1 Mobil 1 Orang

Geli juga baca pojok Kompas hari ini “Laju kendaraan di Jakarta pada 2011 secepat orang jalan kaki. Mendingan gowes, sehat, gratis lagi.” dan pagi ini saya juga mengalami kemacetan, seperti biasalah sehingga saya tertidur di atas bus. waktu membuka mata, ternyata bus belum sampai juga, dan di luar mobil2 berebut jalan. setelah diamat-amati, sebagian besar mobil hanya berisi satu orang saja.

jadi, saya bersyukur atas kemacetan ini agar mereka tahu rasanya. tapi, setelah tengok ke kiri, di dalam bus, ternyata sesak oleh penumpang. panas, gerah dan penuh bau aneka ragam. hm, jadi, ternyata satu bus ini diisi puluhan orang berdesakan, tanpa pendingin udara, tanpa kipas angin, hanya ditemani kesabaran jadi manusia kebanyakan (keanyakan miskin). kalau dibandingkan yang di dalam mobil pribadi, tentu berbeda jauh. dari bentuk luar saja sudah beda kelas. yang satu menyerupai rongsokan besi berjalan, yang lainnya masih mulus kempling-kempling. yang satu sesak dipenuhi orang-orang, sudah tidak peduli soal pelecehan atau soal muhrim atau bukan, semuanya berdesak-desakan di dalam satu bus kotak sambil mengangkat tangan ke pegangan besi, yang otomatis menebar parfum maut. sedang yang di mobil, sekalipun macet juga, tidak berkeringat sedikit pun.

itulah mengapa fozibowol melarang urbanisasi, urbanisasi orang kere. kalau yang datang ke jakarta orang kaya, berduit, bermobil, tentu diberi segala bentuk fasilitas. kalau yang kere jelata yang bermaksud memperbaiki tingkat penghidupannya, maka mereka akan diberi hidangan razia yustisi atau apalah itu istilahnya. seolah, kere jelata itu bukan warga negara yang punya hak yang sama dengan yang berduit, bermobil dan tampil wangi tiap hari. kami yang bacam ini hanya bagian dari sebuah “anarki”.

tapi, tak apalah. orang bacam macam kami sudah biasa hidup begini, sudah jadi portofolio. berdesak-desakan di bus asik juga, bisa senggol sana sini karena terpaksa. tak punya kendaraan pribadi juga tak apalah, kita punya kaki sendiri. toh setahun lagi, laju mobil sama saja dengan kecepatan kaki kita. jadi, sesungguhnya mubazir saja punya mobil kalau jalannya seperti keong begitu. tak punya pendingin udara sendiri tak apalah, kami bisa hirup sisa pembakaran mobil orang-orang kaya biar paru-paru kami ini kuat, sekalipun tak berumur panjang. tak apalah kalau ada razia, kita senyum-senyum saja seperti orang gila, karena tujuan manusia kan cari bahagia. kalau hanya untuk cari bahagia harus bersusah payah cari kekayaan, beli mobil sekian, tapi hanya untuk disetir di jalan yang macet, apalah jadinya. tak apalah logika kami aneh dan nyleneh, toh belum ada larangan dari pemrentah.

dalam rangka mendukung pemindahan ibukota, kita perlu mempercepat kejenuhan jakarta. maka, mari dukung gerakan satu mobil untuk satu orang! juga dukung urbanisasi. mari gerakkan orang2 kampung datangi jakarta, biar tambah sesak. kalau sudah jenuh, sesak, dan bosan, pemrentah pasti bersedia memindah ibukota. soalnya kita tahu, mereka bekerja dengan cara reaksioner. jadi, klo belum ada masalah, mereka belum mikir. maka daripada itu, dukung gerakan menjenuhkan jakarta!

sekarang ini, penduduk jakarta sekitar 9,6 juta jiwa dengan laju kenaikan 1,39% per tahun. hal itu perlu ditingkatkan kalau kita ingin segera lepas dari masalah. mengingat uang beredar di jakarta paling banyak, maka marilah semut-semut kampung datangi jakarta, rebut rupiah demi rupiah, entah bagaimanapun caranya. yang jelas, sebagai warga negara seharusnya kita berhak mencari penghidupan di negara ini, tidak peduli jakarta atau papua.

Komentar