Tinggalkan Bumi Atau Punah

Stephen Hawking memperingatkan umat manusia bahwa dalam 2 abad mendatang harus bisa menaklukkan angkasa atau manusia akan punah. Ia mengatakan, seperti dikutip bisnis.com, “Saya optimistis jika kita bisa menghindari bencana dalam 200 tahun ke depan, maka spesies kita akan aman.” Ilmuwan asal Inggris itu mengaitkan masa depan manusia yang sedang memasuki periode kritis terkait keserakahan manusia yang terus mengerus sumber daya Bumi yang terbatas. ”… kode genetik kita mengandung insting agresif dan egois yang menjadi kelebihan manusia untuk bisa bertahan di masa lalu,” katanya.

Wow, apa itu tidak membuat kita merinding? Ini bukan soal kita sekarang, tapi mengenai masa depan manusia. Untuk saya sih, memang akan ada waktunya bagi manusia untuk punah dan mereka tidak berhak menyesalinya karena merekalah yang merusak bumi. Tapi, bagi orang lain, bagi mereka yang baru menatap dunia, bisakah menerima bahwa mereka lahir untuk sebuah kepunahan?

Manusia berusaha maju dengan modernisasi, namun mereka tak merasa menghancurkan sendi-sendinya sendiri. Pertumbuhan ekonomi berbanding terbalik dengan kerusakan alam. Setiap angka presentase pertumbuhan PDB, menyumbang kerusakan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Desain ekonomi dunia tidak pernah memperhitungkan kerusakan ekologi dan sosial. Setelah membuka hutan-hutan jadi perkebunan, mereka akan semakin terikat untuk maju dan rusak. Tiap jalan yang dibangun dan dibeton, hanya memperhitungkan soal ganti rugi tanah pada penghuni sebelumnya, tidak pernah membayar kompensasi kerusakan panjang yang mereka jelang.
Demi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, lebih ekspansif, segala sesuatu bisa dikorbankan, termasuk anak-cucu. Mengapa pemerintah melindungi industri rokok dan tidak pernah melindungi kesehatan masyarakatnya? Sebab mereka menginginkan grafik pendapatannya membentuk bukit, naik, dan tidak pernah menyadari lembah yang akan dijumpai setelah sebuah grafik mencapai puncaknya. Grafik pertumbuhan di setiap negara akan turun jauh lebih cepat daripada usaha berpuluh-puluh tahun mereka.

Mengapakah industri-industri besar merasa perlu melakukan kegiatan CSR, padahal kerusakan ekologis dan ketimpangan sosial itu pula yang mereka hasilkan. Kampanye-kampanye CSR hanyalah sebuah halaman putih setelah kaver sebuah buku. Di belakang satu halaman putih itu, ada ribuan lembar halaman hitam.
Mengapakah industri kecantikan tumbuh di dunia yang semakin tidak cantik? Mereka hanya meciptakan kehancuran lebih banyak dengan kampanye kulit puith mereka. Mereka telah mendorong keinginan-keinginan abnormal segenap perempuan yang memuja “putih”. Mereka hanya mendorong orang-orang menciptakan lebih banyak kesia-siaan.

Mengapakah industri elektronik perlu dikembangkan di negara-negara ketiga? Karena negara-negara maju hendak membuang sampah-sampah komputer mereka dengan menumpuknya di China, India, Baglades, dan lain-lain. Karena setiap inovasi yang hanya peduli pada efisiensi dan ekonomi, adalah setumpuk sampah yang berubah-ubah warna.

Karena itu, apakah negara-negara maju hendak meninggalkan kita di bumi dengan mendekap kehancuran? Mereka akan menaiki pesawat super canggihnya hasil dari kerusakan berabad-abad, dan menemukan dunia baru. Sedangkan manusia-manusia negara berkembang hanya akan menerima dengan senang hati seluruh sisa racunnya. Mereka akan memberikan lambaian penuh kebahagiaan, dan kita akan menatap dengan wajah kecut di bumi yang tinggal setumpuk sampah.

Selamat menikmati sumpah serapah ini!
amin.

Komentar