Mengapa Tak Boleh Masuk Sekolah Hari Ini?

Luka di kaki Nug masih belum kering. Tapi, sudah dua hari ia tak masuk sekolah. Karena itu, matanya yang bening menampilkan satu semangat untuk menahan sakit dan pergi sekolah. Sambil menahan sakit, dikenakannya kaos kaki. Simbah membantu menyiapkan buku-bukunya. Sedang Simak menyisir rambut agar si Nug terlihat ganteng. Mata keduanya menampak kemiripan, sipit dan bening. Di depan rumah, di atas sungai, Rez sedang asyik berak sambil memainkan air.

Tiga hari lalu, Nug keserempet motor. Kakinya hanya lecet, tapi benturan itu menyebabkan kakinya sakit. Mungkin luka di dalam yang menyebabkan biru lebam.

“Nak iseh loro yo mbok ra sah mlebu sek to nug!” Simbah sudah merapikan semua buku. Dia menyiapkan uang jajan si Nug.

“Wegah Mbah. Ketinggalan pelajaran ki ra penak jhe.”

SD Gondolayu itu jaraknya tak sampai satu kilometer. Meski masih terasa sakit, si Nug berjalan dengan semangat, mata beningnya siap menyambut pelajaran apapun pagi ini. Saat bel masuk berbunyi, si Nug sudah siap, duduk manis. tiba-tiba, pak Guru memanggil si Nug ke depan.

“Kono mulih wae, nek ra mlebu sekolah kok ra tau nggawe surat ijin”

“Lha pak, aku wingi loro e…”

“Nak loro ki yo gawe surat ijin. Ora gur wingi, sak durung e lha yo ra tau nggawe surat ijin to. Kuwi jenenge mbolos. Nak ra niat sekolah, ra sah sekolah sisan.”

Si Nug keluar kelas dengan lesu. Dia tertatih-tatih pulang ke rumah. Dia bingung, Simbah dan Simak tidak bisa menulis, apalagi membuat surat ijin. Bapaknya pun sama saja. Sedang kakaknya, SD pun tak tamat.

Komentar