9/29/2010

1 Mobil 1 Orang

Geli juga baca pojok Kompas hari ini “Laju kendaraan di Jakarta pada 2011 secepat orang jalan kaki. Mendingan gowes, sehat, gratis lagi.” dan pagi ini saya juga mengalami kemacetan, seperti biasalah sehingga saya tertidur di atas bus. waktu membuka mata, ternyata bus belum sampai juga, dan di luar mobil2 berebut jalan. setelah diamat-amati, sebagian besar mobil hanya berisi satu orang saja.

jadi, saya bersyukur atas kemacetan ini agar mereka tahu rasanya. tapi, setelah tengok ke kiri, di dalam bus, ternyata sesak oleh penumpang. panas, gerah dan penuh bau aneka ragam. hm, jadi, ternyata satu bus ini diisi puluhan orang berdesakan, tanpa pendingin udara, tanpa kipas angin, hanya ditemani kesabaran jadi manusia kebanyakan (keanyakan miskin). kalau dibandingkan yang di dalam mobil pribadi, tentu berbeda jauh. dari bentuk luar saja sudah beda kelas. yang satu menyerupai rongsokan besi berjalan, yang lainnya masih mulus kempling-kempling. yang satu sesak dipenuhi orang-orang, sudah tidak peduli soal pelecehan atau soal muhrim atau bukan, semuanya berdesak-desakan di dalam satu bus kotak sambil mengangkat tangan ke pegangan besi, yang otomatis menebar parfum maut. sedang yang di mobil, sekalipun macet juga, tidak berkeringat sedikit pun.

9/27/2010

Mengapa Tak Boleh Masuk Sekolah Hari Ini?

Luka di kaki Nug masih belum kering. Tapi, sudah dua hari ia tak masuk sekolah. Karena itu, matanya yang bening menampilkan satu semangat untuk menahan sakit dan pergi sekolah. Sambil menahan sakit, dikenakannya kaos kaki. Simbah membantu menyiapkan buku-bukunya. Sedang Simak menyisir rambut agar si Nug terlihat ganteng. Mata keduanya menampak kemiripan, sipit dan bening. Di depan rumah, di atas sungai, Rez sedang asyik berak sambil memainkan air.

Tiga hari lalu, Nug keserempet motor. Kakinya hanya lecet, tapi benturan itu menyebabkan kakinya sakit. Mungkin luka di dalam yang menyebabkan biru lebam.

“Nak iseh loro yo mbok ra sah mlebu sek to nug!” Simbah sudah merapikan semua buku. Dia menyiapkan uang jajan si Nug.

“Wegah Mbah. Ketinggalan pelajaran ki ra penak jhe.”

SD Gondolayu itu jaraknya tak sampai satu kilometer. Meski masih terasa sakit, si Nug berjalan dengan semangat, mata beningnya siap menyambut pelajaran apapun pagi ini. Saat bel masuk berbunyi, si Nug sudah siap, duduk manis. tiba-tiba, pak Guru memanggil si Nug ke depan.

“Kono mulih wae, nek ra mlebu sekolah kok ra tau nggawe surat ijin”

“Lha pak, aku wingi loro e…”

“Nak loro ki yo gawe surat ijin. Ora gur wingi, sak durung e lha yo ra tau nggawe surat ijin to. Kuwi jenenge mbolos. Nak ra niat sekolah, ra sah sekolah sisan.”

Si Nug keluar kelas dengan lesu. Dia tertatih-tatih pulang ke rumah. Dia bingung, Simbah dan Simak tidak bisa menulis, apalagi membuat surat ijin. Bapaknya pun sama saja. Sedang kakaknya, SD pun tak tamat.

9/22/2010

Orang Miskin Tidak Boleh Punya HaPe?

Saya tergelitik dengan beberapa komentar maupun tulisan mengenai pengamen, pengemis, dll yang memegang hape (atau sejenis itulah). Hal itu juga dikaitkan dengan kepedulian orang atas angka kemiskinan di negara ini yang tetap besar. Lalu, orang bertanya, di mana miskinnya?

Ya, meski yang mereka lihat hanya sebagian dari sekian juta orang miskin, mungkin memang perlulah kita bertanya tentang apakah “miskin” dalam komentar macam itu? Dahulu, denger-denger, hape itu memang dipegang orang miskin yang tidak punya rumah, yang otomatis tidak bisa mendaftar sambungan telepon. Tapi, sekarang kan jelas berbeda, apalagi di Indonesia. Kalau di negara kaya, orang yang masuk kategori miskin masih masih punya tempat tinggal, sekalipun disubsidi pemerintah, atau dikasi fasilitas tertentu seperti “tunjangan.” Mereka kadang juga punya kendaraan, dan masih saja digolongkan orang miskin oleh negaranya karena kriterianya memang lain. Sedangkan di negara ini, bisa makan di atas Rp 7.000/ hari sudah tidak miskin. Jadi, memang kalau parameternya BPS, orang pegang hape, meski hape malingan atau second murahan, sudah tidak termasuk miskin. Hm, tapi apa ya kita mau manut sama hitung2anya BPS? Kalau dipikir dengan sederhana, 7.000 rupiah sehari bisa makan apa? Nasi lauk batu?! Atau, sebenarnya sudah rasional? Berasnya raskin dengan kulitas bulukan alias berkutu, lauknya cicak goreng dan tongseng kadal, hmmmm nikmaaat!

Soal hape, di indonesia sekarang sudah bisa jadi benda murah, terutama yang second atau hasil curian. Jadi, orang punya hape tidak serta merta dikategorikan sebagai kaya. Orang tidak punya hape juga tidak bisa langsung ditunjuk hidung sebagai orang miskin. Jadi, sungguh konyol kalau kita dengan mudah menuduh, “miskin kok punya hape!” (Yah, tapi terserah cara orang menilai, sih, toh mereka kan cuma menilai, tidak mengubah apapun.)

9/21/2010

Miskin Kalau Makan di Bawah Rp5.000/Hari

Menurut suatu kabar, Badan Pusat Statistik (BPS) mengisahkan kepada Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai kategori orang miskin di Indonesia. Menurut BPS, orang yang makan dengan biaya di bawah Rp5.000 per hari tergolong miskin. Secara nasional, BPS menyebut orang miskin itu apabila dalam memenuhi kebutuhan makanan dan minuman serta non makanan di bawah Rp212 ribu per bulan per orang atau sekitar Rp7.000 per orang per hari. Namun, tidak setiap daerah dinilai dengan parameter yang sama. Misalnya untuk DKI Jakarta, orang akan disebut miskin apabila hanya mampu memenuhi kebutuhan per bulannya di bawah Rp331 ribu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebesar Rp278 ribu, Riau (Rp256 ribu), Bangka Belitung (Rp286 ribu), Kepulauan Riau (Rp300 ribuan), dan Jawa Tengah sebesar Rp192 ribu.

Kemiskinan, menurut yang wikipedia, adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Jadi, apa yang dikatakan BPS itu baru satu indikator dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Di palajaran ekonomi SD sendiri sudah disebutkan bahwa kebutuhan poko atau primer meliputi tiga hal, makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Kemiskinan juga masih dibagi lagi ke dalam kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Lalu, ilmuwan sosial juga telah menemukan berbagai penyebab kemiskinan, yang dikategorikan lagi ke dalam penyebab individual, penyebab keluarga, penyebab sub-kultur, penyebab agensi, dan penyebab struktural. Pokoknya akan semakin panjang kalau kita mau merunutnya.

Kita juga bisa berbicara kemiskinan dari persepsi si orang miskin sendiri, yang tentu sangat jarang menjadi suatu kutipan dalam tulisan-tulisan mengenai kemiskinan itu sendiri. Orang miskin, sekalipun mampu berpidato 24 jam tanpa makan, tetap tidak bisa banyak berbicara atas namanya sendiri. Biasanya mereka akan digunakan dalam kampanye-kampanye, bukan hanya partai tapi juga dalam rangka mencari donor. Orang miskin juga biasanya tidak berpendidikan memadai. Pendidikan jelas dimaknai sebagai sekolah (dan ini adalah kekejian).

Pendidikan (baca: sekolah) dianggap menjadi elevator agar orang miskin terangkat, sekalipun yang disekolahkan adalah anak-anaknya orang miskin. Sekalipun sekolah adalah lembaga yang kurang berkembang selama puluhan tahun, terutama di Indonesia, namun harapan itu jelas masih besar. Sekolah biasanya juga mengajarkan mengenai harapan-harapan lepas dari kemiskinan, yaitu dengan berpegang pada fungsi ijazah sebagai alat melamar pekerjaan, sekalipun jutaan petani (sebagai sebuah profesi yang juga memungkinan orang untuk kaya) tidak memerlukan ijazah, bahkan tidak perlu melamar pekerjaan sebagai petani. Namun, memang profesi petani adalah profesi yang dianggap memiskinkan karena penuh dengan tekanan, terutama untuk buruh tani yang tak memiliki lahan sendiri. Dan peda kenyataannya banyak petani memang miskin, sekalipun banyak petani juga bisa kaya, bisa menyekolahkan anak-anaknya, bisa naik haji, dan sebagainya. Profesi petani sebagai hal yang kurang menjanjikan, selain diajarkan oleh kenyataan juga dikuatkan oleh sekolah-sekolah kita. Sekolah-sekolah selalu mendorong orang untuk berubah menjadi kaya dengan profesi-profesi yang menjanjikan; kerja kantoran, PNS, di perusahaan-perusahaan asing, dan sebagainya. Dan, pada kenyataanya memang demikian, bahwa mereka yang beranjak dari miskin ke sejahtera kebanyakan bekerja di luar pertanian. Yah, sekalipun tidak sedikit yang kaya dari bertani. Tapi, sudahlah… mungkin itu juga tidak penting.

Hm, setelah mengetahui bahwa batas orang miskin di Indonesia begitu rendah, makan dengan biaya di bawah Rp5.000, jelas cukup diragukan jumlah data orang miskin di Indonesia. Menurut BPS kemiskinan di Indonesia mencapai 13,35 persen atau sebanyak 31 juta orang.

Saya tidak mempermasalahkan validitas data BPS, sekalipun banyak diragukan. Namun, marilah kita lihat bahwa standar yang dikeluarkan BPS itu justru merendahkan diri sendiri. Mengapakah kita mengukur diri dengan standar yang begitu rendah? Sekalipun logika angka Rp5.000/hari sudah ditemukan dengan gilang gemilang oleh BPS, saya rasa itu hanya lelucon di tengah tuntutan dunia global yang makin tinggi terhadap standar-standar hidup. BPS baru menakar dari segi makan, belum lagi sekolah dan kesehatan. Sekolah pun masih bisa direkayasa mengingat kualitas lembaga pendidikan di negeri ini. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kelulusan UN, bukan keberhasilan mengentaskan individu “bodoh” kepada individu cerdas. Dalam diri sekolah pun masih banyak “rekayasa,” dimana kecerdasan orang dihitung dengan angka-angka yang mungkin diciptakan puluhan tahun lalu. Sekolah-sekolah diklasifikasi lagi sebagai sekolah unggulan, sekolah inter…, sekolah bla bla bla…. mereka membanggakan lulusannya, sekalipun yang cerdas bukanlah sekolahnya, melainkan muridnya yang sejak masuk memang sudah cukup cerdas. Mengapakah sekolah jadi wajib, sedangkan pendidikan tidak?

9/18/2010

Lebaran di Code, Tapa Romo Mangun


Mengutip sebuah tulisan, dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115). Hm, lebaran memang sudah identik dengan kebaruan, makan-makan dan minum-minum. Sedangkan di Indonesia, lebaran juga identik dengan mudik.

Banyak momen terkumpul dalam satu kata, “lebaran.” Tahun ini, untuk pertama kalinya saya mengalami mudik ke Jawa (meski Jakarta juga bagian dari Jawa). Jawa di sini dimaksudkan sebagai kultur, atau sederhananya kampung halaman. Namun, kali ini saya tak menaruh minat pada rumah. Saya justru mudik ke Kampung Code, Yogyakarta. Di sana tak ada saudara, tak ada nenek, tak ada orang tua atau adik-kakak. Beberapa orang menilai cara saya berlebaran ini aneh.

“betapa sulit menuliskan rinduku, untukmu,…” kata penyair Bahaudin. Kata-kata itu mengena ketika saya mesti memberikan sekilas alasan apa perlunya saya berlebaran di Code, dimana tiada sana saudara di sana. Dalam rangka itu saya pun berani mengabaikan orangtua di rumah, sebuah keberanian yang mungkin konyol. Sulit mengatakan seberapa rindu saya pada Code yang telah menjadi bagian dari kehidupanku. Saya juga tak bisa mengatakan seberapa dekat saya dengan manusia-manusianya, dengan dinamikanya, dengan pergulatan hidupnya. Saya sendiri mendaku sebagai “wong code” yang sering sobo kali atau main di sungai. Selama beberapa tahun, saya selalu berlebaran di Code, dan itu yang membuat saya merindukan momen-momen masa lalunya. Sebelum lebaran, sebulan penuh, saya mesti bergulat dengan “rusuhnya” anak-anak di masjid Kalimosodo. Masjid di tepi sungai itu juga bagian dari pengalaman batin di masa lalu. Saya sendiri hadir di sana sebagai bukan apa-apa. Saya tak seujung jari pengabdian Romomangun, Pak Willy, dan sebenarnya banyak tokoh-tokoh lain. Biasanya tokoh-tokoh itu, yang sesunguhnya sangat berperan, juga redam oleh sosok Romomangun. Redam dalam arti tertutup oleh kebesaran nama romo cum arsitek dan sastrawan ini. Apalagi saya, anak kemarin sore yang terbuang di Code karena tak mampu membayar kost di Yogya.

9/06/2010

Gerimis dan CD Bajakan

pagi ini gerimis menyambut langkahku keluar rumah. hm, senang sekali menerima gerimis ini. waktu turun dari bis, gerimis juga mengawalku sampai depan kantor. ia tak boleh masuk, nanti dimarahi pak satpam. maka ia boleh terus bermain di luar. dari tempat dudukku, aku melihat gerimis bermain-main dengan gedung-gedung, dengan daun di kejauhan, dengan atap-atap rumah. gerimis selalu menyenangkan, terutama untuk sebuah kehidupan yang mulai monoton. aku ingat seorang teman, yang mencintai gerimis. dia akan meminjam sepedaku dan bermain-main di bawah gerimis. menurutnya, bersepeda di bawah gerimis itu puitis, sekalipun di dalamnya tidak ada kata-kata. gerimis bagi matanya adalah sebuah pelangi yang teruntai panjang, sebuah jembatan warna-warnai menuju nirvana. gerimis untukku adalah improvisasi, seperti lagu jazz yang mencari jatidiri pelantunnya. dan pagi ini, jason mraz dari cd bajakan membawa gerimis yang kurang-lebih cukup untuk membuat hariku berbeda. hmm, terutama karena ini dari cd bajakan! burning bridges….

gerimis jadi hujan. mengetuk-ngetuk jendela kaca, mengalirkan titik-titik air ke pusat gravitasi. hujan di bulan september. sebuah improvisasi yang mulai jamak, meski sebenarnya baru kualami tahun ini. kebanyakan orang juga tak peduli tentang betapa anehnya musim kali ini. bagi sebagian yang lain mungkin sudah cukup jelas ke mana arah improvisasi alam ini. dunia sudah berubah sejak lama, dan sekarang hanyalah satu titik di mana kita akan menikmati kehancuran lebih cepat daripada seluruh perkiraan ilmiah. sementara para penyair membuat sajak di bawah gerimis bulan juni, kini kita menikmati saat-saat tokoh perempuan dalam dalam sajak itu menangis. kita akan menikmati, menghitung waktu mundur kepada sebuah fase kehancuran. dan kita akan masih berkubang dengan masalah-masalah kecil seputar pembangunan gedung dpr dan sebuah perbatasan yang diperebutkan.

9/02/2010

waktu

“Jam berpa?”

“Kenapa memangnya?”

“Hanya nanya. Nggak boleh?”

“Boleh. Tapi tak perlu sinis begitu.”

“Siapa yang sinis? Cuma nanya kok. Kalau memang tak boleh nanya, ya nggak apa-apa”

“Boleh! Siapa bilang tak boleh nanya? Situ saja yang sentimen.”

“Lho kok bisa. Saya kan cuma nanya, jam berapa? Memangnya tidak boleh? Boleh, kamu bilang. Ya, kalau boleh kan tidak apa-apa, tinggal dijawab.”

“Lha, situ nanyanya kok jadi panjang begitu. Nanya biasa saja memang tidak bisa apa?”

“Bisa. Saya kan nanyanya biasa. Lalu situ yang reaksinya over gitu. Apa saya salah? Cuma nanya jam berapa kok.”

“Ya enggak salah, tapi ya nggak usah diperpanjang begitu dong. Masa saya yang ditanya jadi seperti didebat begini. Memangnya situ nggak marah kalau ada yang nanya jam berapa trus malah jadi perdebatan?”

“Ya marah. Tapi kan situ juga yang mulai.”

“Kok saya? Kan situ dulu yang mulai nanya jam berapa? Gimana sih?”

“Ya, kan saya cuma nanya jam berapa. Terus kok situ pake sinis-sinis segala. Apa itu enggak nyinggung perasaan? Coba dong situ di posisi saya!”

“Lha, saya kan cuma nanya balik, memang kenapa kok nanya jam?”

“Saya kan hanya nanya jam berapa.”

“Dan saya cuma balik bertanya, memangnya kenapa?”

“Lha situ belum jawab, jam berapa?”

“Lha, mana tahu saya jam berapa sekarang. Saya nggak bawa jam.”

“…. Bilang kek dari tadi kalau nggak bawa jam! Bikin emosi saja!”

“Lho kok emosi. Wong situ yang nanya, kok situ yang emosi. Mestinya saya dong yang emosi! Saya kan yang ditanya-tanya nggak jelas.”

“Nggak jelas gimana? Pertanyaan saya sudah jelas, Jam berapa.”

“Dan saya tidak bawa jam!”

“Ya kalau nggak bawa jam, jawab dong dari tadi!”

“Gimana mau jawab, wong saya nggak bawa jam!”

“Aduuuuuh. Sialan!”

“Wah, kok situ memaki?”

“Heh… ada apa ini, ribut saja! Kalau mau lihat jam, itu di belakangmu kan toko jam!”