9/27/2011

Melindungi diri dengan diversifikasi


Ibarat serial TV, episode harga emas tengah masuk periode peningkatan konflik dengan klimaks yang belum pasti sampai kapan akan berakhir. Jangan-jangan, kita tidak akan melihat ekornya.

Serial ini telah bergulir ribuan tahun dengan tema masing-masing. Aktor-aktor muncul dan berganti, dari sang penakluk Hernan Cortes hingga Hugo Chavez. Ada episode seram ketika suku-suku Indian dibantai dan patung-patung emas mereka dilebur. Juga ada waktunya ibu-ibu tersenyum di antrian Pegadaian.

Tiga dekade lalu emas mencapai nilai tertinggi, setelah dikonversi dengan tingkat inflasi, setara setara dengan US$2.330,51 per ounce hari ini. Januari 1980 spot emas adalah US$850 per ounce. Dan selama 20 tahun kemudian bank-bank sentral aktif menjual logam mulia.

Namun, setelah krisis 2008, secara diam-diam bank sentral di beberapa negara mulai menumpuk lagi berton-ton emas di brankas mereka, khawatir uang yang hanya dilindungi undang-undang segera kehilangan nilai karena inflasi dan hilangnya kepercayaan. Para analis pun mengandaikan, kiranya berapa keuntungan jika tahun depan emas menembus US$2.200 per ounce.

Dave Brown yang menulis untuk goldinvestingnews.com menyebut pada Maret penambahan cadangan dan perdagangan untuk Bank Meksiko mengakibatkan akumulasi bersih hampir 79 ton emas dengan menambah hampir 15 ton itu selama bulan sebelumnya. Akuisisi emas oleh Meksiko selama 2 bulan mewakili akumulasi terbesar emas oleh bank sentral di lebih dari satu dekade.

Pertumbuhan cadangan terbesar kedua terjadi selama 6 bulan terakhir dimana bank sentrak Korea Selatan membeli 25 ton emas pada Juni. Itu merupakan peningkatan 17 kali dalam ukuran cadangan emas mereka.

Bank sentral Korea Selatan saat ini baru memegang kurang dari 1% dari asetnya dalam bentuk emas. Mereka diketahui sebagai pemegang cadangan terbesar ketujuh dalam pertukaran mata uang asing dengan 64% dari cadangannya dalam dolar AS. Diversifikasi lebih lanjut akan mengurangi risiko penurunan mata uang, sehingga menarik investor emas untuk terus memantau langkah negara Asia itu.

Upaya diversifikasi cadangan itulah yang membuat bank-bank sentral kini menjadi pembeli bersih emas, dari sebelumnya sebagai penjual besar. Kekhawatiran soal krisis utang di Eropa kembali memicu investor memburu aset aman untuk melindungi kekayaannya, mengerak harga naik 25% selama tahun ini.

Peran bank sentral di pasar emas itu menjadi topik utama perdebatan pada konferensi tahunan London Bullion Market Association, pertemuan terbesar industri emas, di Montreal minggu ini. Hal itu, menurut Jack Farchy pada Financial Times awal pekan lalu, adalah tanda terbaru tentang bagaimana turbulensi dalam pasar mata uang dan surat utang telah merevolusi pasar emas lantakan.

“Beralihnya bank sentral dari menjual dalam skala besar menjadi membeli telah membantu mendorong harga emas 25% lebih tinggi selama tahun ini,” ungkap Jack.

Bukan hanya bank, aktor besar lain adalah seorang pemimpin sosialis. Presiden Venezuela Hugo Chavez memerintahkan nasionalisasi industri emas. Sang presiden mengultimatum dan memberi perusahaan waktu 90 hari untuk membentuk usaha patungan dengan negara seiring upayanya untuk meningkatkan kontrol terhadap produsen logam.

Ia menyerukan, lewat suatu dekrit, agar pemerintah memegang setidaknya 55% kepemilikan dari setiap usaha patungan. Keputusan ini juga menetapkan tarif royalti dari 10% menjadi 13% dan mengatakan bahwa semua produksi emas Venezuela akan dijual kepada negara.

Dekrit itu menyiratkan pemerintah akan memiliki monopoli produksi dan penjualan emas. "Semua emas yang dihasilkan dari operasi pertambangan di wilayah nasional akan diserahkan kepada Republik," bunyi dekrit.

Seruan untuk menasionalisasi industri dan berencana untuk memulangkan cadangan devisa emas oleh Chavez pertama kali mennguar pada 17 Agustus. Setelah itu Petroleos de Venezuela SA, perusahaan minyak negara, membentuk usaha patungan dengan negara dan perusahaan publik untuk mengoperasikan tambang termasuk Las Cristinas, yang disita Chavez dari perusahaan Kanada Crystallex International Corp.

Di luar upaya Chavez itu, di sela-sela investor mereguk untung, Eropa yang dituding jadi biang persoalan krisis kepercayaan terus menghadapi tekanan. Italia, salah satu ekonomi terbesar di belakang Jerman, membuat bursa saham lesu.

Perusahaan pemeringkat Standard & Poor memangkas peringkat kredit Italia satu tingkat di tengah ganjalan utang pemerintah dan melemahnya prospek pertumbuhan. Para investor yang cenderung panik meniru logat bank sentral. Mereka mencari cara untuk mendiversifikasi potofolionya menjauh dari ekuitas dan komoditas yang menurun, karena indeks dolar cenderung naik.

"Ada ruang bagi emas untuk reli karena masalah Eropa tidak dapat diselesaikan dalam semalam dan penurunan peringkat Italia adalah contoh dari masalah ini," kata Zhang Qian, seorang analis pada Haitong Futures Co, broker terbesar di China dengan modal terdaftar.

Zahang mengatakan situasi di Yunani sangat serius dan kemungkinan penularan di seluruh Eropa sangat nyata. Adapun AS masih belum ada tanda-tanda yang jelas bahwa ekonominya akan sehat.

Kemarin harga emas kembali naik setelah penurunan tajam di London. Harga emas pengiriman segera naik US$15,13 atau 0,9% menjadi US$1.793,80 per ounce pukul 11:20 di London. Sedangkan logam untuk pengiriman Desember menanjak 1% menjadi US$1.796,10 di Comex di New York.

Naik dan turun barangkali wajar dalam pasar finansial, namun pergerakan harga emas telah merekam berbagai gejolak. Mengikuti ke mana arah lari logam mulia seperti memandang sejarah ekonomi manusia. Ke mana klimaks episode kali ini?

9/25/2011

Pemilik Emas Terbanyak di Dunia


Saya iseng-iseng saja melihat data-data dewan emas dunia tentang siapa pemilik emas terbesar di dunia. Ah, masih tidak berubah, dan akan sangat sulit berubah melihat kenyataan ini;

Amerika Serikat tercatat memiliki 8.133,5 ton emas atau setara dengan 75,4% dari nilai devisanya. Diikuti kemudian oleh Jerman dengan 3.401,0 ton atau setara 72,7% dari cadangan devisa. Jerman ini menggeser IMF yang beberapa tahun lalu di belakang AS dan sekarang di tempat ketiga dengan 2.814,0 ton logam kuning di brankas mereka.
Sementara Italia, negara yang peringkat utangnya baru saja dipangkas oleh Standard & Poor’s, memiliki cadangan emas 2.451,8 ton di bank sentral, jumlah itu setara dengan 72,4% cadangan devisa.

Rasio cadangan emas dengan devisa menggambarkan cara mereka mengamankan kekayaan dari risiko penurunan nilai mata uang. Emas, sebagaimana kita ketahui, menjadi aset safe haven yang tidak akan tergerus inflasi, bahkan dalam beberapa tahun ini melonjak melebihi prosentase inflasi dunia. Bayangkan jika anda menyimpan di bank dengan bunga ala kadarnya, sesungguhnya uang anda tetap berkurang karena inflasi sering lebih tinggi daripada bunga bank. Sementara emas biasanya naik mengikuti inflasi, bahkan bisa lebih tinggi.

Kembali ke soal stok emas, posisi kelima diduduki Perancis dengan 2.435,4 ton emas setara dengan 68,2% cadangan devisanya. China, salah satu negara yang tengah ekspansif memburu logam mulia untuk mendiversifikasi devisanya dari dolar, menyimpan 1.054,1 ton di bank sentral. Dan, itu hanya setara 1,6% dari keseluruhan cadangan devisanya. Rasio yang masih rendah ini mengindikasikan akan adanya tindakan luar biasa dari bank sentral China dengan mengeruk emas dari berbagai belahan dunia. Rasio 1,6% jelas tidak aman, apalagi di tengah gejolak ekonomi dunia di mana dolar–China tercatat sebagai pemegang terbesar obligasi AS–bisa saja jatuh dan menjadi kurang bernilai, juga pada mata uang euro di mana negeri Tirai Bambu mengoleksi surat utang dari benua biru.

Tempat ke tujuh dikuasai Switzerland yang memegang 1.040,1 ton emas, setara 17,3% cadangan devisa. Negara ini, dalam dunia finansial, terkenal karena mata uangnya menjadi salah satu safe haven. Namun, beberapa pekan lalu bank sentralnya telah mematok level tertinggi atas euro, guna menghindari apresiasi yang terlalu tinggi. Tingginya nilai franc justru dianggap merugikan ekonomi dalam negeri yang mengandalkan produk ekspor.

