Kasur untuk Wulan di Malam Tahun Baru


12940197741840053647
photo by nanang

Akhirnya, kasur untuk Wulan dan Ningsih dan Fa’i sudah dibeli. Ayah fai yang jadi penyapu jalan di jogja tampak gembira. Sekarang, Wulan dan Ningsih tidak bakal kedinginan tidur di pengungsian.
Enam tahun lalu kami mengenal keluarga Fa’I bertepatan dengan kepindahan kami ke jogoyudan. Ningsih masih ingusan dan belum lancer bicara, masih malu bertemu orang. Sedangkan wulan sudah bisa menggambar dan mulai menulis. Sedangkan Fa’I lebih suka dibacakan cerita atau main teka-teki.
mereka tinggal di tepi sungai code, tempat yang sesuai dengan kemampuan mereka dalam menyewa tempat tinggal. Meski kontrakan itu hanya sebuah kamar besar untuk lima orang, yang menjadikannya tampak sesak, namun tidak pernah terdengar keluhan mengenai sempitnya tempat tinggal mereka.
Ketika banjir besar bulan lalu melanda code dan merendam jogoyudan dengan pasir merapi, kami sudah tidak lagi di jogja. Kami hanya mendapat kabar dari teman-teman di sana mengenai hebatnya kerusakan. Beberapa rumah hancur dan banyak yang tidak bisa ditinggali lagi.
Banjir itu merusak sebagian besar harta benda, dan juga peralatan dan perlengkapan sekolah anak-anak. Padahal, beberapa hari kemudian mereka harus mengikuti ujian semester.
Telah beberapa pekan mereka tinggal di pengungsian karena rumah kontrakan mereka yang berjarak sekitar limapuluh meter dari sungai code tidak bisa lagi ditinggali. Pun dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Beruntung kalau ada keluarga yang menampung atau mampu membayar kontrakan baru. Sedangkan bagi keluarga fai, bisa berteduh di pengungsian saja perlu disyukuri.
Hingga hari ini, beberapa keluarga masih mengungsi, termasuk keluarga Fa’i. Teman kami yang menyempatkan diri ke jogja beberapa hari lalu berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk mencarikan rumah kontrakan, agar anak-anak tidak tersiksa tidur di pengungsian.
Sayang, karena permintaan rumah kontrakan baru sangat banyak akibat bencana, harganya pun ikut naik. Karena uang yang terkumpul tidak mencukupi, maka kami mesti cari strategi lain. Dan, salah satunya dengan membeli kasur untuk Wulan dan Ningsih, adik Fa’i.  Hari ini teman kami sudah membawakan kasur itu, mengangkutnya dengan sepeda onthel. Semoga, di malam tahun baru ini mereka tidak kedinginan lagi karena tidur di atas tikar.
(Tadinya mau menampilkan foto kasur untuk Wulan, tapi kok tidak bisa memasukkan gambar dalam tulisan ini ya)


12940198051211474801
nanang membawa kasur dengan onthel

Komentar