1/14/2011

Puisi sambil lalu

Berpuisi itu kegiatan sambil lalu. Sambil mengingat yang lalu-lalu, mengaktualkan kenangan, menyegarkan ungkapan. Karena menjadi kegiatan sambil lalui, puisi lahir sebagai pelepas dahaga dari rutinitas, dari ribut-pelik kehidupan yang seperti tidak pernah mau berhenti menghampiri manusia. Kegiatan sambil lalu potensial melahirkan ide-ide segar yang tidak terikat pada norma, pada status quo, pada kekuasaan, pada lingkaran yang menyesatkan (banyak masalah manusia berkutat pada masalah itu sendiri dan tidak pernah mencapai jalan keluar).

Berpuisi sebagai kegiatan sambil lalu tidak pernah jadi beban, malah menerbangkan kita kepada yang mustahil dan mustahal dicapai dalam keadaan normal. Kalau puisi menjadi kegiatan serius, maka puisi tak lebih dari alat agitasi politik. Yang serius adalah pemikirannya. Yang serius adalah kesungguhan manusianya. Sedangkan puisi menjadi saluran tidak boleh terjerembab dalam keseriusan yang sama. Puisi cinta harus lepas dari keseriusan cinta, tanpa meninggalkan kesungguhan dalam memberi makna pada percintaan. Itulah caranya lepas dari klise kata-kata cinta.

Sebagai kegiatan sambil lalu, berpuisi lahir untuk memberontak dari kebiasaan-kebiasaan, keluar dari jangkauan sifat kekanak-kanakan namun tidak lepas dari proses permainan.

Oh, ini semua hanya sambil lalu. Dan itu hanya sebuah pilihan proses kreatif. Proses yang saya anggap sedang saya jalani.

Mengapa kita perlu berpuisi sambil lalu? Karena yang serius hanya dilakukan kritikus dan politikus. Keduanya adalah mahluk serius, meski yang mereka pikir serius itu hanya permainan, atau lebih parah hanya sebuah main-main. Sedangkan para penulis puisi menulis dengan permainan, dengan main-main, atas hal-hal serius, agar hal serius bisa keluar dari penjara logika yang dibangun manusia dengan batu-batu paradigma dan semen apologika.

Kawan, puisi bukanlah hal serius, dan hampir tidak pernah menjadi barang serius kecuali diletakkan di depan kritikus. Kita pasti belajar dari para penyair sekejap, penyair yang dari dalam hatinya berniat berpuisi tapi dari luar tampak sebagai pemikir, bahwa puisi-puisi serius kerap lebih konyol daripada berita pencopetan. Sebab, para penyair yang berpuisi dengan serius, dengan kata-kata realis yang membosankan, sejatinya adalah politikus kalau bukan kritikus. Sebab, hanya politkus yang menganggap kata-katanya serius. Hanya kritikus yang merasa ucpannya patas diseriusi. Dan kita, kita!, tidak pernah mengaggap serius para politikus dan kritikus.

Kita!, berpuisi sambil lalu. Berpuisi sambil menembang. Berpuisi sambil mencangkul ladang. Berpuisi sambil berak. Berpuisi sambil minum kopi. Kita berpuisi sambil lalu, sambil menyelesaikan dunia yang berputar.

Ada semacam kekosongan yang diciptakan oleh keseriusan manusia mengatasi masalah sehari-hari. Para politikus menganggap peran mereka seperti peran pahlawan komik, seolah aksi-aksi mereka dianggap serius oleh semua orang. Seolah, kalau sebuah kejahatan diatasi dengan tendangan maut, si penjahat akan keluar dari kotak panel lembar komik dan jadilah pahlawan itu sendiri terpampang di sana sambil mengumandangkan adagium picisan, “Kebenaran selalu menang!”Padahal, penulis komik sedang mentertawi si pahlawan dan mengatakan, ini hanya komik yang dihidupi tinta dan cerita; pahlawan tidak pernah jadi tokoh utama, meski komik itu diberi judul “Superman!”, “Spiderman”, “Batman!” Pahlawan sesungguhnya adalah imajinasi komikus.