Nah, tentu anda penasaran kan di nomor berapakah Indonesia yang konon memiliki gunug emas di Papua dan Batu Hijau, Newmont? Eits, sebelum ke Indonesia, ternyata Filipina memiliki cadangan emas yang lebih besar loh. Mereka menempati urutan 23 dengan 158 ton emas yang setara 11% dari cadangan devisanya.

Oya, sebelum ke soal Indonesia, perlu dicatat bahwa rasio cadangan emas dengan devisa negara di ambil dengan menghargai emas $1.628,50 per troy ounce, harga pada Juli lalu. Jadi, rasio itu bisa naik apabila harga emas juga naik, kecuali ada kondisi tertentu. Satu troy ounce itu setara dengan 31,1 gram, jadi silakan konversikan dengan nila rupiah yang sedang anjlok.

Ternyata, di Asia Tenggara, Thailand menempati nomor urut 25 dengan 127,5 ton, tapi itu hanya setara 3,6% dari devisanya. Duh, belum aman tuh negeri Gajah Putih. Kabarnya Thailand bersama beberapa negara seperti Meksiko, Korea Selatan, Filipina, China, India, dan lain lain sedang memburu emas. Tapi, sekarang IMF sudah membatasi berapa maksimal sebuah bank sentral boleh membeli emas.

Di bawah Thailand ada Singapura dengan 127,4 ton emas, rasionya di bawah 3%. Teman, ternyata di luar kepemilikan bank sentral Singapura, negara kecil ini juga jadi tempat penyimpanan emas oleh sektor swasta. Menurut berita ini, di dekat bandara Changi terdapat kubah berlapis baja tempat tumpukan emas disimpan. Kebayang nggak senengnya paman Gober melihat tumpukan logam kuning ini? Nah, baru setelah Singapura, untuk kawasan Asia Tenggara, ada Indonesia dengan 73,1 ton, setara 3,0% cadangan devisanya. Di urutan dunia, RI menempati nomor absen 38. Lumayan kan yah, di atas Malaysia yang nangkring di kursi nomor 48 dengan cadangan emas 36,4 ton, atau hanya 1,4% dari cadangan devisa.

Ehm, sejatinya berapa sih rasio yang bagus bagi sebuah bank sentral untuk menyimpan cadangan emas? Ada yang bilang sekitar 70%, ya seperti yang di AS itu lah. So, kalaupun negara AS bubar atau paling sedikit nilai dolarnya turun, mereka masih punya cadangan emas yang bisa jadi mata uang. Logam ini sudah jadi mata uang ribuan tahun, tidak kenal batas negara, ras, agama, dan lain-lain. Kalau AS hancur, dolar kan tidak laku, tapi emas tetap saja laku, karena tidak perlu UU untuk mencetaknya.




Tahu tidak negara mana yang rasio kepemilikan emasnya paling tinggi? Saya sendiri tidak menduga bahwa 2 negara yang sedang bermasalah secara finansial di Eropa memiliki rasio yang paling tinggi. Yup, betul sekali,




Portugal dan Yunani yang masing-masing dengan rasio 88% dan 80%. So, kalau mereka terancam gagl bayar, kenapa sih tidak mau jual emasnya untuk bayar utang? Orang waras juga tahu, kalau utang mereka direstrukturisasi kan tidak perlu bayar ke kreditur, alias boleh ngemplang. So, emasnya utuh dong… bisa digunakan untuk membangun negara yang hancur karena krisis. Oya, ternyata Yunani itu tercatat sebagai negara gagal bayar utang pertama dalam sejarah, tepatnya 24 abad lampau ketika 10 polis ngemplang pada sebuah kuil. Bayangin, 10 negara kota ngutang ke sebuah kuil! Caileeee, kaya juga ya rumah dewa itu. Ngumpulin uang dari jemaahnya kali ya… ngedarin kotak amal gitu.




Ehm, namun, kawan, semua ifo di atas bisa jadi salah. Kenapa coba? Yup, karena seharusnya Indonesia di urutan nomor satu! Percaya enggak?! Bukan, bukan karena gunung emas yang diambil freeport dan nwmont, tapi di Jogjakarta ada cadangan emas yang luar biasa banyaknya! Atau katakanlah di sebagian besar Jawa Dwipa… Emas itu berkliaran di mana-mana, ada yang narik becak, nyupir bus kota, nyangkul di sawah… Loh, kok bisa? Ya itulah Mas Joko, Mas Joni, Mas Sempilun, Mas Djumadi, Mas-mas yang lain juga banyak.




Okelah, ini saja dulu info enggak pentingnya…




Sumber info datanya dari Dewan Emas Dunia yang didapat secara valid dari IMF.