Kabar dari Novi

Aku dan anak-anak berjalan beriring, diikuti mae di belakang. Kami berjalan dari perempatan gramedia ke jogoyudan, melewati bilangan kotabaru, kawasan perumahan ekspatriat belanda. Banyak rumah dari jaman belanda masih berdiri. Kawasan kotabaru memang kawasan paling tertata di jogja. Jalan-jalannya rapi dan bersih meski tidak lebar. Semua rumah memiliki halaman yang cukup luas untuk bermain seluruh keluarga, kecuali perkantoran.
Hari itu aku sedang praktik fotografi untuk ujian semester. Seharian menemani anak-anak di jalan sambil memotret aktivitas mereka. Aku sengaja mengambil tema kehidupan evi, novi, lia dan keluarga sebagai tema dalam esai foto sebab aku dekat dengan mereka. Saban malam aku menemani anak-anak belajar di kotrakan kami di tepi kali. Kukira aku mendapat banyak momen fotografi bagus, terutama dengan evi yang selalu tampak kumal.
Sepulang dari jalan itulah tanganku digigit novi secara tiba-tiba, tanpa alasan. Novi pernah jadi anak kesayangan mae, tapi di tahun-tahun terakhir semuanya sama saja, terutama setelah evi pergi. Sikap mae keras pada semua anak. Tapi, sikap itu kerap disembunyikan dariku. Mae kerap besikap manis kalau aku ada di sana. Ia kerap memerintahkan hal-hal yang sifatnya religius pada anak-anaknya. Kami sadar sikap itu tidak datang tiba-tiba. Keluarga mae sendiri ibarat perahu retak yang ditinggal seorang nakodanya. Mae menjanda dan harus menghidupi ke tujuh anaknya ditambah satu keponakan.
Hingga beberapa hari yang lalu dia pergi dari rumah, seperti kepergian tiap anak yang mencari dunia, dunia yang tidak bisa kita terjemahkan sebagai masyarakat. Dunia bagi mereka bukanlah dunia bagi kami yang bisa menikmati sekolah dan bekerja di tempat yang bersih dan makan dengan tekun tiga kali sehari. Bahkan, cita-cita mereka mungkin tidak pernah terbayangkan untuk seorang dewasa macam kita. Pernah kudengar dahulu ketika bertanya kepada angga mengenai keinginannya setelah dewasa dan dia hanya mengatakan akan jadi tukang gresek alias pemulung.
Tak ada yang istimewa dari semua anak mae, sama seperti orang melarat lainnya mereka agak kekurangan gizi dan tidak sempat membaca buku. Sebagian menjadi binal secara alami mengikuti kehendak lingkungan. Sebagian mencoba menjadi normal dan gagal.
Dua anak yang kecil setidaknya bertahan sebagai murid kelas satu selama beberapa tahun. Yang pertama karena keliarannya sedang yang kedua karena ketidakpeduliannya. Oki telah merintis perjuangan hidup di jalan setelah ia lulus tk. Sedangkan adiknya, angga, menampilkan sikap keras yang berbeda, seolah tidak peduli pada hal-hal penting, seolah dia sudah memikirkan secara tuntas mengenai hidup.
Anak-anak yang hidup keras sering lebih cepat dewasa daripada anak-anak yang hidup dalam dekapan dua orangtua yang membiayai hidupnya. Mereka yang sejak kecil harus menafkahi diri sendiri mungkin sudah tahu bahwa orang-orang kaya di sekitarnya hanya orang lewat yang perlu diminta recehannya. Mereka mungkin sudah membangun kesadaran mengenai kecil dan tidak bergunanya diri mereka. Sikap inferioritas ini sering kutemukan kalau mereka kuajak bergaul dengan anak-anak dari kelompok atau kelas ekonomi lain. Sikap ceria mereka jadi surut, mereka akan bersembunyi di balik tubuh kami dan mengatakan tidak betah di sana karena malu dengan anak-anak yang lain yang terlihat sebagai anak-anak orang berpunya. Sulit rasanya mengubah sikap inferioritas mereka, sebab saban menit mereka sudah hidup dalam kesadaran akan kerendahdirian.
Anak-anak ini jauh lebih senang bergaul dengan sesamanya, dengan kelompok-kelompok yang tidak dianggap seperti komunitas anak jalanan yang sering mengindetifikasi dirinya sebagai kelompok punk. Mereka seolah lebih menghargai anak-anak dari kelas pinggiran dibanding orang-orang kaya yang berserakan di sekitra mereka.
Dan tampaknya demikian dengan novi, anak yang sekarang kira-kira 14 tahun umurnya, yang memutuskan lari dari rumah dan menjadi dewasa bersama komunitas punk jalanan. Ini hidup mesti diperjuangkan sendiri, mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Dahulu, manakala ia baru kelas tiga sd, aku sempat menangkap satu keinginannya yang luar biasa. Malam sehabis ia dan adik-adiknya mencari uang di jalan, aku menyempatkan diri menonton tv di rumah mae. Ini memang kebiasaanku karena di kontrakan kami tidak ada tv. Kadang sembari mengajari mereka mengerjakan pr, atau kalau sedang ada tayangan sepakbola. Malam itu novi terlelap. Tinggal aku, nanang dan wendi yang masih menonton bola.
Dalam tidurnya, tiba-tiba novi ngelindur. Dia berujar dengan suara jelas, “Tuhan, carikanlah kami orangtua asuh.” Mungkin tuhan berkehendak lain, karena hingga kudengar kabar mengenai novi, ia tak pernah mendapat orangtua asuh. Mungkin karena suara dari rumah-rumah lusuh itu tidak terdengar keluar, hanya serupa gumpalan di dalam jiwa kemiskinan abadi mereka.
Kami beberapa kali membiacarakan mengenai mengambil anak-anak mae, namun tidak pernah bisa, kecuali kasus oki yang bertahan 3 bulan jadi anak asuhku. Bahkan, untuk ida yang bukan anak kandung mae saja kami kesulitan untuk memisahkannya. Meski pada akhirnya kami bersyukur ida minggal dari rumah dan bertemu dengan pakde-nya. Dan sekarang, novi sudah memutuskan jalannya sendiri, jalan seorang manusia, bukan jalan seorang anak-anak. Ia meninggalkan rumah beberapa minggu lalu. Bukannya tanpa kabar, tidak juga menghilang begitu saja. Tapi novi kecil (dulu) memutuskan menjadi dewasa di umurnya yang masih kurang dari 14 tahun.
Novi masih sempat berkabar beberapa hari lalu ke mae lewat "mak, suk aku mulih,tp 2 hari thok. soale aku saiki mbut gae.suk nek prei tak mulih2 meneh."
Kami sebagai orang-orang dekatnya kadang gundah sendiri. Menemukan dan menjemput novi tentu bisa, namun kami tidak bisa menjamin dia bisa bertahan satu atap dengan kemarahan mae.
Kepergian novi itu terjadi di tengah kegundahan jogoyudan yang terendam pasir akibat lahar dingin merapi.12940200391943360069
31/12/2010 18:47

Komentar