waktu

“Jam berpa?”

“Kenapa memangnya?”

“Hanya nanya. Nggak boleh?”

“Boleh. Tapi tak perlu sinis begitu.”

“Siapa yang sinis? Cuma nanya kok. Kalau memang tak boleh nanya, ya nggak apa-apa”

“Boleh! Siapa bilang tak boleh nanya? Situ saja yang sentimen.”

“Lho kok bisa. Saya kan cuma nanya, jam berapa? Memangnya tidak boleh? Boleh, kamu bilang. Ya, kalau boleh kan tidak apa-apa, tinggal dijawab.”

“Lha, situ nanyanya kok jadi panjang begitu. Nanya biasa saja memang tidak bisa apa?”

“Bisa. Saya kan nanyanya biasa. Lalu situ yang reaksinya over gitu. Apa saya salah? Cuma nanya jam berapa kok.”

“Ya enggak salah, tapi ya nggak usah diperpanjang begitu dong. Masa saya yang ditanya jadi seperti didebat begini. Memangnya situ nggak marah kalau ada yang nanya jam berapa trus malah jadi perdebatan?”

“Ya marah. Tapi kan situ juga yang mulai.”

“Kok saya? Kan situ dulu yang mulai nanya jam berapa? Gimana sih?”

“Ya, kan saya cuma nanya jam berapa. Terus kok situ pake sinis-sinis segala. Apa itu enggak nyinggung perasaan? Coba dong situ di posisi saya!”

“Lha, saya kan cuma nanya balik, memang kenapa kok nanya jam?”

“Saya kan hanya nanya jam berapa.”

“Dan saya cuma balik bertanya, memangnya kenapa?”

“Lha situ belum jawab, jam berapa?”

“Lha, mana tahu saya jam berapa sekarang. Saya nggak bawa jam.”

“…. Bilang kek dari tadi kalau nggak bawa jam! Bikin emosi saja!”

“Lho kok emosi. Wong situ yang nanya, kok situ yang emosi. Mestinya saya dong yang emosi! Saya kan yang ditanya-tanya nggak jelas.”

“Nggak jelas gimana? Pertanyaan saya sudah jelas, Jam berapa.”

“Dan saya tidak bawa jam!”

“Ya kalau nggak bawa jam, jawab dong dari tadi!”

“Gimana mau jawab, wong saya nggak bawa jam!”

“Aduuuuuh. Sialan!”

“Wah, kok situ memaki?”

“Heh… ada apa ini, ribut saja! Kalau mau lihat jam, itu di belakangmu kan toko jam!”




Komentar