GUMPALAN -- Setelah masa dua periode, maka Presiden Joko Widodo tidak bakal mencalonkan diri lagi pada pemilihan Presiden 2024. Tanpa sosok inkumban, maka kini menarik dicermati siapa saja yang akan mencalonkan diri menjadi Capres dan Cawapres 2024.

Ada banyak nama menarik yang tentu potensial, dari gubernur hingga menteri yang kini membantu Jokowi. Tak ketinggala politikus senayan. Yang jelas, mereka harus punya kendaraan atau dukungan dari politik. Hal itu menggarisbawahi bahwa partai politiklah yang akan menentukan kontestan mana yang akan bertarung di Pilpres 2024.

Nama-nama seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah, atau Kofifah cukup menarik. Mereka adalah gubernur yang didukung partai.

Sementara itu, Anies Baswedan semakin gamang posisinya setelah Gerindra bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi. Bahkan di posisinya yang sekarang saja, Anies sudah jadi sasaran tembak berbagai penjuru. Satu-satunya partai yang masih setia di belakangnya hanya PKS.

Nama lain yang patut jadi perhatian adalah Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem. Melihat prestasinya membesarkan Nasdem membuatnya cukup diperhitungkan. Kalaupun bukan dia sendiri yang maju, maka Paloh patut diperhatikan ke mana akan memberikan dukungan.

Baru-baru ini Surya Paloh berkunjung ke PKS, yang bisa menjadi sinyal. Walaupun belum jelas juga, apakah sinyal Pilkada 2020 atau Pilpres 2024.

Lalu, ada satu pasang—ya sudah satu pasang—yang akhir-akhir ini mencuat. Prabowo Subianto-Puan Maharani. Kita tahu bahwa sejatinya Gerindra dan PDIP itu amat dekat. Megawati dan Prabowo secara politik lebih dekat, daripada ke Partai Demokrat (yang seolah sedang kehilangan jati diri).

Prabowo-Puan jelas pasangan yang mendapat dukungan politik kuat dari dua partai di lingkaran kekuasaan. Keduanya juga punya jatah kursi DPR yang besar. Kemungkinan dua partai ini bergabung dalam koalisi Pilpres 2024 amat besar, selama Prabowo masih jadi Ketua Umum.

Mengapa demikian, padahal dua kali mereka bermusuhan? Karena ini adalah politik, tidak ada lawan abadi. Lawan abadi itu mungkin hanya terjadi antara Megawati vs Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ini Bisa terlihat bagaimana Demokrat mendekat ke Jokowi, tapi tetap saja gagal masuk koalisi, karena tak bisa mengambil hati Megawati.

Ya, sang konduktor politik masih Megawati.

Nasdem kemungkinan akan jadi lawan politik PDIP pada 2024. Kita paham dengan ambisi Surya Paloh, ayah dari Partai Nasdem. Kepiawaiannya telah terbukti pada pemilu legislatif lalu, dan dalam Pilkada serentak. Dengan kekuatan jaringan dan strateginya, Paloh harus punya lebih banyak peran dalam menentukan siapa kontestan Pilpres 2024.

Ia masih punya Anies Baswedan. Ya, Anies juga pendiri ormas Nasdem sebelum berubah jadi partai politik. Jika melihat kans Anies, maka wajar jika Paloh kemudian mendekati PKS untuk kemungkinan mendorong Anies melawan kubu PDIP-Gerindra.

Lagian, Prabowo tidak akan didukung lagi oleh kalangan muslim perkotaan seperti terjadi pada Pilpres 2019. Muslim perkotaan yang punya afiliasi dengan PKS, eks-HTI, ataupun Muhammadiyah akan cenderung mendukung Anies daripada Prabowo.

Kenapa? Dukungan mereka sebenarnya bukan pada sosok Prabowo, melainkan lebih sebagai upaya melawan kubu PDIP yang mengusung Jokowi. Memang klise dan cenderung sesat pikir jika menyatakan bahwa PDIP musuh dari kalangan muslim perkotaan, namun voter meang begitu. 

Pilkada DKI dan Pilpres 2019 membuktikan bahwa kalangan ini emosinya labil, sehingga mudah dikendalikan oleh kepentingan yang mengatasnamakan agama. Persoalannya, mereka sendiri tidak punya tokoh kuat.

Politikus PKS, bagi mereka, kurang punya taji atau elektabilitas jika harus maju bertarung dalam kontestasi sebesar Pilpres di Indonesia. Kelompok NU adalah antitesis yang amat kuat dan berpengaruh. NU dan PKS cenderung bersebrangan, walaupun banyak juga orang NU di partai itu. Citra PKS yang tampak seperti pendukung Wahabi jadi sesuatu yang kurang disukai. Faktanya, mungkin tidak demikian.

Maka, Pilpres 2024 mungkin saja terjadi Pertarungan Anies vs Prabowo.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama