11/16/2010

Jenius baik

… misery is my company
…misery is looking for me
Good Charlotte, “Misery”


the photodiarist
Aku menghembuskan nafas ke udara siang yang lembab, bersama suara berdenging yang timbul dari kedalaman telingaku. Kini aku timbul tenggelam antara mengingat cahaya siang hari yang menyilaukan dengan semua keterbelakangan yang kualami.
Keterbelakangan harus kamu mengerti sebagai sesuatu yang direkayasa, dan aku masuk dalam kelompok orang-orang jenius baik yang terbelakang karena telah dimuntahkan dari seluruh tatanan sosial. Aku dipinggirkan, kira-kira seperti dalam teori sosial, ke dalam lingkungan yang akan memaksaku tunduk pada perputaran sistem. Bangun dari tidur, kamu harus memikirkan bagaimana makan hari ini bisa tersedia dengan baik, atau bagaimana biar kamu lekas-lekas merasa jadi orang yang berkecukupan dalam soal perut, pakaian, rumah, dan kesenangan hidup. Sedangkan aku, berpikir bahwa hidup harus dipenuhi lebih dulu dengan makan saja merasa jijik. Karena itu aku memilih menjadi orang jenius baik yang dipinggirkan daripada harus memenuhi perutnya dengan bangkai dan sampah.
Oke, aku hanya sedikit jenius baik yang tidak meratapi keadaan. Aku bangun dari tidur dengan mengingat mimpi, menelanjangi mataku dengan cahaya, dan menemukan udara telah mengacak-acak seluruhnya. Seluruhnya. Napasmu akan berbau seperti sesuatu yang memenuhi bumi, yaitu hal-hal jorok yang orang lain sembunyikan.
Kuberitahu, aku adalah sejenis jenius baik yang mengerti keadaan. Aku bukan setan baik hati yang datang sebagai penolong di kantor-kantor besar dengan ornamen keangkuhannya. Aku bukan iblis kecil yang berlari ke sana kemari di lingkungan sekolahan. Aku bukan pengecut yang menuruti ke mana dunia memerintahkannya mencari uang dan uang. Aku hanya si jenius baik, malaikat yang menempati rongga-rongga dari sisa ketamakan manusia. Di ronggaku, mereka menyebut gubug, dengan bangsat-bangsat siap mengigit kulit, melindungi dari hujan dan panas matahari. Aku malaikat yang tidak lagi terbujuk oleh nafsu rendah, malaikat yang terlihat seperti malaikat pada umumnya; kumuh dan mengenaskan.
Tunggu, mungkin kalian tidak setuju dengan itu semua, tapi kalian akan yakin jika kalian menjadi sepertiku. Aku hanya melihat apa yang perlu kulihat, sehingga tubuh dan jiwa jenius-baik-ku menjadi seperti apa yang kugambarkan tadi. Aku akan keluar dari ronggaku, tiap pagi, dengan udara yang dipenuhi dengan makian dan hasutan. Aku bisa mendengarkan suara setan sedang menjual sesuatu di pasar dan di gedung-gedung perkuliahan. Aku bisa menganali bagaimana mereka menawarkan parfum untuk memperbaiki hati mereka yang busuk dan berbau seperti daging babi yang mengendap di comberan selama seminggu, lengkap dengan lalat dan singgat. Aku bisa melihat setan mengenakan seragam, setan yang berwajah halus sedang menyiarkan berita, setan yang berpeci sedang menjadi presiden, setan yang cantik merayu laki-laki jompo, setan yang kuat sedang berlari mengitari stadion, setan yang sedikit pintar sedang menulis kisah, dan terlalu banyak setan yang harus disebutkan jika kamu hendak mengabsennya.
Hah, aku akan selalu mengeluarkan udara yang kotor itu dari dalam ronggaku yang lain, rongga kecil dalam diri setiap malaikat untuk mengenali dunia tempatnya dipinggirkan. Aku hanya dipinggirkan demi nasib yang lebih baik pada manusia. Aku akan tetap tinggal di ronggaku yang sempit dan setan akan masih memanggilku sebagai gelandangan yang kotor, kumuh, lecek, menjijikkan, dan tidak tahu diri.
