1/12/2011

kapitalis

Belajar ekonomi kapitalis sangat tidak mudah. Sebetulnya, aku juga gamang karena latar belakangku yang tidak banyak bersentuhan dengan ilmu ekonomi. Aku lebih banyak belajar ilmu-ilmu sosial dan politik, itupun dalam kadar yang tidak mendalam.

Orang sudah mahfum bahwa mempelajari ekonomi kapitalis sama sekali tidak identik menjadi kapitalis. Karl Mark adalah komunis yang begitu giat menulis tentang kapitalisme. Jadi, mempelajari kapitalisme tidak perlu ketertarikan untuk menjadi kapitalis. Jadi, seharusnya, meski aku juga bisa mempelajari ekonomi kapitalis dengan sungguh-sungguh tanpa perlu memandang latar belakang. Rasanya jadi konyol kalau kita berpikir bahwa kita tidak cocok mempelajari sesuatu hanya karena kita menilai latar belakang kita tidak sesuai dengan apa yang kita pelajari. Justru, pada mereka yang belajar dari titik nol itulah hal-hal baru muncul. Ya kan? Karl Mark menginspirasi Marxisme, sekalipun Mark tidak marxis.

Pembelajaran menjadi sulit karena aku tidak memiliki kebiasaan belajar yang kuat. Aku mudah sekali terbawa angin, belajar sekadar mengikuti perasaan ingin belajar, membaca sekadar memenuhi hasrat membaca, dan mengaji sekadar membunuh keinginan mengaji. Mungkin, belajar sekadar membunuh keinginan belajar itulah yang selama ini aku lakukan. Aku tidak membangun kebiasaan penting seperti membuat perencanaan bahan kajian dan orientasi belajar. Mungkin, di sekolah atau di kampus, kita merasa menjadi seorang pembelajar hanya karena kita tekun masuk kelas dan mengerjakan tugas. Bahkan kita seolah-olah bersemangat mempelajari hal-hal baru yang diberikan para guru. Padahal, kita hanya hendak membunuh keinginan belajar dengan menyelesaikan pembelajaran itu dengan menyelesaikan tugas-tugas kecil.

Dan, di situlah aku. Menjadi seorang pembelajar amatir. Hal itu terdengar menyedihkan. Tapi, aku tidak bisa menolak kenyataan kecil yang telah membunuh semangat pembelajar. Kini, di sebuah kantor koran ekonomi, aku terkepung harapan kosong yang sama.

0 komentar:

Posting Komentar