barat yang individualis. 

atau ... entahlah. 

9/26/2012

Ramai-ramai Memburu Bos IA1 (Koran Bisnis Indonesia)


Selamat membaca.... 

Ramai-ramai Memburu Bos IA1

Oleh Intan Pratiwi

Wajah sejumlah perwira TNI dan polisi yang hadir dalam pertemuan anggota Investasi Amanah 1 tampak tegang. Sesekali beberapa dari mereka menghisap rokok sambil berkeluh kesah  mengenai uang mereka yang sudah 9 bulan ini tak kunjung dapat dicairkan.
Mereka bercerita bahwa uang pembayaran sudah tidak diterima sejak Ja­­­­nuari 2012. Pemilik Investasi Ama­­­nah 1 (IA1), sejak April 2012 juga meng­­hilang entah kemana. Uang member yang dilarikan diper­ki­­r­akan mencapai Rp1,3 triliun yang ber­­­asal dari seluruh Indonesia.
Salah satu korban berinisial RP memulai ceritanya. RP merupakan perwira tinggi TNI yang bertugas di salah satu daerah di Sumatra. Dia mengalami kerugian pribadi sekitar Rp784 juta. Belum lagi dia mengajak anak buahnya yang berjumlah sekitar 400 orang untuk ikut berinvestasi di IA1. Semuanya mengalami nasib naas karena uang tidak kembali hingga detik ini.
“Saya ikutan di konsorsium Riau. Saya coba sendiri, yang pertama dan ke­­­dua lancar. Saya ajak rekan-rekan yang jumlahnya sekitar 400 orang. Ke­­­­mudian baru pada yang ketiga, ti­­­­dak ada pembayaran sampai sekarang,” ujar RP ketika ditemui pekan ini.
RP mengaku pertama kali tertarik dengan IA1 karena melihat beberapa orang yang ikut dan kemudian berhasil. RP pun menyetorkan dana dan mengikuti program reguler IA1. RP mengajak anak buahnya untuk masuk dalam salah satu konsorsium IA1 yang dibentuk di Riau.
Pada 18 April 2012 pemilik IA1 sem­pat memberikan cek senilai Rp500 juta kepada RP. Cek BNI ber­­­nomor seri CZ 577599 tersebut ke­­­mudian coba dicairkan oleh RP. Namun ternyata gagal.
Setelah itu bos IA1 banyak berki­lah dan memberikan janji-janji palsu dan pernah mengatakan uang dari Malaysia sudah ada tapi harus de­­­ngan persetujuan Bank Indonesia (BI) untuk masuk ke Indonesia. Dia juga menyatakan BI akan mengalihkan uang tersebut ke rekening konsorsium yang ada di Bank Mandiri.
Dikonfirmasi secara terpisah BI lewat juru bicara Difi A. Johansyah mengatakan BI hanya berhubungan dengan pemerintah dan bank saja. BI tidak pernah berhubungan dengan individu. Uang yang masuk dari luar negeri tidak perlu melalui BI.
Apabila ada uang yang harus masuk ke dalam bank dalam negeri yang berasal dari luar maka akan menggunakan sistem swift. Dimana hal itu merupakan sistem transfer keuangan antarbank di dunia.
Transfer keuangan dapat dilakukan direct atau langsung kepada bank yang dituju. Artinya alasan tersebut murni dikarang oleh bos IA1. BI juga mengklaim tidak mengenal bos IA1 dan belum pernah bertemu dengan pria asal Aceh itu.
Cerita lainnya dituturkan oleh Per­­­wira TNI lainnya dengan inisial AJ. AJ menyatakan awalnya dirinya tertarik untuk ikut karena melihat rekan seja­­wat lain yang memperoleh keuntungan besar. AJ pun resmi bergabung Ja­­­nuari 2012 dengan nilai investasi sekitar Rp46 juta hingga Rp50 juta
Namun begitu setelah pencairan akhir Desember lalu, sudah tidak ada pencairan uang yang dilakukan IA1.
Sayangnya, upaya tersebut mengalami jalan buntu. Pihak Mabes beralasan karena sudah dilaporkan ke Polda maka penyelesaiannya harus dilakukan secara maksimal terlebih dahulu di institusi bersangkutan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, ternyata masih banyak pro dan kontra di kalangan member IA1 terkait pengembalian uang mereka. Ada beberapa pihak yang sudah melaporkan si bos IA1 dan konsorsium ke kepolisian. Namun ada juga yang tidak mau melaporkan.
Direktur Bursa Berjangka Jakarta Roy Sembel menyatakan pihak korban IA1 seharusnya gerak ce­­­­pat dan melaporkan secara bersama-sama ke­­­­pada pihak kepolisian, se­­­­hing­­ga ka­­­­sus cepat tertanga­ni dan sisa aset­­nya paling tidak dapat dicairkan dan dibagi setelah adanya putusan dari pengadilan. (intan.pratiwi@bisnis.co.id)

Intan Pratiwi

9/24/2012

Lika-Liku Investasi Amanah (KORAN)

BISNIS INDONESIA, SENIN 24 SEPTEMBER

Lika-Liku Investasi Amanah

Pemilik dalam pengakuannya di Forum Komunikasi Investor dan Pebisnis Online (FKIPOI) mengaku sudah melakukan trading forex sejak 1999. Di situs web IA1, penawaran yang diberikan Suaidi tersebut memang menggiurkan.
Untuk program reguler saja, apabila nasabah menginvestasikan sebesar US$25-US$499 maka keuntungan yang diperolehnya dapat mencapai 100%. Apabila member mau berinvestasi sebesar US$500-US$999 maka keuntungan menjadi sekitar 150%. Adapun yang memberikan dana US$1.000-US$10.000 maka mendapat keuntungan 200%.
Namun, dalam situs tersebut tidak dijelaskan bagaimana cara IA1 memperoleh keuntungan sebesar itu. Para korban yang ditemui Bisnis mengaku hanya mengetahui bahwa uang tersebut dipakai oleh Suaidi sang pemilik IA1 untuk melakukan trading.
Suaidi mengaku memiliki teknik khusus dalam melakukan trading. Teknik tersebut rahasia dan tidak bisa diungkapkan kepada publik. Dalam salinan diskusi sang pemilik dengan beberapa orang di FKIPOI yang diterima Bisnis, dia mengaku memiliki hitungan sendiri dengan metode khusus sehingga dana dari member dijamin tidak kalah atau istilahnya lose.
“Ada hitungan tersendiri alokasi dana itu, yaitu dengan metode khusus agar dana tidak lose. Itu rahasia dapur saya bos. Saya siap dengan semua konsekuensinya,” ujarnya  pada (2/8) tahun lalu menjawab pertanyaan anggota forum mengenai kemungkinan lose-nya investasi.
Trading Dengan Soros
Suaidi sendiri mengaku-ngaku sebagai master forex internasional yang pernah melakukan trading dengan pelaku bisnis keuangan dunia George Soros. Awalnya Suaidi ini membuka pelatihan forex bersama sekelompok orang. Pelatihan forex itu pun pernah ditawarkan di salah satu situs jual beli online terbesar di Indonesia.
Bermula dari pelatihan tersebut kemudian dibukalah situs IA1 yang menawarkan jenis-jenis investasi dengan janji keuntungan besar. Cara untuk berinvestasi juga sangatlah mudah. Anggota cukup mengirim uang ke sejumlah rekening.
Suaidi dan istrinya memiliki rekening di BCA, Mandiri, dan juga BNI atas nama pribadi sang pemilik dan rekening istrinya. Member yang sudah mengirim uang diminta untuk melakukan aktivasi dengan mengirim pesan singkat (SMS) ke nomor tertentu.
Pembukaan awal investasi misalnya 1 hingga 10 Oktober. Member kemudian menyetor uang Rp10 juta dalam waktu tersebut, maka dalam jangka waktu 30 hari maka uang Rp30 juta akan masuk ke rekening member. Perhitungannya adalah Investasi Rp10 juta maka keuntungan Rp20 juta. Adapun total pengembalian adalah modal ditambah dengan keuntungan.
Perekrutan nasabah juga dilakukan melalui pembentukan konsorsium di 68 daerah. Konsorsium tersebut menarik member sehingga sistemnya tampak seperti multi level marketing (MLM). Bisnis kemudian sempat bertemu dengan ketua konsorsium 12 bakul.
Sang ketua konsorsium menceritakan ihwal pembentukan konsorsium untuk pertama kalinya di IA1. Sekitar Oktober dirinya ditawari untuk bergabung di IA1. Dia yang merasa profit yang ditawarkan sangat besar menjadi curiga. Dia pun berangkat menuju Bandung untuk bertemu dengan pemilik IA1.
Pertemuan tersebut dilakukan di lobi apartemen Marbella Bandung. Awalnya dia sempat curiga karena penampilan sang pemilik IA1 yang tidak meyakinkan. Namun begitu di pemilik ini langsung menyerahkan satu tas uang dari investasi Rp10 juta yang disetor olehnya. Uang tersebut total berjumlah Rp30 juta.
“Saya kumpulin semua tabungan Rp70 juta transfer. 30 hari kemudian tepatnya 5 November saya mendapat Rp210 juta. Langsung masuk ke rekening,” ujarnya.
Dirinya yang masih merasa tidak yakin akhirnya rutin untuk menemui si pemilik IA1 ini di Bandung setiap 2 hari sekali. Kemudian pada 11 Oktober 2011 ada pertemuan yang akhirnya menyepakati untuk pembukaan konsorsium untuk mewakili investor.
Setiap pengurus konsorsium akan mendapat fee 10%. Pria yang berprofesi sebagai guru tersebut menganggap angka tersebut sangat fantastis. Akhirnya anggota konsorsium meminta angka diturunkan dan kemudian disepakati dibentuk 68 konsorsium dengan fee 5%.
Waktu berlalu, hingga Desember semua lancar. Namun, mulai Desember pembayaran tertunda. Si pemilik IA1 ini pun gagal bayar kepada member-nya. Konsorsium itu sendiri memiliki 20 orang anggota. Namun tiap anggotanya itu merekrut orang lain sehingga jumlahnya mencapai 300 orang.
“Waktu itu ada yang mau investasi Rp500 juta saya tolak. Saya minta langsung saja ke si pemilik IA1. Saya takut angkanya terlalu besar,” tegasnya.
Saat ini uang yang dibawa kabur si pemilik dari konsorsium 12 bakul mencapai Rp6 miliar. Member konsorsium ini sudah ada tiga orang yang meninggal akibat stress. Ada pula yang meninggal karena tidak memiliki uang untuk berobat.
“Saya ini mempertaruhkan segalanya karena saya guru agama dan anggota dewan di gereja. Makanya saya usahakan agar uang tersebut balik. Begitu si pemilik IA1 telat bayar saya langsung panik karena ini uang orang,” ujar ketua konsorsium itu.
Dia mengaku dirinya juga menemukan keanehan pada si pemilik IA1. Keanehannya adalah setiap pertemuan yang dilakukan di lobby Apartemen Marbella, si pemilik hanya ditemani satu admin yang bermodal satu ponsel dan satu laptop. Bagaimana mungkin pencatatan uang sebesar itu bisa dikerjakan oleh satu orang saja.
Sekitar 9 januari 2012 Olla pun menemui Suaidi di Balikpapan. Suaidi berlasan dia masih akan melakukan roadshow di selururuh kota. Adapun pelunasan uang member dipastikan akan cair. Dia mengaku bisa trading hanya seminggu untuk mendapatkan keuntungan 1 tahun.
Sekitar 11 Maret dialog dengan si pemilik kembali dilakukan. Hal ini dilakukan dalam suatu pertemuan yang dihadiri konsorsium lain. Pem­­bicaraan dilakukan di panggung terbuka. Saat itu si pemilik beralasan dana masih berada di dalam akun trading yang apabila dicairkan akan menimbulkan gejolak ekonomi.
Si pemilik IA1 ini pun menyepakati untuk melakukan pembayaran pada 28 Maret 2012. Sekitar 26 Maret 2012 keluarlah cek senilai Rp495 miliar. Cek tersebut rencananya akan dibagi. Oleh karena pembukuan di IA1 tidak jelas, Tim panitia khusus yang dibentuk dengan beranggotakan sejumlah anggota konsorsium akhirnya mendata ulang.
Keluarlah angka yang cukup fantastis. Member yang hanya berasal dari pro­­­duk reguler saja jumlah kerugian investasinya mencapai Rp1,3 triliun. Namun ternyata si pemilik IA1 berbohong lagi. Cek tidak dapat dicairkan. Rekeningnya malah di-black list di Bank Mandiri.
Sejak April si pemilik menghilang. Berdasarkan pengakuan orang yang mengetahui perihal itu sejumlah tentara bahkan sempat mengepung rumah orang tuanya yang berada di Gresik. Namun, sejumlah pihak mengabarkan yang bersangkutan berada di Malaysia. Adapun istrinya ketika itu masih berada di Aceh. Upaya mengulur waktu ini diyakini agar masyarakat lupa dan mengikhlaskan uangnya yang hilang.
Beberapa spekulasi pun muncul ke mana uang tersebut dilarikan. Seorang perwira yang enggan disebutkan namanya menyatakan kemungkinan besar IA1 ini terkait dengan dugaan penipuan lain yang berkedok Speedline yang berasal dari Malaysia. Dugaan penipuan Speedline memang booming pada tahun lalu.
“Yang membuat website orang Malaysia. Tiga kali pencairan dibiayai oleh orang Speedline. Orang awal IA1 juga banyak yang orang Speedline,” ujar sang perwira.
Apalagi sumber lainnya yang pernah turut mendampingi si pemilik IA1 ke Malaysia dan mengaku pernah melihat pertemuan antara petinggi IA1 dan petinggi Speedline. Si pemilik dikatakan mau meminjam uang kepada bos Speedline sebesar Rp1 triliun untuk pengembalian uang member.
Kemungkinan lainnya adalah si pemilik IA1 hanya boneka. Adapun uangnya sebagian besar sudah masuk ke kantong ketua-ketua konsorsium yang sebagian besar hilang saat ini.
Salah satu korban yang juga enggan disebutkan namanya menyatakan salah satu ketua konsorsium di daerah Riau yang mengaku tidak bisa membeli susu untuk bayinya malah diketahui secara sembunyi-sembunyi membeli mobil baru untuk istri keduanya.
“Katanya tidak bisa beli susu buat anaknya. Eh ketahuan sama saya beli Jazz untuk istri keduanya. Keterlaluan. Bisa jadi uang malah dibawa lari oleh ketua konsorsium,” jelasnya.
Salah satu admin konsorsium bahkan diketahui merampok bank karena ketuanya kabur dan dia dikejar member yang menagih utang. Saat ini para korban hanya berharap bahwa kepolisian tanggap untuk mengungkapkan kasus ini. Investasi Amanah telah menjerat banyak korban. (intan.pratiwi@bisnis.co.id)

Lika-Liku Investasi Amanah (KORAN)

BISNIS INDONESIA, SENIN 24 SEPTEMBER

Lika-Liku Investasi Amanah

Pemilik dalam pengakuannya di Forum Komunikasi Investor dan Pebisnis Online (FKIPOI) mengaku sudah melakukan trading forex sejak 1999. Di situs web IA1, penawaran yang diberikan Suaidi tersebut memang menggiurkan.
Untuk program reguler saja, apabila nasabah menginvestasikan sebesar US$25-US$499 maka keuntungan yang diperolehnya dapat mencapai 100%. Apabila member mau berinvestasi sebesar US$500-US$999 maka keuntungan menjadi sekitar 150%. Adapun yang memberikan dana US$1.000-US$10.000 maka mendapat keuntungan 200%.
Namun, dalam situs tersebut tidak dijelaskan bagaimana cara IA1 memperoleh keuntungan sebesar itu. Para korban yang ditemui Bisnis mengaku hanya mengetahui bahwa uang tersebut dipakai oleh Suaidi sang pemilik IA1 untuk melakukan trading.
Suaidi mengaku memiliki teknik khusus dalam melakukan trading. Teknik tersebut rahasia dan tidak bisa diungkapkan kepada publik. Dalam salinan diskusi sang pemilik dengan beberapa orang di FKIPOI yang diterima Bisnis, dia mengaku memiliki hitungan sendiri dengan metode khusus sehingga dana dari member dijamin tidak kalah atau istilahnya lose.
“Ada hitungan tersendiri alokasi dana itu, yaitu dengan metode khusus agar dana tidak lose. Itu rahasia dapur saya bos. Saya siap dengan semua konsekuensinya,” ujarnya  pada (2/8) tahun lalu menjawab pertanyaan anggota forum mengenai kemungkinan lose-nya investasi.
Trading Dengan Soros
Suaidi sendiri mengaku-ngaku sebagai master forex internasional yang pernah melakukan trading dengan pelaku bisnis keuangan dunia George Soros. Awalnya Suaidi ini membuka pelatihan forex bersama sekelompok orang. Pelatihan forex itu pun pernah ditawarkan di salah satu situs jual beli online terbesar di Indonesia.
Bermula dari pelatihan tersebut kemudian dibukalah situs IA1 yang menawarkan jenis-jenis investasi dengan janji keuntungan besar. Cara untuk berinvestasi juga sangatlah mudah. Anggota cukup mengirim uang ke sejumlah rekening.
Suaidi dan istrinya memiliki rekening di BCA, Mandiri, dan juga BNI atas nama pribadi sang pemilik dan rekening istrinya. Member yang sudah mengirim uang diminta untuk melakukan aktivasi dengan mengirim pesan singkat (SMS) ke nomor tertentu.
Pembukaan awal investasi misalnya 1 hingga 10 Oktober. Member kemudian menyetor uang Rp10 juta dalam waktu tersebut, maka dalam jangka waktu 30 hari maka uang Rp30 juta akan masuk ke rekening member. Perhitungannya adalah Investasi Rp10 juta maka keuntungan Rp20 juta. Adapun total pengembalian adalah modal ditambah dengan keuntungan.
Perekrutan nasabah juga dilakukan melalui pembentukan konsorsium di 68 daerah. Konsorsium tersebut menarik member sehingga sistemnya tampak seperti multi level marketing (MLM). Bisnis kemudian sempat bertemu dengan ketua konsorsium 12 bakul.
Sang ketua konsorsium menceritakan ihwal pembentukan konsorsium untuk pertama kalinya di IA1. Sekitar Oktober dirinya ditawari untuk bergabung di IA1. Dia yang merasa profit yang ditawarkan sangat besar menjadi curiga. Dia pun berangkat menuju Bandung untuk bertemu dengan pemilik IA1.
Pertemuan tersebut dilakukan di lobi apartemen Marbella Bandung. Awalnya dia sempat curiga karena penampilan sang pemilik IA1 yang tidak meyakinkan. Namun begitu di pemilik ini langsung menyerahkan satu tas uang dari investasi Rp10 juta yang disetor olehnya. Uang tersebut total berjumlah Rp30 juta.
“Saya kumpulin semua tabungan Rp70 juta transfer. 30 hari kemudian tepatnya 5 November saya mendapat Rp210 juta. Langsung masuk ke rekening,” ujarnya.
Dirinya yang masih merasa tidak yakin akhirnya rutin untuk menemui si pemilik IA1 ini di Bandung setiap 2 hari sekali. Kemudian pada 11 Oktober 2011 ada pertemuan yang akhirnya menyepakati untuk pembukaan konsorsium untuk mewakili investor.
Setiap pengurus konsorsium akan mendapat fee 10%. Pria yang berprofesi sebagai guru tersebut menganggap angka tersebut sangat fantastis. Akhirnya anggota konsorsium meminta angka diturunkan dan kemudian disepakati dibentuk 68 konsorsium dengan fee 5%.
Waktu berlalu, hingga Desember semua lancar. Namun, mulai Desember pembayaran tertunda. Si pemilik IA1 ini pun gagal bayar kepada member-nya. Konsorsium itu sendiri memiliki 20 orang anggota. Namun tiap anggotanya itu merekrut orang lain sehingga jumlahnya mencapai 300 orang.
“Waktu itu ada yang mau investasi Rp500 juta saya tolak. Saya minta langsung saja ke si pemilik IA1. Saya takut angkanya terlalu besar,” tegasnya.
Saat ini uang yang dibawa kabur si pemilik dari konsorsium 12 bakul mencapai Rp6 miliar. Member konsorsium ini sudah ada tiga orang yang meninggal akibat stress. Ada pula yang meninggal karena tidak memiliki uang untuk berobat.
“Saya ini mempertaruhkan segalanya karena saya guru agama dan anggota dewan di gereja. Makanya saya usahakan agar uang tersebut balik. Begitu si pemilik IA1 telat bayar saya langsung panik karena ini uang orang,” ujar ketua konsorsium itu.
Dia mengaku dirinya juga menemukan keanehan pada si pemilik IA1. Keanehannya adalah setiap pertemuan yang dilakukan di lobby Apartemen Marbella, si pemilik hanya ditemani satu admin yang bermodal satu ponsel dan satu laptop. Bagaimana mungkin pencatatan uang sebesar itu bisa dikerjakan oleh satu orang saja.
Sekitar 9 januari 2012 Olla pun menemui Suaidi di Balikpapan. Suaidi berlasan dia masih akan melakukan roadshow di selururuh kota. Adapun pelunasan uang member dipastikan akan cair. Dia mengaku bisa trading hanya seminggu untuk mendapatkan keuntungan 1 tahun.
Sekitar 11 Maret dialog dengan si pemilik kembali dilakukan. Hal ini dilakukan dalam suatu pertemuan yang dihadiri konsorsium lain. Pem­­bicaraan dilakukan di panggung terbuka. Saat itu si pemilik beralasan dana masih berada di dalam akun trading yang apabila dicairkan akan menimbulkan gejolak ekonomi.
Si pemilik IA1 ini pun menyepakati untuk melakukan pembayaran pada 28 Maret 2012. Sekitar 26 Maret 2012 keluarlah cek senilai Rp495 miliar. Cek tersebut rencananya akan dibagi. Oleh karena pembukuan di IA1 tidak jelas, Tim panitia khusus yang dibentuk dengan beranggotakan sejumlah anggota konsorsium akhirnya mendata ulang.
Keluarlah angka yang cukup fantastis. Member yang hanya berasal dari pro­­­duk reguler saja jumlah kerugian investasinya mencapai Rp1,3 triliun. Namun ternyata si pemilik IA1 berbohong lagi. Cek tidak dapat dicairkan. Rekeningnya malah di-black list di Bank Mandiri.
Sejak April si pemilik menghilang. Berdasarkan pengakuan orang yang mengetahui perihal itu sejumlah tentara bahkan sempat mengepung rumah orang tuanya yang berada di Gresik. Namun, sejumlah pihak mengabarkan yang bersangkutan berada di Malaysia. Adapun istrinya ketika itu masih berada di Aceh. Upaya mengulur waktu ini diyakini agar masyarakat lupa dan mengikhlaskan uangnya yang hilang.
Beberapa spekulasi pun muncul ke mana uang tersebut dilarikan. Seorang perwira yang enggan disebutkan namanya menyatakan kemungkinan besar IA1 ini terkait dengan dugaan penipuan lain yang berkedok Speedline yang berasal dari Malaysia. Dugaan penipuan Speedline memang booming pada tahun lalu.
“Yang membuat website orang Malaysia. Tiga kali pencairan dibiayai oleh orang Speedline. Orang awal IA1 juga banyak yang orang Speedline,” ujar sang perwira.
Apalagi sumber lainnya yang pernah turut mendampingi si pemilik IA1 ke Malaysia dan mengaku pernah melihat pertemuan antara petinggi IA1 dan petinggi Speedline. Si pemilik dikatakan mau meminjam uang kepada bos Speedline sebesar Rp1 triliun untuk pengembalian uang member.
Kemungkinan lainnya adalah si pemilik IA1 hanya boneka. Adapun uangnya sebagian besar sudah masuk ke kantong ketua-ketua konsorsium yang sebagian besar hilang saat ini.
Salah satu korban yang juga enggan disebutkan namanya menyatakan salah satu ketua konsorsium di daerah Riau yang mengaku tidak bisa membeli susu untuk bayinya malah diketahui secara sembunyi-sembunyi membeli mobil baru untuk istri keduanya.
“Katanya tidak bisa beli susu buat anaknya. Eh ketahuan sama saya beli Jazz untuk istri keduanya. Keterlaluan. Bisa jadi uang malah dibawa lari oleh ketua konsorsium,” jelasnya.
Salah satu admin konsorsium bahkan diketahui merampok bank karena ketuanya kabur dan dia dikejar member yang menagih utang. Saat ini para korban hanya berharap bahwa kepolisian tanggap untuk mengungkapkan kasus ini. Investasi Amanah telah menjerat banyak korban. (intan.pratiwi@bisnis.co.id)

9/01/2012

Bagaimana hukum online forex dalam Islam?


Konsultasi Sistem Ekonomi Syariah yang diasuh oleh Ibu Any Setianingrum M.E,Sy.
Pertanyaan oleh Zaki dan Nurozi
assalamualaikum wr. wb
Terimakasih atas kesempatan yang mulia ini.. langsung saja ke poin pertanyaan saya; bagaimanakah hukum trading forex dalam perspektif ekonomi islam/hukum islam (fiqh) ?
Terimakasih atas kesediaan untuk menjawab.
wassalam wr wb

Jawab:
Wa’alaikumsalam, Zaki dan Nurozi, kalian punya pertanyaan yang sama, jadi saya gabung saja jawabannya ya.
Ok, berikut penjelasan saya tentang jual beli valuta asing.Fatwa Dewan Syariah nasional, No: 28/dsn-mui/iii/2002, Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), pada prinsipnya boleh, dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
  2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
  3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
  4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.
Adapun transaksi valuta asing yang dibolehkan hanyalah transaksi spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing (valas) untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.
Sedangkan jenis transaksi forex lainnya diharamkan, yakni transaksi forward, swap dan option. Jadi harap diingat, yang diperbolehkan hanya 1 jenis transaksi yakni spot.
Untuk mempertajam dan meyakinkan analisa, mari kita kaji satu persatu kecocokan Fatwa MUI dengan forex on line, sebagai berikut:
1. Tidak dimaksudkan UNTUK spekulasi (untung-untungan).
Dalam forex online mensyaratkan dua aktifitas jual beli, yakni setelah Open (belanja) harus close (dijual lagi).Hasil Open position tidak bisa dicairkan (withdraw) sampai Close lagi (kembali ke mata uang semula).
Ini artinya tujuan spekulasi/ untung-untungan/ mencari nilai selisih sudah diketahui sejak awal. Apakah mungkin ada tujuan lain?
Sebagai ilustrasi perbedaan jual beli normal dan forex online, contoh kasus sebagai berikut:
Jual beli normal : Jika tuan A pada tahun 2012 membeli tanah (open) seharga 100 juta, maka pada saat beli tersebut, tidak ada keharusan untuk menjual lagi (close). Jika 10 tahun lagi harga tanah tersebut menjadi 500 juta atau turun menjadi 50 juta, maka jika tuan A akan menjual tanah tersebut, harus ada transaksi lagi dengan kesepakatan harga, jika tidak tercapai kesepakatan harga, maka penjualan tanah oleh tuan A tersebut batal dan tidak ada sangsi apapun.
Jual beli forex on line: Pada saat open/beli ada kesepakatan/keharusan untuk dijual/close (misal 10 tahun mendatang) dengan harga yang belum diketahui. Dan 10 tahun lagi tuan A harus jual, tidak boleh batal, dan tanpa ada kesepakatan hargalagi seperti halnya pada transaksi jual beli normal.Jika tidak close/jual maka saldo rekening akan terkena margin call dan bisa sampai habis.
2. Adanya kebutuhan untuk transaksi
Dalam Forex online tidak ada kebutuhan lain selain mencari selisih nilai antar mata uang, jadi kandungan tujuan spekulasi/ untung-untungan sangat kental.
3. Jika terjadi antara mata uang yang berbeda maka menggunakan nilai tukar yang berlaku saat itu dan dilakukan dengan tunai.
Dalam Forex Online, Open position dibarengi dengan transaksi untuk Close tapi dengan nilai tukar belum diketahui, artinya nilai tukar baru berlaku di masa yg akan datang.Jadi transaksi forex online tidak memenuhi syarat sebagai transaksi spot.
Dari analisa pencocokan tersebut di atas, terlihat lemahnya derajat kecocokan transaksi forex on line dengan persyaratan yang tertuang dalam Fatwa MUI. Transaksi forex online tidak memiliki cukup persyaratan sebagai transaksi halal. Sekali lagi, transaksi valas yang dihalalkan hanyalah transaksi spot.