Hari ini adalah saatnya malaikat sejenisku, yang jenius baik dan tidak memiliki nafsu untuk menguasai dunia, keluar dan turut terlibat dalam sedikit kekacauan yang membuatku bisa tetap berpikir dan kembali kepada ronggaku. Dan ingatlah bahwa aku menyebut diriku malaikat hanya sebagai padanan yang layak untuk jenius baik.
Kita semua akan mencintai rongga tempat mimpi-mimpi mengingatkan pada masa lalu. Malaikat jenius baik yang sepertiku pun mengerti, bahwa terpinggirkan seperti gelandangan adalah suatu kemenangan tanpa nafsu. Bersenang-senang dengannya hanyalah menjalani hakikatnya yang lebih tinggi. Hampir tidak dapat kupercaya bahwa apa yang diraih para setan dengan harta dan kesenangan bisa membuat mereka berhenti menghancurkan dunia. Kami para malaikat jenius baik tidak pernah berharap akan dunia yang adil dan baik, karena para setan telah diberi hal-hal baik oleh tuhan untuk menguasai dan menghancurkan. Para jenius baik, yang sebagian kecilnya adalah manusia normal, hanya akan terus berpikir dan mengawasi sambil bercerita kepada segala sesuatu, karena hanya itulah yang tuhan perkenankan untuk dilakukan, terutama dari jenis yang terpinggirkan. Dengan cerita, aku mengingat masa lalu dari mimpi-mimpiku untuk menghadapi keadaan.
Dunia jenius baik penuh perenungan. Kami tidak bisa bercerita segala sesuatu yang kami ketahui, oleh sebab dua hal; pertama, mereka akan tahu terlalu banyak sehingga menuduh kami berbohong, kedua, mereka telah lebih dulu menuduh kami berbohong karena mereka tidak tahu apa-apa. Bagiku, keterbelakangan adalah kebanggan yang tidak perlu ditampakkan, satu dari sekian warna cerita kami yang akan selalu dilupakan keadaan.
Baiklah, jika kalian tertarik dengan dunia malaikat kami yang berada sepersekian meter dari tempat kalian terlelap semalam, kalian harus mengerti jika kebaikan kalian semua adalah bagian dari nafsu yang dimiliki setan. Ini akan sangat berdampak jika kalian mendekat kepadaku. Aku mesti menghindari setan sebisa mungkin. Sebisa mungkin, karena sedikit banyak kami makan dari para setan untuk kemudian membersihkan rongga-rongga kami lagi dan menjadikan semua kotoran yang ditimbulkannya sebagai cerita dan bagian dari mimpi-mimpi di dalam ronggaku.
Pada malam-malam seperti itu, kerap aku didatangi setan yang kulitnya halus dan putih dan kecemerlangan wajahnya menyembunyikan bau busuk yang menusuk hidungku. Jubahnya tidak seperti dalam cerita-cerita tentang tentara romawi atau para pendeta suci, melainkan ada semacam bulu halus yang meliputi pakaian itu. Aroma parfumnya akan membakar syaraf manusia baik yang tidak memiliki kekuatan sehingga mereka tunduk. Sewaktu ia mengunjungi ronggaku, aku telah menangkap maksud busuk itu. Ia memberiku semacam pengisi perut yang terbuat dari bangkai sapi, dengan beberapa tanaman yang telah mati. Kamu akan kelaparan melihatnya, dan ia membaca gelagatku seperti aku membaca maksud jahatnya. Ia memberiku sesuatu yang oleh para setan dibanggakan, semacam moral yang mengatur mereka untuk tetap bisa menikmati bangkai dan kematian.
“Berapa lama kau di sini?” pertanyaan yang menciutkan karena menuntut kita memberi ketepatan. Betapa bodohnya.
