6/25/2010

Buku Hanyalah Benda-Benda


Barangkali sudah sangat biasa kita mendengar orang berkata bahwa buku adalah guru yang baik, yang tak bisa marah pada muridnya. Buku sebagai guru, bagi saya adalah ungkapan tak memiliki makna, kosong, dan malah menjadikan buku seperti mahluk yang kolot karena asosiasi kita pada sosok guru yang terlalu normatif dan selalu ingin menegakkan aturan sekolah. Meskipun, makna guru sejatinya tidaklah seburuk itu, itu hanya berlaku bagi guru sebagai sebuah profesi, sebuah pekerjaan yang dilembagakan bersama yang namanya sekolah. Sekolah pun sejatinya tidak perlu dipandang sebagai institusi pula, sebab kalau demikian yang terjadi, kita hanya akan berada jauh di belakang.

Buku hanya akan jadi guru bagi mereka yang bersedia menjadi murid. Sebagaimana alam akan jadi guru untuk para manusia yang mengambil hikmah/pelajaran darinya. Dan, tak setiap makna di dalam buku sama adanya dengan yang kita tangkap dari pembacaan. Kesediaan kita menjadi murid dari buku tidaklah sama dengan transfer pengetahuan. Murid belajar bukan untuk meniru gurunya, bukan untuk menjadi bayangan dari gurunya, bukan untuk mewarisi ilmu. Murid haruslah seorang manusia bebas yang berkembang dari kreativitas. Makna murid di sini bukan murid dalam pengertian umum, melainkan murid dalam makna penulis sendiri.

6/04/2010

Sungai Hitam


Saya termasuk orang baru di Jakarta, kota metropolitan yang dikaruniai kegiatan bisnis luar biasa. Sebelum ke Jakarta, sudah banyak kawan-kawan yang berbicara dengan nada negatif tentang Jakarta, bahkan oleh mereka yang sudah lebih dahulu menambah padat ibukota. Banyak yang bilang, Jakarta itu kurang manusiawi; macetnya, manusianya yang egois, biaya hidupnya, banjirnya, bahasanya, wilayah pinggirannya, dan lain-lain.

Saya sendiri sempat meragukan kemampuan adaptasi saya. Maklum, selama di Jogja saya lebih banyak menghabiskan waktu di antara komunitas Code, yang meski miskin dan kurang berpendidikan tapi mereka sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Orang jadi sulit kalau mau hidup menyendiri di sana. Memang ada sosok-sosok cerdas yang sekolahnya tinggi malah kesulitan bergaul dan memilih membatasi diri dalam bergaul dengan orang-orang Code lain. Di sana, masyarakat cukup permisif terhadap berbagai perilaku dan kebiasaan, tak aneh kalau komunitas waria, misalnya, justru merasa mendapat tempat di daerah sekitar Code.