Pembunuh Waktu Senja

Para Un Angelito
Hari sudah senja. Kota terasa lebih damai saat begini. Di sudut-sudut taman terdengar anak-anak bermain. Mereka menikmati cuaca cerah hari ini.
Tahukah kamu, siapa yang berpikir bahwa senja adalah waktu yang pantas untuk membunuh? Aku. Sebenarnya sangat jarang orang berpikir sepertiku. Orang membunuh di malam hari atau di cuaca yang panas. Mereka takut diketahui umum dan umumnya membawa rasa takut dalam perbuatannya.
Aku adalah anak muda yang berbakat untuk melakukan sesuatu saat senja. Diam di taman dan mengawasi orang-orang sambil minum kopi. Dengan sebuah niat, yang merupakan keseluruhan “kesungguhanku”, aku bisa mendekati seorang perempuan yang sendiri dan menyeretnya ke rimbu pohon pagar. Ia mati tanpa suara. Hanya darahnya akan mengundang naluri anjing untuk menyalak. Tapi ini Indonesia, anjing tidak bisa begitu saja berkeliaran. Mereka benci hewan ini. Hewan manis dan sedikit ganas yang enak.
Kadang aku mengayuh sepeda, melewati sebuah jalan di perumahan dan menggoda gadis yang sedang akan pergi jogging. Mereka menyukai pria tampan dan agresif, dan aku akan berpikir banyak tentang bentuk tubuh mereka setelah mati. Tinggal kau ajak melihat sesuatu yang aneh di ujung gang, dan ia bisa tergeletak di sana sampai beberapa menit sebelum terjadi kekacauan. Tentu saja itu perumahan yang sepi, perumahan orang-orang kaya, dan aku tidak pernah dicurigai seorangpun sebagai pembunuh di waktu senja.
Membunuh adalah satu hal dan senja adalah hal yang lain. Aku merasa jadi benang penyambung yang berharga bagi seluruh hidup warga kota. Di taman aku sering melihat perempuan-perempuan sasaranku berlari-lari atau bermain dengan pacar mereka. Mereka suka menggunakan pakaian yang ketat dengan warna pastel, warna pink adalah warna pasaran paling jelek yang sering menempel di pakaian para perempuan. Aku terkadang ingat dengan babi bau kalau melihat hal itu. Itulah satu-satunya alasan kenapa perempuan menarik untuk menjadi bagian dari hidupku, bagian dari sejumlah mayat yang terus-terusan mencekam koran-koran kuning.
Aku memang bukan laki-laki yang berpikir dengan cara biasa. Senja yang jelek akan mengotori sensasi pembunuhan, demikian sebaliknya. Dan saat aku mendapati perempuan telah tergeletak, hal pertama yang kulakukan adalah menutup mata mereka yang kurang ajar itu. Mata itu begitu sombong dan jelek, persis mata mayit. Tapi, aku tidak akan mencongkel kejeleka macam itu, aku hanya akan mengambil yang perlu. Ini akan terlihat sebagai perampokan biasa, meski mereka tidak membawa apa-apa selain pakaian warna babi itu.
“Sudah dengar pembunuhan di perempuan di kompleks Pelangi?” laki-laki tua ini adalah ayahku yang mengajakku pergi ke taman, karena mungkin dikiranya aku ini anjing yang perlu jalan-jalan.
“Perempuan lagi, ya?”
“Perempuan cantik. Anak pengusaha meubel yang gagal dalam pemilihan bupati. Tahu kan? Kau harus jaga baik-baik pcarmu, kalau kau punya pacar, jangan sampai bernasib seperti ini. Ingat tante Rosela? Ia juga mati ditikam orang. Hehhh, kota ini seperti penuh duri.” Ayahku agak sombong dalam hal analisis dan kenangan. Mungkin dipikirnya aku tidak bisa mengingat-ingat masa lalu, atau aku ini dianggapnya sebagai anjing sialan yang nggak bisa mikir.
“Ayo kita pulang, Yah!”
“Lihat gadis-gadis itu, mereka kelihatannya belum mengerti beratnya dunia saat umurnya empat puluh tahun.”
“Kau saja yang kelihatannya reyot dan sengsara! Hei lihat gadis babi satu itu, kelihatannya dagingnya enak.”
“Kita sebaiknya pulang, Helly. Seseorang menunggu kita di suatu tempat.”
Bayangkan, kau berjalan dengan lelaki tua yang membawa tongkat, maka kau akan tampak seperti seorang pengawal yang harus selalu hati-hati, jangan-jangan laki-laki tua itu akan terjatuh di tengah jalan dan tertabarak mobil. Berakhirlah riwayat laki-laki reyot itu seperti sampah kota. Makanya kau perlu selalu waspada dan mengerti apa kemauannya.
Ia hanya akan pergi ke sebuah tikungan yang sunyi. Seseorang menunggu di sana. Seorang laki-laki yang akan membayarnya dengan uang yang banyak.
“Bagus, Gun. Kamu secerdik yang kukira.” Laki-laki bodoh itu memuji dengan sangat jelek. Ia pikir kecerdasannya mengira sesuatu sangatalah membanggakan, padahal ia hanya koruptor tengik yang bisa mati kapanpun ayahku menginginkannya.
“Ha ha ha…. “ayah memandang tajam ke mata laki-laki yang memberinya uang, “sekali ini memang korbannya agak sulit dan aku terpaksa melakukannya di dekat rumahnya sendiri. Maafkan aku, ya. Aku harus segera pulang. Helly tampaknya tidak suka denganmu.”
“Apa ia mengonggong?”
“Kau pernah dengar anjing bisu?”
Kami pergi meninggalkan jejak yang baunya menyengat. Aku baru sadar, ayah belum mencuci pisau dalam tongkatnya. Makanya, seharian ini aku selalu ingat pembunuhan di kompleks Pelangi.
Aku bukan anjing, yakinlah. Aku hanya diam, terjebak di situ, terjebak dalam tubuh anjing bisu. Kalau aku sedang dapat tugas, rohku akan keluar dan menjadi kan ayahku itu laki-laki muda yang kecerdikkannya melebihi siapapun di dunia ini, untuk membunuh. Mana mungkin laki-laki biasa dan reyot punya pikiran dan kemampuan membunuh saat senja.
kulkul
(yakinlah, aku sudah susah payah mencari ending yang bagus, tapi hanya bertemu yang jelek)

Komentar