11/16/2010

Markus

Markus duduk sebentar di sebuah pot besar. Ia mengeluarkan rokok dan memaki dirinya sendiri karena tidak membawa korek. Sementara sore hampir habis, ia berpikir tentang sahabatnya yang telah pergi.
“Terimakasyih, Pak.” Tukang parkir itu melemparkan senyum dan memasukkan korek ke kantung baju sebelah kiri. Sebelah kanan ada tiket parkir, dan di tangan kirinya tiket-tiket bekas yang akan ia gunakan lagi.
Ada yang hilang ketika senja menjadi gaduh dengan suara azan. Burung-burung yang kembali ke sarang tidak mencurinya dari kenangan Markus, tetapi itu cukup menandai waktunya. Waktu yang tepat untuk merasa kehilangan adalah saat waktu berubah dan kehidupan menjadi lain. 
Sekarang ia berjalan, pikirannya tidak punya tujuan, tetapi langkah mekanisnya menuju pasar klithikan. Jika ada sesuatu di depannya, benda kecil yang dapat ditendangnya, dirasakan kakinya semakin kuat. Hidungnya akan asik menandai aroma bunga yang dilewati dari seluruh toko bunga itu. Tetapi ia tak pernah mengerti jenis bunga apa, ia tidak bisa memperhatikan hal seperti itu. Perhatiannya kadang pada uang, kadang perempuan, dan sekarang ia memperhatikan pikirannya yang mencoba mengingat sahabatnya. 
Di sebuah tikungan ia bertemu seorang pengamen yang hendak pulang, ia kenal anak itu. 
“Hei, syini syebentar. Belikan bunga mawar tiga buah.”
“Bukannya Mas dari sana tadi, kenapa tidak beli sekalian.”
“Tidak usyah bantah, ayo belikan. Pakai uangmu dulu, nanti aku ganti.”
“Utang yang kemarin?”
“Heh, cepat. Nanti aku ganti, memang aku penipu?”
Tangannya mendorong anak itu, membuatnya tergesa dan hendak terjatuh. 
Akan kuapakan benda seperti itu, pikirnya, tapi mungkin perempuan itu menyukai bunga. Lalu ia coba menaruh pantatnya pada sebuah ayunan. Ada dua ayunan di pertigaan itu. Sudah ada sejak ia mengenal tempat itu. Dan, sahabatnya pernah duduk di salah satunya, sedang ia akan kesulitan menaruh pantatnya sendiri. Ayunan itu terlalu sempit, tapi selalu bisa. 
Sementara ia menunggu pengamen itu, dibayangkannya tubuh sahabatnya. Hampir sama dengan pengamen itu, dan memang ia juga sering mendendangkan lagu-lagu jorok. 
“Ini Mas bunganya. Buat apa beli bunga seperti itu, mau cari bencong ya?”
“Asyu! Monyet kamu. Syudah pulang sana, nanti dihajar ibumu lagi tahu rasya kamu!”
“Aku sudah tahu rasanya, tidak usah diajari.”
Tetapi markus sudah melangkah pergi, menyelipkan bunganya di belakang, di antara celana dan ikat pinggang. Ia jadi pusat perhatian karenanya. Dan rokok yang semakin mendekati pangkal membuatnya semakin bangga. Kakinya tidak menendang sesuatu yang ada di hadapannya lagi. Perasaannya buncah, sebentar saja ia sudah menetapkan tujuan yang lain dan melupakan sahabatnya. 
Di depan sebuah pintu ia coba mengetuknya. “Syepada!”
“Ini bukan rumah Spada!”
“Shyanti! Aku bawakan sesuatu.”
“Santi! Tanpa Shya…”
Perempuan berambut lurus dengan alis mata yang telah dipertebal tersenyum, keluar dari pintu. Rumah-rumah di samping rumah itu kelihatan senyap, lampu-lampu telah nyala semua. Dan, sepertinya, anak-anak sedang bermain di balai kampung. 
“Bapakmu ada rokok?”
“Bukan untukmu.”
“Ah. Ini mawar yang cantik, tapi lihatlah di cermin, ada perempuan yang lebih cantik dari hal-hal yang bisya kubeli.”
“Kuambilkan satu batang, kemarin Bapak sudah marah karena rokoknya hilang setengah bungkus.”
“Tidak perlu, Syantiku. Aku cuma lewat. Aku syedang kehilangan syesyeorang dan ingin menghibur diri. Kupikir aku syudah sudah cukup melihatmu malam ini. Aku harus narik, becakku kelihatannya akan jengkel kalau nganggur.”
Markus menyembunyikan sesuatu saat melangkah pergi. Sarung bapaknya Santi hilang satu dari jemuran. Tapi, ia masih sedikit kecewa. Sahabatnya telah pergi, seperti setiap kepergian sahabat yang meninggalkan rasa pedih. Walau kali ini tidak menusuk-nusuk hatinya, markus selalu merasa kehilangan. Sahabat tetap sahabat, markus amat mencintai sahabatnya, seorang copet yang telah tiada. 
“Syelamat malam, Syahabat!”
Markus membuka gembok becaknya. Mengelap beberapa bagian dan tersenyum puas. Lalu mendorongnya ke jalan raya, menaikinya dan menggenjot dengan susah payah ke tempatnya mangkal di sekitar Malioboro. Tapi, waktu melihat sebuah tikungan, ia mengarahkan becaknya ke sana. Entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga dia ke arah yang tidak biasa, ke arah yang senyap. 
Belokan demi belokan dilewatinya dengan elegan. Rasanya, pikir Markus, aku bisa menemuimu lagi di tempat yang sama sahabat. Sebenarnya hatinya agak jengkel juga, atau semacam gaduh, waspada dan khawatir mengingat sahabatnya itu. Ia telah menggenjot sekian jauhnya hingga keringatnya keluar dan menolak menaikkan penumpang, “Becak patas, syedang menjemput eksyekutif!” teriaknya membabi-buta.
Setelah hampir satu jam, ia sampai di sebuah tepian sungai yang agak jauh dari kota, jauh dari keramaian. Sebuah tempat yang agak rimbun, berbeda dengan tepian sungai lainnya yang dirimbuni rumah-rumah jelek. Ia tidak mencium bau yang diharapkan. Markus masih membawa dua helai mawar yang dicomotnya sebelum diberikan pada Santi tadi. Tiba-tiba, dia ingat ini:
Pukul dua dini hari, kemarin. Laki-laki itu agak tua dan memiliki kumis tipis. Markus mengenalnya sebagai Jo, entah namanya Paijo atau Joyo. Laki-laki ini agak aneh, sangat baik dan senang sekali ngobrol dengannya. Sering juga naik becak Markus pada larut malam, sambil ngobrol, lalu mengajak makan dan lain-lain hal yang semuanya membuat Markus merasa menemukan sahabat sejatinya di kota yang lusuh. Dan pada pukul dua dini hari, Jo ini turun dari taksi di dekat becak Markus. Katanya baru dari ngedugem di suatu tempat yang agak jauh. Tapi ia agak kecewa dan agak mabuk. Minta dianterin ke suatu tempat, tapi bukan tempat tinggalnya sendiri. Suatu tempat yang melewati banyak belokan dan jauhnya sejam perjalanan. Tempat yang sepi sunyi di dekat kali. Lalu ia turun dan katanya lelah. Markus, apalagi. Satu jam menggenjot becak dengan penumpang di dalamnya adalah prestasi luar biasa yang bikin kaki jadi seperti tambah lima tungkai. 
Markus ingat posisinya duduk yang berdekatan dengan Jo itu. Dekat sekali dan mereka ngobrol aneka macam yang nggak terlalu dipahami oleh Markus. Ia sendiri lelah dan ngantuk, meski siang hari ia tiduran terus. Waktu ke sini tadi, ia sudah ngorok, tapi dibangunkan Jo yang mabuk dan ia tidak bisa tidak berbuat banyak. Lagian ia sedang kehabisan uang, kalah taruhan dengan Roki. 
Dan pagi itu, sudah hampir subuh, Markus dibikin marah. Celananya diaduk-aduk oleh Jo. Pipinya dicium. Dan pantatnya di remas semacam mengulek bahan untuk bikin roti. Yah, lalu begitu. Ingatan Markus sendiri jadi agak buyar. Ia tidak ingat apakah memukul Jo dengan kayu atau besi yang ia temukan, atau apakah sebelumnya ia mencekiknya. Entahlah, pokonya tubuh Jo yang payah itu sudah tidak bergerak. Lalu dilemparkan saja ke tempat yang senyap itu, ke rimbunan pinggir kali. 
“Syahabat, maafkan aku ya. Ini kubawakan bunga!”
“Hai, om. Ngapain di situ?”
Markus jadi gugup bukan main. Ia nggak ngerti dari mana suara itu. Dekat-dekat situ nggak kelihatan ada orang. 
Ingatan itu sedang menipunya, tentu saja. Siapa tidak kenal Markus tukang kibul. Kemarin, yang ditemukan adalah mayat seorang copet umurnya belasan tahun. Mati ditusuk pisau. Mengapa Markus membunuhnya? Ia menolak disodomi. Padahal sudah berbulan-bulan anak itu selalu patuh, dan malam itu ia telah membuat Markus terlalu jengkel. 
Jogoyudan, 2006

0 komentar:

Posting Komentar