Imajinasi Adalah Tanda Sebenarnya Kecerdasan, Tapi Kenapa ...


Di kelas-kelas yang mengajarkan soal entrepreneurship atau kewirausahaan kerap kita mendengar dua kata yang jadi mantra; kreativitas dan inovasi. Tambah sering didengar manakala dikaitkan dengan pertumbuhan bisnis masa kini yang lebih banyak berbasis pengetahuan dibandingkan sumber daya alam.

Namun, entah karena terlalu sering didengungkan atau karena tidak mengakar hingga dua hal itu sering sekadar jadi jargon. Apalagi, sebagian dari kita sempat ‘kehilangan’ kreativitas lantaran sistem pendidikan yang terlalu banyak menekankan hafalan dan ujian, bukan pada proses.

Kreativitas dan inovasi bisa muncul secara autentik dari proses berpikir kritis yang sejatinya adalah hal alamiah. Coba Anda perhatikan anak-anak kecil ketika mengajukan pertanyaan, sering kritis dan kadang tidak terduga. Orang tua yang merasa tak bisa menjawab justru kerap ‘membungkam’ mereka dengan teguran.

Jika lingkungan rumah dan sekolah menjadi sumber pembungkaman atas daya nalar kritis anak-anak maka tak heran ketika dewasa mereka kesulitan mengembangkan kreativitas dan miskin inovasi. Padahal, persaingan berbasis pengetahuan mutlak membutuhkan daya kreativitas dan inovasi.

Ada satu hal lagi yang menjadi akar dari kreativitas dan inovasi, yakni imajinasi. Seorang dosen pernah menyebut bahwa salah satu alasan mengapa banyak siswa Indonesia juara olimpiade ilmu eksak, tapi tak pernah satu pun kita mencatat punya peraih nobel, adalah karena anak-anak ketika dewasa kehilangan imajinasi. Mungkin akibat sistem pendidikan kita.

Oleh Albert Einstein imajinasi disebut sebagai tanda sebenarnya dari kecerdasan. Fisikawan yang jadi penemu teori relativitas itu dikenal punya imajinasi yang luar biasa, termasuk untuk melahirkan berbagai pengetahuan.

Imajinasi adalah karunia Tuhan pada manusia yang membantunya untuk berpikir dan membuat proyeksi. Pada awalnya, teknologi layar sentuh hanyalah imajinasi para penulis novel futuris yang menginspirasi periset di ruang-ruang lab, yang dikembangkan terus hingga era Steve Jobs yang membawa iPhone ke hadapan kita.

Imajinasi adanya sumber kehidupan di luar angkasa menginspirasi Elon Musk untuk mewujudkan mimpi manusia ekspansi ke Planet Mars. Anda boleh tak percaya bahwa era manusia ekspansi ke luar angkasa akan terwujud, tetapi dorongan untuk mewujudkan mimpi itu membuat SpaceX mampu membuat roket yang dapat dipakai berkali-kali.

Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX) adalah perusahaan transportasi luar angkasa besutan Musk yang membuat roket bisa kembali ke bumi dan dipakai ulang, bukannya meledak dan jadi serpihan. Dampaknya, selain membuat pengiriman manusia dan barang ke International Space Station lebih murah, juga membuka langkah baru kemungkinan ekspansi manusia ke planet selain Bumi.

Tanpa imajinasi, Wright (Orville dan Wilbur) bersaudara mungkin tak pernah melakukan ekperimen untuk terbang dan manusia tak pernah naik pesawat. Tanpa imajinasi, Michelangelo mungkin hanya jadi tukang batu, bukan seniman yang mengeluarkan patung David dari batu marmer.

Bagi wirausaha atau calon pengusaha, imajinasi adalah senjata yang akan membuat mereka punya diferensiasi.

Oleh karena itu, jangan takut berimajinasi. Kalau perlu bangsa Indonesia jadi bangsa yang imajinatif agar bisa melakukan lompatan-lompatan jauh ke depan.

Komentar