“Lama apa maksudmu? Waktu ataukah harapan?” lihat, ia bingun oleh jawabanku.
“Tahun? Bulan?”
“Lima puluh tahun kurangi empat puluh tahun,” itu untuk gigitan terakhir bangkai sapi yang ternyata enak.
“Dan seperti ini?”
“Apa?”
“Rumahmu kardus? Beberapa orang menggunakan seng, dan kau—….”
“Jangan katakan perbandingan, aku terbelakang! Segalanya.” Jantungku bergerak cepat, ingin melarikan diri dari tubuhku.
“Ehm, terus terang, kamu yang tersulit…”
“Segalanya….”
“Dan bersediakah Bapak tinggal di rumah yang layak? Tanpa membayar. Dan bekerja!”
Mataku melotot. Ia menyebutku bapak, sedang ia bukan anakku dan aku tidak memiliki anak karena semua orang menganggapku tolol dan sedikit tidak bermoral. Itu pilihan. Semua orang disingkirkan dengan cara yang sama, maksudku jenius-baik golonganku. Dan ini yang kutawarkan, “Dan lebih banyak botol, tidak dilarang?”
“Hem, itu urusan pribadimu, Bapak….”
“Tidak. Aku tidak perlu nama, di kertas itu atau di kepalamu.” Kupikir itu jawaban jenius.
“Tapi kami berharap Bapak mencoba hal-hal lebih baik. Agama?”
“Tidak perlu. Aku sudah lebih baik.”
“Bukan, maksud saya agama yang pernah bapak anut.” Wajahnya mengkerut seperti putri malu yang tersentuh kaki lecekku.
“Itu sama sekali membodohi, bukan? Apa saja boleh, terserah.” Kupikir ini akan membingungkannya, biar dia pergi sekalian. Ini sudah cukup membuat nafasku tersengal-sengal.
Dia diam, memandang kertas di tangannya dan berucap dengan sangat rendah, “Saya pikir bapak perlu seorang psikiater, atau teman?”
Oh, roh suciku berontak seperti ingin keluar dari tubuh si jenius baik yang tiba-tiba terkulai seperti mayat hidup. Aku sendiri tidak yakin bahwa akhirnya akan bisa dikalahkan oleh setan licik yang memakai dasi biru tua dengan garis keemasan. Tidak. Waktu itu aku sama sekali tidak kalah dari tatapan lembutnya yang menipu.
“Tidakkah kamu lihat aku cukup cerdas, cukup jenius, untuk tidak disebut gila! Begini-begini, aku tidak pernah mau dihina serendah itu.”
Matanya, yah kupikir matanya yang mulai memudar jadi lubang kesengsaraan. Lalu ia minta maaf dengan mulutnya yang tidak lebih seperti cabai merah keriting. Kupikir pantatnya juga semerah itu.
“Maaf, maaf. Bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya menyarankan, sekiranya Bapak kurang sehat.” Ia berdiri dan aku menolak tangannya dengan sedikit lebih lembut daripada sebuah hentakan.
“Dan kamu menyebut psikiater?”
“Itu normal Pak. Saya pikir Bapak tahu maksud saya ke sini….” Aku menendangnya sebelum ia selesai bicara. Aku tahu apa yang ada di pantatnya.
Aku meringis seperti wajah malaikat yang pucat, kukatakan bahwa keterbelakangan ini membuat kehidupan lebih dari cukup untuk dijalani dengan cerita-cerita kebenaran yang kami lihat setiap hari dalam keadaan apapun. Dan mimpi-mimpi kami tidak akan pernah kami tukar dengan nafsu rendah yang menghancurkan. Kalian harus tahu bahwa para setan sudah kehilangan mimpi-mimpi mereka bersamaan dengan harapan akan penaklukan akan segala sesuatu yang diciptakan tuhan. Dan mimpi-mimpi itu yang memberi kami ingatan yang panjang tentang masa lalu, tentang diri kami, dan keterbelakangan yang diatur oleh para setan. Mereka menyebutku sebagai orang yang tidak dapat mengerti penjelasannya, ia mengatakan bahwa aku akan menjadi lebih baik, padahal aku hanya akan menjadi setan dan kehilangan mimpi-mimpi yang membuatku bercerita dan mengingat masa lalu.
