10/10/2011

, ,

Hati-hati berinvestasi forex


Keinginan untuk kaya seringkali membuat orang lupa etos kerja keras dan lebih memilih cara instan. Hal ini yang membuat orang gelap mata dalam memilih investasi.

Penggrebekan seminar forex atau perdagangan mata uang di salah satu hotel di Jakarta Barat oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi (Bappebti) (Bisnis.com, 08/10) bisa jadi contoh. Keinginan mendapat keuntungan besar, seringkali tidak diimbangi dengan pengetahuan soal risiko yang dihadapi.

Seminar itu diselenggarakan oleh perusahaan futures asal Singapura PowerUp Capital yang bekerja sama dengan event organizer nasional PT Vicniks International. Seminar bertajuk “Get Super Rich Trading Instant FX Profits” dibawakan oleh Kishore M.

Boleh saja para peserta atau panitia menyebut itu pelatihan atau edukasi soal perdagangan mata uang. Tapi, siapa sebenarnya Kishore?

Nama lengkapnya Mansinghani Kishore Mirchumal. Pria yang tinggal Singapura keturunan India ini adalah penulis buku "Retire Rich in 30 Days" dan pendiri PowerUp Capital.

Pada 19 November 2010, Otoritas Moneter Singapura ("MAS") mengeluarkan surat kepada Commerz Capital International Pte Ltd (milik Kishore) dan Mansinghani Kishore Mirchumal untuk segera berhenti membuat pernyataan palsu. 

Hal itu terkait iklan pada web www.commerzcapital.biz (saat ini sudah mati) yang menyatakan dirinya sebagai penasihat keuangan, atau manajer dana, padahal Kishore tidak memiliki lisensi dari otoritas terkait.

Kishore M yang dalam website PowerUp Capital dinyatakan pernah tampil di Bloomberg TV ini, menurut salah satu forum forex di dunia maya disebut-sebut sebagai  scam yang dapat diartikan membohongi atau menipu.

Perusahaan itu menjual sistem trading yang dinamakan “100% Accuracy Trading.” Seolah menjawab kehausan investor atas keinginan kaya cara instan, dia menawarkan pelipatgandaan uang dalam beberapa bulan trading.

Di Jakarta, Kishore telah menjadwalkan beberapa kali seminar bulan ini. Namun, entah bagaimana kelanjutannya setelah Bappebti membubarkan seminar yang dianggap ilegal karena tidak memegang izin dari regulator.

Masyaerakat, kata Kepala Biro Hukum Bappebti Alfons Samosir, harus berani mempertanyakan izin seminar forex yang diikuti. Sebab, penyelenggara yang tidak memiliki izin akan kena sanksi denda dan ancaman kurungan penjara.

Tommy Zhu, pelatih analisis teknis dan pricipal pada Investors Academy Indonesia, menuturkan bahwa masyarakat memang perlu curiga jika seorang trainer sudah mengatakan pasti untung. Baginya, tidak ada sistem trading yang sempurna. “Kalau memang pasti profit, kenapa harus repot-repot cari orang lain,” ujarnya.

Pada dasarnya, katanya, setiap orang lebih senang mendengarkan berita tentang keuntungan. Calon investor sering tidak suka bila mendengar pelatih menyatakan risiko demi risiko yang harus dihadapi. Padahal setiap investasi memiliki dua sisi, keuntungandan kerugian. Jangan mengharapkan selalu untung, tapi pikirkan bila ini rugi apakah Anda siap untuk menanggung.

“Kalau sudah dikatakan pasti-pasti-pasti, itu pasti ada yang tidak beres, karena tidak mungkin ada yang seperti itu,” katanya akhir pekan lalu. Dalam pengalamannya belasan tahun di pasar uang dan pasar modal banyak orang yang memang menggampangkan perdagangan berisiko itu.

Seringkali terjadi penyampaian dari penyedia produk kurang pas, sehingga calon investor mengira bahwa saham ataupun forex itu mudah dan gampang untung. “Tapi realitanya tidak mudah seperti itu.”

Untuk masuk ke investasi berisiko masyarakat perlu memiliki senjata yang cukup. Senjata yang paling dikenal orang hanya dua, fundamental dan teknikal. Padahal ada dua senjata lagi yang harus dikuasai, yakni manajeman atas uang (money management) dan disiplin. 

“Kalau harga bergejolak sedikit dia gampang stress, berarti itu overdosis. Berarti money management-nya lagi salah,” kata Tommy.

Jika seorang investor telah memiliki manajemen yang bagus, dia harus pula memiliki disiplin. Investor yang tidak disiplin, dicontohkan, ketika sudah memutuskan maksimal menggunakan 20% dari portofolio keuangannya tetapi melihat rekan-rekannya mendapat untung banyak, dia memutuskan melipatkan. Hasilnya, kata Tommy, seringkali tidak bagus.

Sebelum memutuskan pilihan investasi pun orang harus paham dengan karakter dirinya dalam menghadapi risiko. Tipe konservatif biasanya kurang berani mengambil risiko dan dananya tidak bisa untuk jangka panjang. Produk yang cocok untuk mereka terbatas misalnya deposito, obligasi yang jatuh tempo dalam waktu dekat, atau reksa dana pasar uang.

Tetapi, kalau orang yang agresif, jangka waktu yang panjang adalah senjata yang bisa digunakan untuk menghadapi fluktuasi pergerakan, misalnya pada saham dan mata uang yang termasuk high risk.

Kalau misalkan seorang yang konservatif ingin masuk ke produk yang agresif, degan risiko tinggi, maka satu-satnya cara adalah prosentasenya jangan terlalu besar.

Selain itu, jika Anda mau berinvestasi, harus dicek institusinya apakah terdaftar pada regulator. Di Indonesia terdapat dua lembaga pengayom, Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditas dan derivatif termasuk forex, dan Bappepam-LK untuk pasar modal. 

Calon investor juga harus mengecek jika diajak untuk buka rekening. “Cek juga nomer rekening terpisahnya berapa? Kalau misalkan setornya ke rekening yang lain, bukan rekening terpisah, nah ini juga ada yang salah,” ujar Tommy. Rekening terpisah ini adalah rekening yang khusus memenampung dana nasabah.

Dalam mengikuti seminar forex, peserta juga harus memastikan bahwa penyelenggara memiliki izin dari regulator.

So, kalau Anda mau berinvestasi, selain mengetahui karakter diri sendiri, juga harus memeriksa legalitas lembaga finansial yang menawarkan produk. Jangan sampai keinginan kaya secara instan membutakan insting bisnis Anda.


1 komentar: