11/16/2010

Calon Penulis Besar

saban kali main ke tempatku, dia akan memintaku mengeluarkan mesin ketik. matanya sipit dan bening, seperti pedang terasah. ia meminta selembar kertas lalu mengamati caraku memasangnya di mesin ketik. dia akan mengusirku dari hadapan mesin ketik. dia akan menguasai mesin ketik itu sepenuhnya, seperti hendak menulis sebuah novel.

aku pergi ke dalam sebuah buku sambil sesekali menengoknya. dia berpikir keras, sekeras penyair yang belajar menaruh titik dan koma sebelum judul. kupikir, dia sedang mencoba mengenali idenya, menjabarkan dan menata di kepalanya. matanya yang sipit makin sipit mengarah ke mesin ketik. entah, mungkin dia sedang berpikir mengenai kata apa yang tepat untuk mengawali sebuah kalimat.

namanya nug. waktu aku pertama kenal, dia sudah tak sekolah. katanya dia pernah mengenyam kelas satu sd. dia sudah lulus dari kelas satu. hebat ya. sudah bisa membaca meski sangat lambat. dia suka meminjam buku dariku, buku resep makanan. untuk dinikmati foto-fotonya yang amat menggiurkan. dan sekarang, dia sedang mencoba menulis. kemarin sudah kuajari mengenai hurup kecil dan hurup kapital. dia sudah menemukan titik dan komanya sendiri. dia telah sukses menulis namanya tanpa kehilangan satu hurufpun.

“Mas,” wow, dia tampaknya menemukan ide besar, “hurup n e endhi?” (huruf n-nya mana?)

dubraak….

0 komentar:

Posting Komentar