11/16/2010

Tiga Ton Membusuk di Kepalaku!

Aku datang kepada malam dengan kepala tertunduk, menangkap langkah kaki yang menyaruk trotoar, aspal, lapisan semen, dan segala hal selain tanah. Berat kepalaku seperti tiga ton ikan busuk yang diangkut dengan kapal tongkang, segalanya hampir tenggelam. 
Beginikah aku mengakhiri segalanya?
Maksudku, aku hidup seperti mencari fase kehancuran yang tepat dengan segala kesengsaraan khas orang-orang sepertiku. Waktu telah merampas mimpi-mimpi dan tibalah kenyataan yang sesungguhnya, selalu seperti ini? Aku bekerja keras untuk tetap miskin dan jelata, tetap malu pada dunia. Padahal, dulu aku terlalu optimis untuk menjadi tentara, menjadi dokter, juga menteri pariwisata. Aku sekolah mati-matian hanya untuk dikeluarkan karena orang perlu uang untuk bertahan di kursi yang jelek dan hampir patah kakinya. Kurasa aku masih terlalu muda untuk menyesal. Dan harga cita-cita semakin mahal saja. 
Yah, hingga akhirnya aku membawa tiga ton ikan busuk di kepalaku ini. 
Sebenarnya aku cukup cerdas untuk terus menemukan tempat yang layak untuk seorang manusia. Maksudku, di negara Indonesia yang agak aneh ini, menjadi sedikit kaya dan memiliki kelayakan hidup adalah sesuatu yang tinggi dan berharga. Itu sudah kupikirkan jauh hari, tentang bagaimana kelak aku sekolah hingga sarjana dan dapat gelar, segala macamnya itu, dan bekerja seperti orang-orang di televisi, dan dunia seolah tuntas. Tapi, bahkan aku didepak sebelum anak paling nakal di sekolah itu diskors. Aku dipecat. Maksudku, sekolah ini menolak anak yang tidak punya uang, padahal kupikir ini sekolah paling murah. 
Oh, itu sudah cukup lama terjadi dan di kepalaku yang busuk tidak sedang berpikir tentang sekolah. Aku sudah melupakan bertahun-tahun lalu, yeah, meski aku masih membawanya ke manapun aku hendak menyesal. Aku bilang pada Alpa, teman sekelas, maksudku kelas proletar paling melarat di kota ini, “Kalaupun aku menyesal hari ini, setidaknya besok kita bisa berusaha untuk lupa bagaimana kita sama-sama tidak sekolah dan mulai mengais sampah-sampah busuk.” Sebenarnya ia tidak terlalu mengerti kata-kata cerdas, tapi aku selalu menganggap orang lain pasti senang kita ajak bicara walau mereka tidak tahu sama sekali apa yang kita katakan. “Karena kita hanya memerlukan uang dan uang untuk berubah total, dan bukan pikiran.”
Dan ia menyolot cepat, “Jangan berpikir pendek macam itu. Kau bisa punya anak dan menyalurkan semua penyesalan pada mereka. Sekolah, uang, itu bisa saja kita berikan pada anak.” Dan ia berkata yang lain-lain lagi yang pada dasarnya tidak berguna, aneh dan membuatmu ingin mengakhiri pembicaraan konyol dua orang melarat. Dia selalu menekankan bahwa meski uang lebih dihormati daripada kepintaran, orang perlu pintar dan lain-lain… yang agak menambah bau busuk di kepalaku. 
Sekarang aku tidak muak lagi. Aku hanya seperti membawa tiga ton ikan busuk di kepalaku. Ikan-ikan itu dari seluruh usahaku. Dan kalian pasti pernah mendengar orang-orang sukses yang sebelumnya bekerja mati-matian untuk memperoleh posisi ini itu, yang semuanya dilebih-lebihkan. Aku berusaha mati-matian dan hampir mati beneran dengan tiga ton membusuk di kepala. 
Maksudku, itu semua hanya kiasan, karena mungkin sebagian besar kalian kurang cerdas menangkap kata-kataku. Dan, secara kasar, jumlah yang seperti orang cerdas tapi polesan belaka itulah yang jadi dua ton ikan busuk; ini semacam rasa hormat pada uang tadi. Begini, kalian harus tahu bagaimana sebenarnya sikapku pada orang-orang seperti Alpa, bahwa aku sangat menyanyagi mereka dan selama ini usahaku tidaklah kecil untuk membuat mereka benar-benar cerdas, hingga aku sadar bahwa akhirnya itu semua omong kosongku sendiri. Alpa telah punya istri yang tidak jelek dan bisa hamil, bahkan untuk ke tiga kalinya dalam hidupnya. Istrinya ini sama kurang memadai pikirannya dengan suaminya. Maksudku, mereka ini susah benar menghidupi dua anak yang bengisnya minta ampun kalau sudah melihat mainan baru di pasar atau di pedagang keliling, tapi mereka masih juga bikin anak lagi. 
Dan, ini yang lebih penting dan merupakan satu ton ikan busuk di kepalaku, istrinya Alpa di rumah sakit untuk mempertanggungjawabkan sembilan bulannya itu. Padahal, sebelumnya tidak perlu, kata Alpa juga. Dukun saja sudah cukup, atau menurutku sebenarnya bidan desa atau puskesmas, atau tetangga cekatan saja, seperti dua anaknya yang lain dulu itu lahir. Rumah sakit bikin mengkerut segalanya, perutnya juga wajah-wajah miskin jelatanya. 
Sudahlah, aku sudah habis-habisan berpikir tentang itu dan persoalanku pada dua juta rupiah untuk membuat sebuah pintu agar istrinya Alpa dan anak ketiganya keluar dari rumah sakit. Lalu, yang busuk, Alpa telah menjual rumah kami, kursi-kursi, papan tulis, dan segalanya. Ia jual tahun-tahunku yang panjang. Itu tempat orang-orang sepertiku dan Alpa belajar jadi tambah cerdas. Maksudku, kadang-kadang orang miskin jelata pingin bisa memahami cara orang-orang jadi menteri pendidikan, jadi dokter, jadi pengawai bank, jadi manajer, dan entah berantah itu. Lalu orang-orang yang gigih seperti Alpa bikin sekolah, maksudku tempat orang miskin ngaso dan belajar lagi dari awal tentang abc tetek bengek, dan aku yang ngajar mulai dari anak-anak hingga yang mau mati. Dan, Alpa jual rumah itu, maksudnya bangunan hampir tumbang itu, yang tanpa sertifikat atau apalah namanya. Itu memang haknya, dia yang bikin dan dia yang paling mengerti bagaimana tiang-tiangnya bisa tegak, tapi aku sama sekali kurang memahami kekurangcerdasan yang dihasilkan oleh istrinya itu. 
“Kita dapat memakai rumahku saja, toh luas untuk berkumpul. Atau di halaman dekat jembatan itu. Papan tulis dan buku-buku masih banyak.” Alasannya terlalu banyak. 
Kalau aku ketemu dengan istrinya lagi, kelak, bisa-bisa aku perkosa dia karena bau ikan busuk di kepalaku ini. Untung saja, aku tidak akan kembali ke sana, biar mereka seperti tahun-tahun yang jauh dulu, tahun-tahun tanpa kecerdasan. 
Sudah malam waktu kupikirkan semua itu. Aku tidak berhenti berjalan selama berpikir dan merasa lapar, tapi aku perlu uang untuk makan. Aku tinggalkan segalanya, kupikir baik juga meninggalkan rasa lapar. Ternyata memang terlalu sulit, bahkan tidak mungkin membiarkan rasa lapar sendirian di dalam perut sana. Kita semua perlu uang, bukan? Tapi, aku hanya butuh makan. 
Nah, waktu aku coba untuk mengamen di jalan, baru sejam kira-kira, aku diciduk satpol pamong praja yang garangnya bikin aku mengkeret. Jadi aku nurut saja waktu diajak naik mobil, daripada disetrum seperti anak-anak punk yang sok melawan itu, siapa tahu di panti nanti dikasi makan. Benar saja, kami dikasi nasi dan sayur, hanya memang agak mengenaskan bahwa nasi dan sayurnya agak lengket, seperti busuk. Aku didata, tapi aku sudah melupakan ditanya apa tadi, selain nama, kartu penduduk, asal, dan sekolah! Aku lupa karena terlalu lapar, uangku sudah mereka rebut, jadi satu-satunya harapan adalah nasi bungkus yang agak lengket itu.
Waktu selesai, aku tidur nyenyak di lantai yang dingin. Saat begitu kita memang tidak usah memikirkan banyak hal, termasuk melarikan diri atau berharap dijemput sanak saudara. Aku toh tidak punya sanak saudara di kota ini. Alpa? Sudah, alpakan dia. Ketika subuh, aku bangun waktu mendengar orang bertengkar. Rupanya penjaga sedang bertengkar dengan pengemis perempuan yang minta makan karena tidak mau makan nasi lengket tadi. Anak-anak punk yang tubuhnya babak-belur sedang melompati dinding. Dua anak kecil menyelinap ke luar tanpa diperhatikan penjaga. Dan aku turut saja melompat, menemukan sawah atau kubangan yang entah apa isinya, yang jelas dingin dan berlumpur. Kami berlari secepat kami bisa mencari tempat-tempat yang bisa dilewati. Dan waktu matahari nongol, aku sudah berdiri lagi di dekat rumah Alpa. Kudengar ada suara tangisan bayi. Aku merasa bahagia sekali.

0 komentar:

Posting Komentar