12/19/2018

Perumahan Islami


Gumpalan -- Indonesia adalah negara yang mayoritas pendudukan dari kalangan beragama Islam, atau muslim. Terutama di daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan beberapa pulau lainnya. Hanya sedikit pulau yang mayoritas warganya beragama selain itu, misalnya Bali yang mayoritas Hindu dan Papua yang mayoritas Nasrani.

Namun, sebagai kelompok minoritas, terutama di Ibu Kota, banyak juga muslim yang merasa jadi minoritas. Meminoritaskan diri ini banyak sekali terlihat, terutama dalam narasi politik Tanah Air blakangan ini yang banyak menggunakan terminologi agama sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan.

Agama sebagai kendaraan politik bukan hal baru, malahan sesuatu yang sejak lama dilakukan dalam perdaban manusia, jauh sebelum periode kenabian Muhammad SAW. Agama adalah instrumen yang sangat efektif untuk menaklukkan individu dalam sebuah kekuasaan. Itulah kenapa pemuka agama mendapat posisi sangat tinggi, bukan hanya bagi rakyat jelata, tetapi juga bagi penguasa.

Anda bisa menemukan kajian ini dalam banyak buku, untuk sementara ini kita kembali kepada kondisi aktual di Indonesia. Selain isu-isu bahwa muslim diminoritaskan, walaupun pada faktanya itu hanyalah pertarungan 'politik'. Kita menyebut politik tak hanya sebatas perebutan kursi presiden dan DPR atau partai, ya, namun juga dalam terminologi ekonomi.

Kesadaran untuk meminoritaskan diri itu juga tampak dalam bisnis perumahan, di mana mulai banyak bermunculakn klaster atau perumahan yang menggunakan nama Islam, seperti perumahan islami, perumahan dengan memakai bahasa Arab dan ditambah embel-embel syariah, dan sebagainya.

Kenapa itu bisa disebut upaya meminoritaskan diri? Karena kita bisa melihat bahwa embel-embel Islam dalam nama kampung sudah dipakai lama. Misalnya Kampung Islam, Kampung Jawa, Pecinan, atau berbagai nama suku lain yang kerap kita jumpai. Di Banyuwangi ada Kampung Mandar dan Kampung Arab.

Penggunaan nama suku, ras, atau daerah itu menandakan bahwa mereka adalah kelompok minoritas yang menghuni suatu kawasan, di tengah mayoritas. Misalnya tak ada Kampung Bali di Bali, adanya Kampung Bali pasti di luar Bali.

Ketika Perumahan Islami muncul di Jabodetabek, otomatis kita jadi bertanya-tanya, apakah sebetulnya mayoritas orang Jabodetabek itu Kristen, Hindu, Buddha, atau apa... Atau asumsinya, di luar perumahan itu mayoritas tidak Islami, ya kan.

Maka terbaca dengan jelas, bahwa terminologi Islami yang mereka gunakan secara tidak sadar membawa mereka ke dalam upaya untuk meminoritaskan diri. Apakah ini berbahaya? Bagi saya ada bahayanya. Lebih dari sekadar meminoritaskan diri, membawa nama-nama seperti itu seperti upaya untuk membuat dinding pembatas, atau memenjarakan diri dalam lingkup yang kecil.

Padahal, hubungan sesama manusia dalam Islam diakui sangat penting, dan karena itu diatur dalam kitan suci. Walaupun tidak ada larangan sama sekali memberikan nama Islami, atau nama-nama Arab. Boleh-boleh saja menggunakan nama Arab, sama seperti para pengembang menggunakan nama dari bahasa Inggris. Keduanya untuk jualan.

Nah, dalam konteks jualan tidak ada persoalan. Tapi lebih dalam dari itu, ada sesuatu yang diterjemahkan secara keliru.

0 komentar:

Posting Komentar