Dan, disitulah harusnya kita, pera penyair paruh waktu yang berpuisi sambil lalu. Kita adalah imajinasi yang melakukan segala sesuatu dengan suka-suka, seperti seorang komikus menciptakan pahlawan dan mentertawainya.

1/12/2011

kapitalis

Belajar ekonomi kapitalis sangat tidak mudah. Sebetulnya, aku juga gamang karena latar belakangku yang tidak banyak bersentuhan dengan ilmu ekonomi. Aku lebih banyak belajar ilmu-ilmu sosial dan politik, itupun dalam kadar yang tidak mendalam.

Orang sudah mahfum bahwa mempelajari ekonomi kapitalis sama sekali tidak identik menjadi kapitalis. Karl Mark adalah komunis yang begitu giat menulis tentang kapitalisme. Jadi, mempelajari kapitalisme tidak perlu ketertarikan untuk menjadi kapitalis. Jadi, seharusnya, meski aku juga bisa mempelajari ekonomi kapitalis dengan sungguh-sungguh tanpa perlu memandang latar belakang. Rasanya jadi konyol kalau kita berpikir bahwa kita tidak cocok mempelajari sesuatu hanya karena kita menilai latar belakang kita tidak sesuai dengan apa yang kita pelajari. Justru, pada mereka yang belajar dari titik nol itulah hal-hal baru muncul. Ya kan? Karl Mark menginspirasi Marxisme, sekalipun Mark tidak marxis.

Pembelajaran menjadi sulit karena aku tidak memiliki kebiasaan belajar yang kuat. Aku mudah sekali terbawa angin, belajar sekadar mengikuti perasaan ingin belajar, membaca sekadar memenuhi hasrat membaca, dan mengaji sekadar membunuh keinginan mengaji. Mungkin, belajar sekadar membunuh keinginan belajar itulah yang selama ini aku lakukan. Aku tidak membangun kebiasaan penting seperti membuat perencanaan bahan kajian dan orientasi belajar. Mungkin, di sekolah atau di kampus, kita merasa menjadi seorang pembelajar hanya karena kita tekun masuk kelas dan mengerjakan tugas. Bahkan kita seolah-olah bersemangat mempelajari hal-hal baru yang diberikan para guru. Padahal, kita hanya hendak membunuh keinginan belajar dengan menyelesaikan pembelajaran itu dengan menyelesaikan tugas-tugas kecil.

Dan, di situlah aku. Menjadi seorang pembelajar amatir. Hal itu terdengar menyedihkan. Tapi, aku tidak bisa menolak kenyataan kecil yang telah membunuh semangat pembelajar. Kini, di sebuah kantor koran ekonomi, aku terkepung harapan kosong yang sama.

1/10/2011

pikiran ruwet, itu aku!

Pikiranku memang ruwet. itu kenyataan yang tidak kuingkari. Seruwet apa? Itu yang tidak aku ketahui.

Kadang aku percaya bahwa persoalan berpikir juga persoalan tubuh. Orang cina bilang, sakit lambung akan membuat pikiran orang tidak bisa fokus. Mungkin itu terjadi padaku. Sebagai orang kantoran yang mesti fokus pada kerjaannya itu suatu masalah. Karena itu aku merasa jauh lebih menikmati saat-saat aku tidak punya banyak hal di code.

aku kadang terlalu memikirkan masalah-masalah kecil dan lupa dengan masalah-masalah besar, meski definisi keduanya sama-sama tidak jelas. Acap aku tidak paham dengan apa yang sebtulnya aku lakukan, aku terlalu sering melamun. Kadanga aku tidak sadar ketika shalat, tiba-tiba sudah selesai. Kadang aku meragukan bahwa aku telah shalat. Ya, padahal itu shalat jemaah. Bagaimana tubuhku bekerja mengikuti gerakan iman tapi aku lupa telah melakukan semua itu? mungkin karena shalat hanya jadi sebuah kebiasaan dan bukan sebuah ibadah.

Aku pun gampang bosan dan berganti-ganti fokus, ganti-ganti hobi, ganti-ganti tema tulisan padahal baru menyelesiakan satu paragraf, dan suka sekali ganti bahan bacaan meski baru membaca satu halaman. Kukira karena aku tidak memiliki arah yang jelas. Kalaupun ada arah yang jelas, kadang aku tidak sadar sudah berjalan ke arah yang berbeda.

Kupikir memang sulit untuk menjadi seorang yang tekun. Itu seperti karakter. Aku tidak bisa membangunnya dalam semalam.

1/01/2011

Kita orang-orang aktual

kita ini orang-orang aktual
hidup mengikuti tanggal
kegiatan di-status-kan
caci maki di-twiter-kan
nah, kalau tidak buka fesbuk, badan terasa meriang
kalau tidak reply twit teman, tangan pegal tak karuan
bangun tidur pengin ngintip status mantan
kucek-kucek mata sambil menulis pesan
cerita kalau semalam bermimpi ketemu irfan
lagi nendang bola tidak masuk gawang
mandi pagi sambil gosok-gosok gituan,
bukan maksud jorok atau tak sopan,
tapi semalam ketemu kenalan
di dunia maya mereka serasa di taman
ah, kita memang orang-orang aktual
baca berita pun hanya sempat judul dan sensasinya doang
sambil sarapan tangan menggenggam hape yang bisa internetan
biar bisa bilang ke semua teman, "gue lagi sarapan!"

Kasur untuk Wulan di Malam Tahun Baru


12940197741840053647
photo by nanang

Akhirnya, kasur untuk Wulan dan Ningsih dan Fa’i sudah dibeli. Ayah fai yang jadi penyapu jalan di jogja tampak gembira. Sekarang, Wulan dan Ningsih tidak bakal kedinginan tidur di pengungsian.
Enam tahun lalu kami mengenal keluarga Fa’I bertepatan dengan kepindahan kami ke jogoyudan. Ningsih masih ingusan dan belum lancer bicara, masih malu bertemu orang. Sedangkan wulan sudah bisa menggambar dan mulai menulis. Sedangkan Fa’I lebih suka dibacakan cerita atau main teka-teki.
mereka tinggal di tepi sungai code, tempat yang sesuai dengan kemampuan mereka dalam menyewa tempat tinggal. Meski kontrakan itu hanya sebuah kamar besar untuk lima orang, yang menjadikannya tampak sesak, namun tidak pernah terdengar keluhan mengenai sempitnya tempat tinggal mereka.
Ketika banjir besar bulan lalu melanda code dan merendam jogoyudan dengan pasir merapi, kami sudah tidak lagi di jogja. Kami hanya mendapat kabar dari teman-teman di sana mengenai hebatnya kerusakan. Beberapa rumah hancur dan banyak yang tidak bisa ditinggali lagi.
Banjir itu merusak sebagian besar harta benda, dan juga peralatan dan perlengkapan sekolah anak-anak. Padahal, beberapa hari kemudian mereka harus mengikuti ujian semester.
Telah beberapa pekan mereka tinggal di pengungsian karena rumah kontrakan mereka yang berjarak sekitar limapuluh meter dari sungai code tidak bisa lagi ditinggali. Pun dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Beruntung kalau ada keluarga yang menampung atau mampu membayar kontrakan baru. Sedangkan bagi keluarga fai, bisa berteduh di pengungsian saja perlu disyukuri.
Hingga hari ini, beberapa keluarga masih mengungsi, termasuk keluarga Fa’i. Teman kami yang menyempatkan diri ke jogja beberapa hari lalu berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk mencarikan rumah kontrakan, agar anak-anak tidak tersiksa tidur di pengungsian.
Sayang, karena permintaan rumah kontrakan baru sangat banyak akibat bencana, harganya pun ikut naik. Karena uang yang terkumpul tidak mencukupi, maka kami mesti cari strategi lain. Dan, salah satunya dengan membeli kasur untuk Wulan dan Ningsih, adik Fa’i.  Hari ini teman kami sudah membawakan kasur itu, mengangkutnya dengan sepeda onthel. Semoga, di malam tahun baru ini mereka tidak kedinginan lagi karena tidur di atas tikar.
(Tadinya mau menampilkan foto kasur untuk Wulan, tapi kok tidak bisa memasukkan gambar dalam tulisan ini ya)


12940198051211474801
nanang membawa kasur dengan onthel

Kabar dari Novi

Aku dan anak-anak berjalan beriring, diikuti mae di belakang. Kami berjalan dari perempatan gramedia ke jogoyudan, melewati bilangan kotabaru, kawasan perumahan ekspatriat belanda. Banyak rumah dari jaman belanda masih berdiri. Kawasan kotabaru memang kawasan paling tertata di jogja. Jalan-jalannya rapi dan bersih meski tidak lebar. Semua rumah memiliki halaman yang cukup luas untuk bermain seluruh keluarga, kecuali perkantoran.
Hari itu aku sedang praktik fotografi untuk ujian semester. Seharian menemani anak-anak di jalan sambil memotret aktivitas mereka. Aku sengaja mengambil tema kehidupan evi, novi, lia dan keluarga sebagai tema dalam esai foto sebab aku dekat dengan mereka. Saban malam aku menemani anak-anak belajar di kotrakan kami di tepi kali. Kukira aku mendapat banyak momen fotografi bagus, terutama dengan evi yang selalu tampak kumal.
Sepulang dari jalan itulah tanganku digigit novi secara tiba-tiba, tanpa alasan. Novi pernah jadi anak kesayangan mae, tapi di tahun-tahun terakhir semuanya sama saja, terutama setelah evi pergi. Sikap mae keras pada semua anak. Tapi, sikap itu kerap disembunyikan dariku. Mae kerap besikap manis kalau aku ada di sana. Ia kerap memerintahkan hal-hal yang sifatnya religius pada anak-anaknya. Kami sadar sikap itu tidak datang tiba-tiba. Keluarga mae sendiri ibarat perahu retak yang ditinggal seorang nakodanya. Mae menjanda dan harus menghidupi ke tujuh anaknya ditambah satu keponakan.
Hingga beberapa hari yang lalu dia pergi dari rumah, seperti kepergian tiap anak yang mencari dunia, dunia yang tidak bisa kita terjemahkan sebagai masyarakat. Dunia bagi mereka bukanlah dunia bagi kami yang bisa menikmati sekolah dan bekerja di tempat yang bersih dan makan dengan tekun tiga kali sehari. Bahkan, cita-cita mereka mungkin tidak pernah terbayangkan untuk seorang dewasa macam kita. Pernah kudengar dahulu ketika bertanya kepada angga mengenai keinginannya setelah dewasa dan dia hanya mengatakan akan jadi tukang gresek alias pemulung.
Tak ada yang istimewa dari semua anak mae, sama seperti orang melarat lainnya mereka agak kekurangan gizi dan tidak sempat membaca buku. Sebagian menjadi binal secara alami mengikuti kehendak lingkungan. Sebagian mencoba menjadi normal dan gagal.
Dua anak yang kecil setidaknya bertahan sebagai murid kelas satu selama beberapa tahun. Yang pertama karena keliarannya sedang yang kedua karena ketidakpeduliannya. Oki telah merintis perjuangan hidup di jalan setelah ia lulus tk. Sedangkan adiknya, angga, menampilkan sikap keras yang berbeda, seolah tidak peduli pada hal-hal penting, seolah dia sudah memikirkan secara tuntas mengenai hidup.
Anak-anak yang hidup keras sering lebih cepat dewasa daripada anak-anak yang hidup dalam dekapan dua orangtua yang membiayai hidupnya. Mereka yang sejak kecil harus menafkahi diri sendiri mungkin sudah tahu bahwa orang-orang kaya di sekitarnya hanya orang lewat yang perlu diminta recehannya. Mereka mungkin sudah membangun kesadaran mengenai kecil dan tidak bergunanya diri mereka. Sikap inferioritas ini sering kutemukan kalau mereka kuajak bergaul dengan anak-anak dari kelompok atau kelas ekonomi lain. Sikap ceria mereka jadi surut, mereka akan bersembunyi di balik tubuh kami dan mengatakan tidak betah di sana karena malu dengan anak-anak yang lain yang terlihat sebagai anak-anak orang berpunya. Sulit rasanya mengubah sikap inferioritas mereka, sebab saban menit mereka sudah hidup dalam kesadaran akan kerendahdirian.
Anak-anak ini jauh lebih senang bergaul dengan sesamanya, dengan kelompok-kelompok yang tidak dianggap seperti komunitas anak jalanan yang sering mengindetifikasi dirinya sebagai kelompok punk. Mereka seolah lebih menghargai anak-anak dari kelas pinggiran dibanding orang-orang kaya yang berserakan di sekitra mereka.
Dan tampaknya demikian dengan novi, anak yang sekarang kira-kira 14 tahun umurnya, yang memutuskan lari dari rumah dan menjadi dewasa bersama komunitas punk jalanan. Ini hidup mesti diperjuangkan sendiri, mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Dahulu, manakala ia baru kelas tiga sd, aku sempat menangkap satu keinginannya yang luar biasa. Malam sehabis ia dan adik-adiknya mencari uang di jalan, aku menyempatkan diri menonton tv di rumah mae. Ini memang kebiasaanku karena di kontrakan kami tidak ada tv. Kadang sembari mengajari mereka mengerjakan pr, atau kalau sedang ada tayangan sepakbola. Malam itu novi terlelap. Tinggal aku, nanang dan wendi yang masih menonton bola.
Dalam tidurnya, tiba-tiba novi ngelindur. Dia berujar dengan suara jelas, “Tuhan, carikanlah kami orangtua asuh.” Mungkin tuhan berkehendak lain, karena hingga kudengar kabar mengenai novi, ia tak pernah mendapat orangtua asuh. Mungkin karena suara dari rumah-rumah lusuh itu tidak terdengar keluar, hanya serupa gumpalan di dalam jiwa kemiskinan abadi mereka.
Kami beberapa kali membiacarakan mengenai mengambil anak-anak mae, namun tidak pernah bisa, kecuali kasus oki yang bertahan 3 bulan jadi anak asuhku. Bahkan, untuk ida yang bukan anak kandung mae saja kami kesulitan untuk memisahkannya. Meski pada akhirnya kami bersyukur ida minggal dari rumah dan bertemu dengan pakde-nya. Dan sekarang, novi sudah memutuskan jalannya sendiri, jalan seorang manusia, bukan jalan seorang anak-anak. Ia meninggalkan rumah beberapa minggu lalu. Bukannya tanpa kabar, tidak juga menghilang begitu saja. Tapi novi kecil (dulu) memutuskan menjadi dewasa di umurnya yang masih kurang dari 14 tahun.
Novi masih sempat berkabar beberapa hari lalu ke mae lewat "mak, suk aku mulih,tp 2 hari thok. soale aku saiki mbut gae.suk nek prei tak mulih2 meneh."
Kami sebagai orang-orang dekatnya kadang gundah sendiri. Menemukan dan menjemput novi tentu bisa, namun kami tidak bisa menjamin dia bisa bertahan satu atap dengan kemarahan mae.
Kepergian novi itu terjadi di tengah kegundahan jogoyudan yang terendam pasir akibat lahar dingin merapi.12940200391943360069
31/12/2010 18:47