Saya tergelitik dengan beberapa komentar maupun tulisan mengenai pengamen, pengemis, dll yang memegang hape (atau sejenis itulah). Hal itu juga dikaitkan dengan kepedulian orang atas angka kemiskinan di negara ini yang tetap besar. Lalu, orang bertanya, di mana miskinnya?

Ya, meski yang mereka lihat hanya sebagian dari sekian juta orang miskin, mungkin memang perlulah kita bertanya tentang apakah “miskin” dalam komentar macam itu? Dahulu, denger-denger, hape itu memang dipegang orang miskin yang tidak punya rumah, yang otomatis tidak bisa mendaftar sambungan telepon. Tapi, sekarang kan jelas berbeda, apalagi di Indonesia. Kalau di negara kaya, orang yang masuk kategori miskin masih masih punya tempat tinggal, sekalipun disubsidi pemerintah, atau dikasi fasilitas tertentu seperti “tunjangan.” Mereka kadang juga punya kendaraan, dan masih saja digolongkan orang miskin oleh negaranya karena kriterianya memang lain. Sedangkan di negara ini, bisa makan di atas Rp 7.000/ hari sudah tidak miskin. Jadi, memang kalau parameternya BPS, orang pegang hape, meski hape malingan atau second murahan, sudah tidak termasuk miskin. Hm, tapi apa ya kita mau manut sama hitung2anya BPS? Kalau dipikir dengan sederhana, 7.000 rupiah sehari bisa makan apa? Nasi lauk batu?! Atau, sebenarnya sudah rasional? Berasnya raskin dengan kulitas bulukan alias berkutu, lauknya cicak goreng dan tongseng kadal, hmmmm nikmaaat!

Soal hape, di indonesia sekarang sudah bisa jadi benda murah, terutama yang second atau hasil curian. Jadi, orang punya hape tidak serta merta dikategorikan sebagai kaya. Orang tidak punya hape juga tidak bisa langsung ditunjuk hidung sebagai orang miskin. Jadi, sungguh konyol kalau kita dengan mudah menuduh, “miskin kok punya hape!” (Yah, tapi terserah cara orang menilai, sih, toh mereka kan cuma menilai, tidak mengubah apapun.)

Tapi, tahukah kita bahwa sebagian mereka membeli hape dengan usaha yang lebih keras daripada yang kita (orang kaya)? Ada yang dengan tekun menabung dari hasil mengemis, mengurangi jatah makan sehari-hari. Atau untuk tukang becak, mengayuh tanpa kenal lelah (kenal nggak sih?), mengumpulkan uang hanya untuk beli hape, dan bisa menghubungi keluarganya di desa. sedangkan untuk orang kaya, mau hape serenteng pun tinggal borong yang jual… eh, borong di tempat yang jual.

Mungkin hape yang mereka miliki mubazir, hanya dipakai untuk main game dan pamer. Tapi, kenapa kita tidak bersyukur bahwa mereka bahagia dengan hape murahannnya itu. Apa perlu kita iri pada mereka kalau mereka membawa hape? Hmmm, saya kira sih tidak.

Lalu, ada lagi yang menilai, dan ini cukup banyak, kalau miskin itu identik dengan kemalasan. Logikanya sederhana sekali, anak kecil juga tahu, kalau malas ya jadinya miskin. Meski, tidak sedikit orang malas juga kaya karena lahir dan besar dari orangtua kaya. Logika bahwa miskin karena malas sudah diterima banyak orang, tentu dengan pembenaran-pembenaran masing-masing. Bahkan mereka mungkin punya bukti valid, misalnya, tetangganya miskin karena malas bekerja, malas begini dan malas begitu. Yah, meski tidak semua orang miskin di indonesia jadi tetangganya. Tapi, ada lo yang bekerja dari subuh sampai malam, keringat bercucuran, banting tulang, bertahun-tahun, dan tidak beranjak kaya. Malah kadang penyakitan, dapat uang sedikit habis buat berobat. Saya sendiri punya banyak saudara orang miskin, baik yang saudara betulan atau saudara karena miskin. Banyak yang bekerja puluhan tahun dan kelihatannya tambah miskin. Kita bisa menyalahkan mereka dengan berbagai alasan, atau menyalahkan lembaga ini lembaga itu, menyalahkan orang kaya, menyalahkan saya… tapi tidak menyelesaikan apapun.

***

Memang menyenangkan membicarakan kemiskinan, ya. Apalagi kalau kita bukan orang miskin, wow, pasti seru. (nyindir.com)

Saya sendiri percaya bahwa hanya orang-orang miskin itulah yang bisa menyelesaikan problem hidupnya, sedang orang lain hanya jadi faktor pendukung.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama