11/01/2010

Laki-laki Kecil

Aku mulai khawatir dengan lelaki ini, lelaki yang selalu datang dengan perasaan bunga di depan pintu yang tak ingin membuka. Setiap kali senja mengalami pertemuan dengannya, matanya masih bulat memancar dengan kata-kata kehidupan yang bergulir seperti musim, datang dan pergi lebih pasti daripada pengalaman manusia. 
“Tidak perlu kau menolongku untuk mencintai, bagaimana melakukannya, dan untuk tujuan macam apa kulakukan semua perjalanan ini.” Ia berkata dengan sungguh-sungguh tentang sesuatu yang baginya besar, tapi aku hanya peduli pada apa yang diiklankan di TV. 
Ia tidak pernah marah padaku, setidaknya belum. Aku selalu berharap bisa merubah pendiriannya untuk mencari cinta perempuan bernama Bulan, toh yang datang padanya lebih dari cukup untuk sebuah kehidupan yang baik. 
Pada Mei tahun lalu, sebuah kejadian kecil membuatnya seperti seorang ksatria dengan kuda putih yang berjalan tegak ke sebuah pertarungan yang bukan miliknya. Angin pertengahan Mei tidak terlalu keras, jua tidak lembut karena beberapa anak kecil sudah menaikkan layang-layangnya. Ladang tebu membuat karnaval bunga-bunga putih seperti panji-panji dari barisan tentara berpakaian hijau kurus ke angkasa. Di jalan yang tidak lebar, tidak pernah lebar, lelaki itu bertemu perempuan yang selalu berjalan bersamanya bertahun-tahun tanpa pernah saling kenal.
“Aku mengenalnya sebagai serpihan saja. Tidak ada yang benar-benar dapat kukatakan, tetapi akhirnya kami saling kenal.” Ia bisa membuat hujan makin basah dengan air matanya. Seorang ksatria yang lemah, karena menurutku seharusnya dia sudah kalah dan mengukir namanya pada sebuah batu, “ksatria lemah, menurunkan beban di bumi. Pada tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian.” 
Mei yang dilewatinya adalah jalan yang sangat tidak ingin dikenalnya lagi. Seorang tokoh yang ingin bermain dengan baik, dan akhirnya terlaksana, hanya naskahnya terlalu buruk untuknya. Nasibnya adalah nasib Romeo tanpa pengorbanan seorang Juliet. Ia ingin mati demi sesuatu yang paling dimiliki. Ia ingin mati untuk seseorang yang mencintainya. Tapi itu tidak lebih omong kosong bagi kepalanya yang sekarang ini menyisakan kenangan Mei seperti jalan berkerikil tajam. Dan iklan shampoo jauh lebih berarti bagiku. 
Sebelum ia mengenal Bulan, ia sibuk mengajariku menulis dan bercerita negri-negri dongeng yang tidak kusukai. Aku selalu minta dia membawa koran, bukannya sekumpulan dongeng. Meski pada akhirnya dia tidak pernah membawa koran dan aku hanya membaca dongeng, aku mulai senang ketika dia bercerita tentang kenyataan yang dialaminya. 
“Bertahun-tahun aku mengikuti orang seperti itu, mencoba menatap, dan membuat diriku sendiri seorang yang pantas dicintai. Kurasa aku berhasil, basahnya sisa musim hujan membuat kami berjalan beriring, berkenalan selalu membuatku bergetar, atau kikuk. Ya, seperti itu, kau pasti tau. Mengalami mimpi buruk lebih baik daripada berkenalan dengan orang yang sudah kau inginkan bertahun-tahun, bukan?” Aku mengangguk, seolah hari itu tidak harus selesai untuk diperdebatkan. Ia seorang ksatria yang merasa menjadi pria santun, orang yang harus memiliki cinta sejati, walau itu hanya soal kadar sebuah benda mulia. 
Di dalam dongeng mungkin ia ingin menjadi Cinderella, tapi ia laki-laki dan menggarap ladang, bukan perempuan yang bergumul dengan abu dapur. Dalam mimpinya, ia selalu jadi seorang yang besar seperti para pejuang Troya, tapi cangkulnya tidak pernah berubah menjadi pedang atau tombak. Di sekolah, dulu, ia pasti diajari tentang cita-cita, yang kemudian ia tuturkan padaku dan aku menyukai tentang akan jadi apa kelak jika ia meneruskan apa yang disebutnya sekolah itu. Dan, akhirnya ia harus mengerti, hanya perempuanlah yang berarti untuk menghibur semua kekecewaan yang diceritakannya padaku. Lelaki kecil ini, tak lebih baik daripada iklan snack, tapi aku tidak mengatakan padanya. 
Daun-daun jatuh, seperti musim kering yang lain. Tidak menyenangkan menghadapi sebuah kekecewaan di musim seperti ini. Orang-orang harus berjuang sendiri, memikul keringatnya sendiri, dan berjalan dengan pengawasan matanya sendiri. Para petani harus menghadapi ladangnya dengan harapan yang semakin tinggi, dan seorang pria ini sedang mengukir namanya di atas nisan air mata. Aku merasa kesepian jika mendengar kesedihan diucapkannya bersamaan dengan munculnya iklan permen. Ia tidak bisa merasakan manisnya gambar-gambar di TV. Ia sekarang terlalu menyukai kenyataan. 
Tubuhnya semakin gelap kulihat. Tetapi kesedihannya tetap seputih awan, tidak menyisakan warna yang dapat kutangkap. “Dulu, kupikir aku sanggup mencintai seperti ini. Selalu saja berubah. Selalu. Aku sedih dan ia merencanakan kebahagiaan yang paling kubenci.” Ia ingin berhenti dan seperti memintaku berkata-kata, tetapi aku tidak pernah bisa, hanya tanda-tanda keresahan. 
Terkadang aku hanya ingin menganggapnya seorang biasa, tukang curhat yang membuatku merasa lelah dan tidak berhenti bertanya bagaimana ia melakukannya dengan lidahnya. Meski aku tidak pernah tahu rasanya bagaimana suara diatur keluar dengan baik dari dalam kerongkongan, kurasa ia tetap seperti apa yang kupikirkan itu. Ia tidak merubah sesuatu dengan kata-katanya. Dan, saat berpikir demikian aku mulai benci. Membenci merupakan hal buruk yang kumiliki untuk banyak orang. 
Ladangnya pasti sepi pada musim kemarau. Berbeda dengan sawah-sawah di tempat yang lebih rendah. Dan kalau ia tidak di ladang, ia akan menghampiriku seperti ini. 
“Kukira aku lebih baik tidak pernah bertemu dengannya, akhir Mei yang buruk itu.” Bagaimana kau menganggap kenangan terindahmu sebagai yang terburuk? “Lihatlah aku. Sekarang lebih mungkin untuk kembali ke ladang dan mengaduk tanah, mungkin aku bisa mengubur diriku sendiri. Ha-ha-ha-ha,” dan ia seorang yang seharusnya tidak pernah mau ke ladang. Seorang yang bakal mati dikubur kesedihan. Huh, kurasa aku mulai membenci diriku sendiri yang dapat bertahan di depannya. 
Aku sendiri merindukan musim yang berbeda. Barangkali segalanya jadi lebih mudah kukatakan jika aku dapat berkata dengan jelas. Kurasa hanya dunia yang tuli terhadapku, bukan aku yang membisu. 
Kuanggkat tanganku seperti ingin sesuatu, padahal aku hanya mengoda. 
“Kau yang paling tahu kesedihan lelaki sepertiku. Aku seperti perempuan, bercerita ini itu dan tidak pernah tahu apa maksudnya. Untunglah kau bisu, tidak cerewet sepertiku.” Aku ingin tertawa, tapi hanya sanggup tersenyum dan mengeluarkan sedikit hembusan aneh dari tenggorokan. Dan mataku kembali ke iklan mie goreng instant. Mahluk yang suka curhat memang menyedihkan tapi sangat menghibur. 
Beberapa hari setelah itu, ia mati di kamarnya dengan sarung melilit leher. Aku sedih seperti ia sedih kehilangan Bulan yang dipinang orang lain ketika ia sudah mulai mengenalnya. Aku hanya dapat melupakan ceritanya kalau aku menonton iklan di TV, dan sekarang aku menyukai buku-buku dongeng yang dibawakannya untukku.
kulkul (dengan seluruh ketidakjelasannya!)

0 komentar:

Posting Komentar