*
Setan berdasi biru itu datang berkali-kali seperti ingin menyedot sum-sumku. Dan minta maaf berkali-kali. Kadang besama temannya, kadang besama ketakutannya. Pada kedatangannya ke sekian kalinya, aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk mengakhiri permainannya dengan caraku sendiri, karena aku, yang mereka katakan terpinggirkan dengan mulut cabai merah keriting itu, telah menangkap dengan pasti makna mimpi-mimpi yang membuatku bercerita tentang kebenaran. Ada sebagian dari orang jenius baik sepertiku yang pada akhirnya menyerah pada mata licik yang lembut, yang doa-doanya seperti penyihir membaca mantra, yang kebaikkannya telah menipu seluruh dunia.
Aku tidak akan menyerah, bukan karena telah kerasukan nafsu busuk, tetapi karena mimpi-mimpi dan masa lalu telah mendorongku untuk menemukan jalan yang paling buruk di hadapan para setan. Jalan yang paling buruk, yang tidak mereka kehendaki, selalu menjadi solusi cepat bagi jenius baik yang sudah mengakui kemalaikatannya di bumi.
Setan itu kembali seperti pesan setiap mimpi, bahwa para setan akan terus datang kepadamu sampai kamu mati.
Kubayangkan saat ia memberiku bangkai sapi yang lezat dengan roti dan sayur hijau membusuk. Ia tertusuk oleh jari-jariku di bagian yang tidak penting, kurasa bukan di pantatnya yang pasti kemerah-merahan seperti kena cabai merah keriting seperti mulutnya. Kugunakan sedikit kekuatan untuk memukulkan semacam besi ke tubuhnya. Saat itu aku merasa kembali muda, berkelahi dan menang. Kurasa, itu masa lalu.
Aku sedang mengguratkan seluruh prinsip hidupku di tebing penjara, maksudku dinding yang sempit ini, ketika seseorang yang mengaku pengacaraku ingin bertemu lewat mulut seorang petugas bermulut bau. Mungkin keluarganya sangat miskin, dan satu keluarga tidak ada yang pernah membeli odol untuk sikat gigi. Setelah ia membujukku. Benar-benar gigih ia membujukku, aku menemui “pengacaraku” itu. Ahli mental yang ke sekian. Ternyata ia bersama laki-laki berdasi biru yang beberapa bagian tubuhnya masih dibalut, mungkin dibalut permintaan maaf lagi.
“Aku tidak perlu kalian. Tidak usah datang, apalagi dengan setan.” Kupikir kata-kata seperti itulah yang akan membakar pantat laki-laki yang dulu berdasi biru.
“Maaf Pak, kami hanya akan sedikit meringankan beban saja, itu jika Bapak mau mendengarkan sedikit tuntutan dari orang-orang yang lebih berkuasa dari Bapak sendiri.” Aku tidak mengerti.
“Jangan berkata membingungkan, sekarang kecerdasanku turun karena dinding-dinding ini tidak dipenuhi bacaan.”
“Maksud kami, Bapak dituntut oleh beberapa orang atas pemerkosaan…” matanya tajam, mataku mendelik tak karuan, “penganiayaan, pencurian, dan satu pembunuhan tak berencana lima tahun lalu.”
“Yang mayatnya mengapung di kali.” Aku berkata jauh lebih tenang. Mungkin kejeniusan tidak selamanya berpihak pada orang-orang yang disingkirkan. “Kenapa ia tidak menuntutku karena membuat pantatnya merah seperti cabai merah keriting?”
Orang-orang itu pergi dan menyebutku tidak waras. Aku lebih jenius dari laki-laki yang dulu berdasi biru, polisi yang menyamar dengan tidak karuan itu.

0 komentar:

Posting Komentar