Pikiranku memang ruwet. itu kenyataan yang tidak kuingkari. Seruwet apa? Itu yang tidak aku ketahui.

Kadang aku percaya bahwa persoalan berpikir juga persoalan tubuh. Orang cina bilang, sakit lambung akan membuat pikiran orang tidak bisa fokus. Mungkin itu terjadi padaku. Sebagai orang kantoran yang mesti fokus pada kerjaannya itu suatu masalah. Karena itu aku merasa jauh lebih menikmati saat-saat aku tidak punya banyak hal di code.

aku kadang terlalu memikirkan masalah-masalah kecil dan lupa dengan masalah-masalah besar, meski definisi keduanya sama-sama tidak jelas. Acap aku tidak paham dengan apa yang sebtulnya aku lakukan, aku terlalu sering melamun. Kadanga aku tidak sadar ketika shalat, tiba-tiba sudah selesai. Kadang aku meragukan bahwa aku telah shalat. Ya, padahal itu shalat jemaah. Bagaimana tubuhku bekerja mengikuti gerakan iman tapi aku lupa telah melakukan semua itu? mungkin karena shalat hanya jadi sebuah kebiasaan dan bukan sebuah ibadah.

Aku pun gampang bosan dan berganti-ganti fokus, ganti-ganti hobi, ganti-ganti tema tulisan padahal baru menyelesiakan satu paragraf, dan suka sekali ganti bahan bacaan meski baru membaca satu halaman. Kukira karena aku tidak memiliki arah yang jelas. Kalaupun ada arah yang jelas, kadang aku tidak sadar sudah berjalan ke arah yang berbeda.

Kupikir memang sulit untuk menjadi seorang yang tekun. Itu seperti karakter. Aku tidak bisa membangunnya dalam semalam.
Kadang aku berimajinasi bahwa sebetulnya aku ini seorang seniman. Karena itu aku mulai menulis sajak dan mengirimkannya ke koran, ke majalah, dan ke beberapa teman. Ada tabloid yang memuat dengan imbalan sebuah kaos, di waktu lain aku diberi seratus ribu potong pajak, atau mendapat wesel 50 ribu saat masih berbaju putih abu-abu. Aku juga menulis cerita-cerita. Cerita yang jelek dan yang tak berbentuk. Kadang aku merasa bangga bahwa di satu masa aku pernah menulis cerita dengan tulisan tangan dan dimuat sebuah tabloid anak-anak. Kupikir, jarang anak sma yang melakukan itu. dan waktu itu aku yakin aku bisa menjadi seorang motinggo busye dan menulis mengenai hal-hal mesum besanding dengan filsafat. Makanya aku mati-matian membaca filsafat dan sosiologi. Dan aku sudah akan berpindah buku sebelum bab satu selesai.

Waktu kuliah, aku berimajinasi menjadi seorang aktivis. Melakukan demonstrasi dan berteriak-teriak. Tapi aku takut kena sinar matahari. Takut kalau-kalau migreinku kumat, takut kulit terbakar, dan takut kelaparan di jalan. Makanya aku hanya sempat beberapa kali demo dan sekali mencoba orasi. Orasi tidak ada bedanya dengan onani. Puas sesaat, dan selesai di situ saja. Tidak ada kata ‘bersambung …’ setelah sebuah orasi dilakukan. Tidak ada yang hamil setelah onani selesai.

Aku ganti profesi jadi jurnalis gadungan. Jadi pencari berita sok-sokan yang menyambangi ruang dosen, menemui dekan, mengintip ruang rektorat, dan mencari-cari bukti keberadaan akbar tanjung di fisipol. Ah, jadi wartawan itu menyenangkan, seolah kita orang terpenting di dunia. Kita tahu yang akan terbit esok. Lalu aku juga bosan merasa jadi orang paling mengerti, bosan merasa pintar sendiri, sebab ternyata tidak ada yang paham kalau aku itu merasa pinter. Aku tetap tampak kurus kering tak terurus.

Maka aku lari ke tepi sungai. Menjadi aktivis sosial! Meski aku ini hanya akan jadi bukti ketidakseriusanku pada apa yang aku lakukan di bumi, tapi kupikir apa salahnya menjadi laki-laki sok baik selama beberapa tahun. Di sana aku bisa merasa jadi orang paling cerdas di antara anak-anak kecil yang baru saja lulus tk. itu disebut juga kebanggaan kecil, dimana sebuah kebanggaan tidak lebih sebagai perasaan takut kehilangan peran. Peran sebagai lakon figuran di sebuah dunia yang sesak oleh jutaan wajah dan topeng.

Sesungguhnya code tidak lebih dari sebuah halaman sempit tempat orang-orang paling tidak penting terdampar. Sebagian adalah perampok yang gagal membuka paksa jendela, sebagian yang lain hanya orang-orang yang tidak punya harga di antara gemerlap kehidupan kota jogja. Mati atau hidup seolah sama saja. Demikian juga dengan aku yang menikmati diri sebagai aktivis gadungan, aktivis liar tanpa afiliasi dan tanpa komitmen apa-apa. Tidak ada tanggungjawab yang mesti kuseselaikan dengan sempurna dan gemilang. Aku hanya perlu sudah melakukan sesuatu, lalu duduk dan melamun lagi.

Aku pindah ke jakarta dengan seolah-olah menyesal meninggalkan code. Padahal, aku telah berjanji akan meninggalkannya dan mencari kepentingan baru, mencari hal lain yang tidak membosankan. Hidup di satu tempat secara terus-menerus memang membosankan. Konsisten pada satu nilai juga kadang demikian. Kalau dulu aku belajar membenci kapitalisme, membenci ketidakadilan yang disebabkan oleh sistem ekonomi urakan, maka sekarang aku mati-matian belajar bagaimana sistem finansial bekerja. Sekarang, di mataku ekonomi kapitalisme menjadi sebuah benda menarik, sekalipun aku tidak terlalu tertarik. Tapi, setidaknya ini sangat jauh dari apa yang kurasakan dahulu. Dahulu aku adalah pembenci orang kaya, dan sekarang kuperiksa daftar orang-orang kaya dan kubaca bagaimana mereka bekerja. Ini dunia yang keras, pikirku sambil tersenyum pada bayangan seorang perempuan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama