Kubalik-balik lagi lebaran buku, tak lagi kudapati nama kanak-kanak yang dulu ceria.

kupasang-pasangkan lagi puzzle yang tercecer di beranda, hilang sepasang mata yang menatap dengan bahagia.

kurapikan lebaran yang terbawa angin, dan kudapati mereka bermain-main di bawah pohon dengan sebotol anggur orang tua. siapa kamu?

tanya mereka padaku yang linglung dibuatnya.

aku tidak tahu.

mereka mengusirku seperti mengusir masa lalu; dan di lembaran itu kudapati gambar perempuan menangis memeluk bunga.

kenapa, tanyaku pada telinga.

aku dihilangkan dari peradaban, jawabnya.

nama kecilnya yuri, dengan dua gigi kelinci, menulis puisi dan satu-satunya puisi untuk ulang tahunku bertahun-tahun lalu.

matanya seperti rontok, punggungnya lelah diterpa angin kenyataan. kini aku diminta berhenti, katanya lirih, dari sekolah yang mulai sepi.

nama kecilnya yani, dengan sepasang lesung pipi, melukis sungai dan bulan bersamaan seperti menghidangkan masa depan.

jalannya terseok, entah di bagian dunia mana sekarang, selepas sekolah melepaskan ikatan.

anak-anak yang kurang ajar, kata sekolah, berhak pergi.

nama kecilnya wanti, melambai saban aku menyambangi bersama adiknya yang dipeluk nama jepi, menyanyikan lagu-lagu di kepalaku.

bicaranya kelam, suaranya hilang, entah ditelan kenyataan apalagi.

nama kecilnya meli, dengan tawa dan senyum yang selalu bertanya ketika aku bersepi di ujung hari, bergelayut seperti boneka lucu yang mewarnai kertas-kertasku.

entah di jilid berapa sekarang dia terkenang, rumahnya tenggelam dalam gundukan suram.

kubalik-balik lagi lembaran buku, ada terlalu banyak orang melupa pada masa lalu, hanya karena menganggapnya legam dan tak bisa digenggam.

tapi aku percaya, hanya orang yang berani mengenang yang suram yang tak takut pada waktu.
27 November 2011

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama