Lebaran di Code, Tapa Romo Mangun


Mengutip sebuah tulisan, dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115). Hm, lebaran memang sudah identik dengan kebaruan, makan-makan dan minum-minum. Sedangkan di Indonesia, lebaran juga identik dengan mudik.

Banyak momen terkumpul dalam satu kata, “lebaran.” Tahun ini, untuk pertama kalinya saya mengalami mudik ke Jawa (meski Jakarta juga bagian dari Jawa). Jawa di sini dimaksudkan sebagai kultur, atau sederhananya kampung halaman. Namun, kali ini saya tak menaruh minat pada rumah. Saya justru mudik ke Kampung Code, Yogyakarta. Di sana tak ada saudara, tak ada nenek, tak ada orang tua atau adik-kakak. Beberapa orang menilai cara saya berlebaran ini aneh.

“betapa sulit menuliskan rinduku, untukmu,…” kata penyair Bahaudin. Kata-kata itu mengena ketika saya mesti memberikan sekilas alasan apa perlunya saya berlebaran di Code, dimana tiada sana saudara di sana. Dalam rangka itu saya pun berani mengabaikan orangtua di rumah, sebuah keberanian yang mungkin konyol. Sulit mengatakan seberapa rindu saya pada Code yang telah menjadi bagian dari kehidupanku. Saya juga tak bisa mengatakan seberapa dekat saya dengan manusia-manusianya, dengan dinamikanya, dengan pergulatan hidupnya. Saya sendiri mendaku sebagai “wong code” yang sering sobo kali atau main di sungai. Selama beberapa tahun, saya selalu berlebaran di Code, dan itu yang membuat saya merindukan momen-momen masa lalunya. Sebelum lebaran, sebulan penuh, saya mesti bergulat dengan “rusuhnya” anak-anak di masjid Kalimosodo. Masjid di tepi sungai itu juga bagian dari pengalaman batin di masa lalu. Saya sendiri hadir di sana sebagai bukan apa-apa. Saya tak seujung jari pengabdian Romomangun, Pak Willy, dan sebenarnya banyak tokoh-tokoh lain. Biasanya tokoh-tokoh itu, yang sesunguhnya sangat berperan, juga redam oleh sosok Romomangun. Redam dalam arti tertutup oleh kebesaran nama romo cum arsitek dan sastrawan ini. Apalagi saya, anak kemarin sore yang terbuang di Code karena tak mampu membayar kost di Yogya.
Sebagai sebuah kampung yang penuh kompleksitas, baik keragaman agama, kepercayaan, juga suku dan perilaku, Kampung Code Utara terbilang bisa mewakili sebuah keberhasilan harmonisasi masyarakat majemuk. Yah, hal itu jelas tidak lahir begitu saja, melainkan telah melewati suatu proses panjang, dan di dalamnya orang akan selalu mengaitkan dengan kiprah Romomangun. Saya tak menafikkan bahwa ada sentimen-sentimen SARA, namun itu tak seberapa besar dibandingkan dengan kesulitan hidup sehari-hari, sehingga orang-orang lebih meributkan utang tetangga dibandingkan apa agamamu. Agama bukan sebuah masalah di sana. Agama adalah sebuah solusi untuk masing-masing orang dengan caranya sendiri-sendiri. Kristen, Islam, Katolik, Kejawen, atau pun yang hanya mengaku-aku bergama, hidup bergumul di sana. Belum sekalipun saya melihat konflik berkaitan dengan agama, entah di masa lalu. Ini juga bukan suatu yang tiba-tiba. Saya rasa, masyarakat sudah banyak belajar dari pengalaman dan tahu cara mengatasi persinggungan yang mungkin terjadi.

Saya sendiri, dulu, adalah pengurus masjid di sana, meskipun bukan seorang Muslim taat. Selama ramadhan masjid akan ramai dengan kehadiran anak-anak tiap sore. Selain TPA/mengaji, kami menunggu berbuka, sebab warga menyediakan takjil selama sebulan penuh. Kami selalu mengadakan buka bersama sebulan penuh. Meski sederhana, semuanya dilakukan dalam sebuah acara seperti pesta. Meski harus menggiring anak-anak dan memerintah ini itu, tapi kami melakukan hal yang menyuburkan kebahagiaan. Meski harus membersihkan tumpahan air dan makanan tiap kali selesai berbuka, tapi tak ada yang mengeluh karena ditinggal pulang duluan.

Setelah anak-anak yang menyelesaikan selembar halaman Iqro dan beberapa ayat hapalan, mereka harus segera diusir ke luar agar tidak membuat kegaduhan. Meski mereka belum puas membuat keributan itu, kami akan suruh mereka ke masjid. Tempat TPA itu di aula, lantai dua. lantai terbawah, dekat sungai, tempat saya tinggal. Lantai atas, masjid. Di sana kegaduhan akan dipindahkan. Anak-anak membuat saya sedikit kejam. Kata-kata yang paling sering kukeluarkan adalah “diam!”, “duduk!” dan “ayo!” Tak ada kata-kataku yang benar-benar mereka turuti. Semua anak sepertinya berlomba ingin melanggar perintah. Betapa menyenangkannya jika aku juga masih anak-anak, sayang sekali aku terlalu tua. Selama bulan puasa biasanya saya sering “marah.” Terutama kalau sudah sore. Anak-anak yang datang akan membuat keramaian, padahal para orang tua tidak menyukai kegaduhan. Yang mengajar pun hanya sedikit, bahkan sering saya harus menangani sendiri 20-an anak. Itu adalah sebuah siksaan sekaligus kenikmatan. Tiap anak minta diperhatikan. Minta didahulukan. Sedangkan yang lain suka melakukan kekejian dengan menaiki punggung atau merengek-rengek minta ini itu. Beberapa senang mengembangkan bakat lari dengan mengitari meja-meja, dan kadang mencoba menaikinya. Suaranya, lebih heboh daripada kandang ayam yang ayam-ayamnya kelaparan. Lebih mengenaskan lagi kalau sudah ada yang berkelahi, dan itu sering sekali terjadi. Anak laki atau perempuan sama saja. Lalu datang ibunya dengan muka merah, mata melotot, dan niat jahat (halah-halah… maaf, hanya hiperbola).

Bahkan, sekalipun sudah dibagi makanan dan minuman, mereka masih sering meributkan cara duduk, cara menaruh makanan, apakah makanannya mau dibawa pulang atau dimakan di sana, dan akan tambah ribut kalau ada yang menumpahkan minuman. Hmm, itu belum seberapa, karena menjelang lebaran kami akan mempersiapkan takbiran. Kalau takbiran, kami biasanya keliling Kotabaru. Keluar dari kampung, melewati Jogja Study Center, berjalan ke arah Padmanaba/sma 3 Yogya, melewati gramedia, lalu ke arah restoran cepat saji. Bukan untuk makan-makan, hanya lewat saja. Dan, biasanya yang ikut takbir keliling bukan hanya anak-anak yang Muslim saja. Hampir semua anak ikut, sekalipun bukan Islam. Yah, beginilah cara merayakan, bukan hanya takbiran, tapi juga perayaan atas kebersamaan kami.

Dan tahun ini, saya sudah tidak mengikuti “ritual”-nya. Maka, saya berniat mudik ke Kampung Code itu sebagai perayaan atas kerinduan.



Komentar