8/16/2010

Tiket KA Mudik yang Ludes

Tuuuut… tuuut… tuuut… Bunyi kereta? Bukan. Itu bunyi dari hape saya. Mau pesan tiket online. Suara perempuan di kejauhan menjawab lalu hilang dan berganti lagi dengan mbak tutut… Tak berapa lama kemudian, saya dapati berita kalau tiket kereta api untuk tanggal 7 dan 8 tujuan jogja sudah habis. Hahahahaha…. saya hanya bisa tertawa dalam hati.

Baru tahun ini saya jadi bagian dari gerombolan mudik dari jakarta ke daerah lain. Mudik bukan hal penting untuk saya, tapi sepertinya ada beban sosial kalau saya tak ikut pulang dan menemui orangtua. Untungnya, saya tidak pernah ambil pusing dengan lebaran. Beberapa tahun ini saya lebih memilih melewati hari pertama lebaran di jogja, bukan di rumah orang tua. Saya tak merasa berdosa karena itu, pun tak perlu rikuh. Dan, sekali ini, rasanya saya juga tak perlu berdosa kalau tak ikut mudik.

Saya menyukai ramadhan, tapi kadang agak sensi dengan lebaran. Harga-harga naik, angkutan naik (apalagi angkutan di daerah-daerah yang naiknya bisa sampai 50%), orang-orang tua dituntut menyediakan baju baru untuk anak-anaknya…. wow. Saya tak membencinya (toh saya juga dapat thr, bingkisan dll), hanya kadang kasihan. Tuntutannya selalu sama, bagi mereka yang kaya maupun jelata, sediakan pakaian baru untuk anak-anak, makanan tersedia di meja, perbaiki rumah biar lebih indah, keluarkan biaya untuk ini dan itu… Tanpa perlu menelaah apa akibatnya bagi kalangan rendah, ini adalah sambutan yang luar biasa untuk sebuah hari raya. Mungkin, yang saya tolak adalah kemewahan yang sering dipaksakan.

Mudik. Muka diktator? Ya elah, masa nggak tahu arti kata yang tiap tahun naik daun pada bulan puasa. Mudik itu nggak penting bagi saya. Tentu berbeda dengan orang lain. Mudik bisa jadi sebuah “ritual” yang paling ditunggu-tunggu. Kepadatan lalu-lintas adalah sesuatu yang menakutkan. Tapi, tiap tahun bukannya berkurang, arus mudik malah semakin menjadi-jadi.

Seperti saya katakan tadi, ini pertama kali saya melewatkan bulan puasa di jakarta. Dan, kemungkinan saya “diharuskan” mengikuti gelombang mudik memang cukup menakutkan. Saya pribadi sudah memutuskan tak akan pulang. Meski kemudian, nasib berkata lain, ada teman yang mencarikan tiket kereta, dan akhirnya saya akan ke jogja. Itu bukan tempat orangtua saya tinggal. Saya sudah bilang ke ayah, tak akan pulang lebaran ini. Saya ke jogja hanya karena ada waktu libur yang lebih panjang daripada sekadar tanggal merah. Meski tak ada saudara sedarah di jogja, ke sanalah saya akan …. “mudik.” Maka, mudik di sini jelas akan berbeda dengan mudiknya orang-orang kota ke kampung halaman. Mereka mengunjungi saudara-saudaranya, orangtua, kakek-nenek. Saya tidak, saya mudik ke masa lalu.

Hm, artinya saya senang bisa memaknai mudik saya pribadi. Saya tak perlu meniru. Tapi, saya masih khawatir. Saya tak ingin mudik jadi tradisi lebaran saya. Saya ingin ini jadi hari raya, tanpa perlu menariknya kepada tradisi mudik. Saya mau tradisi saya sendiri. hehehehehe… biar orang mau bilang apa, saya tetap tak suka tradisi mudik. Saya lebih suka mencari kesempatan-kesempatan yang lebih sepi, dimana kita meresapi pertemuan dengan saudara bukan dengan alasan lebaran, tapi dituntut kebutuhan untuk saling mengikat persaudaraan. Saat hari raya, rumah saudara kita pun tampak “megah” dengan seluruh hidangan penyebab inflasi terbesar negara ini, makanan dan minuman. Bagaimana kalau kita melihatnya di hari biasa, saat mereka menjalani hari-harinya yang panjang? Mungkin kita bisa melihat sesuatu yang lain loh… Karena mungkin, saat hari raya semua orang tampak bahagia tanpa beban hidup. Padahal, hari raya itu hanya berapa hari dari satu tahun yang dijalani.

Mungkin memang sebagian besar orang mudik telah meresapi yang namanya “perantauan,” sehingga pada satu momen paling tepat, mudik, mereka menemukan jalan pulang. Pulang adalah momen yang kita sebut mudik tadi. Pulang berlaku bagi banyak manusia. Orang meninggal dunia pun disebut pulang ke haribaan-Nya. Pulang kepada sang Pencipta. Anak yang pergi sekolah pun akan pulang ke rumah. Anak ayam juga pulang ke kandang. Para ayah yang bekerja pulang ke keluarganya. Para kekasih pulang ke pujaan hatinya. Tapi, pulang kan tidak harus pada hari raya, biar kita melihat kondisi sebenarnya atas tempat pulang kita itu.

Toh, ada sebagian manusia di muka bumi ini yang memilih pergi tanpa mengenal kata pulang. Mereka ini mungkin manusia-manusia asing bagi yang normal karena memilih jalur yang berbeda sebab pendirian. Atau, sebagian mereka dipaksa untuk tak mengingat pulang. Orang-orang yang merantau berbekal gombal yang menempel di tubuh saja, hidup di kota sebagai gembel semata, mungkin tak perlu menambah beban hidup dengan mengingat pulang. Atau mereka yang secara sadar dengan segenap pengetahuannya memutuskan bahwa satu-satunya pulang adalah ke masa depan atau ke dunia baru. Saya tak tahu, hanya mengadai-andai bahwa di dunia ini memang banyak hal yang tak “umum”, yang memilih jalannya sendiri, yang tak mau dipaksa masuk gerbong kenormalan.

0 komentar:

Posting Komentar