8/02/2010

Nuna

Udara menyengat ini pasti lebih dari 40 derajat celcius. Sumpah mati, tubuhku jadi kayak terpanggang waktu melewati jalan yang ramainya luar biasa. Belum lagi waktu kendaraan lewat tepat di sampingku dan mengeluarkan asap gelap, panasnya seperti menusuk paru-paru. Biasanya aku tidak suka jalan di siang hari yang panas seperti neraka ini. Tapi, demi untuk dapat makan hari ini dan besok, rasanya pengorbanan juga perlu.

Maksudku, tentu kalian mengerti bahwa orang miskin sepertiku perlu pekerjaan-pekerjaan kasar yang menyengsarakan untuk mempercepat mencapai kematian, mungkin. Dan, pekerjaanku jelas tidak tentu, sama tidak menentunya dengan makanku. Tapi, aku pikir kalau aku tetap kerja maka aku juga tetap bisa makan. Dan pekerjaanku yang tidak tentu itu kadang menuntutku, atau sering, berjalan di bawah terik matahari begini. Aku tidak ingin bohong, bertahun-tahun aku berjalan di bawah terik matahari begini untuk pekerjaan yang tidak tentu. Tapi yang kali ini neraka benar rasanya.

Aku menyesal, aku malu bercerita apa pekerjaanku sebenarnya. Ini suatu rahasia, maksudku sesuau yang kalau diungkapkan akan bikin malu aku dan mungkin keluargaku dan beberapa orang lain-lain yang gengsinya akan terbakar begitu tahu aku bekerja begini ini. Yah, kalian tahulah, aku ini masih kuliah dan anak yang kuliah kan seharusnya belajar mati-matian biar cepat lulus dan mendapat nilai yang mentereng sehingga orang-orang akan selalu bangga bahwa aku ini sarjana anu. Dan rata-rata kan yang namanya mahasiswa itu anak orang kaya, setidaknya cukup mampu bayar ini itu, beli buku ini itu, pakai ini itu, dan ke ini itu. Tahulah kalian tentang apa itu dan apa ini.

Bapakku saja paling-paling akan menyeka air mata tahu yang begini, soalnya ini kan tahun yang sudah dua ribuan kali dirayakan manusia, masa masih ada mahasiswa yang kerjanya begini. Rektor kampusku bisa-bisa jadi gatal kalau tahu ada yang begini, atau mungkin terserang stroke 2/5 tubuhnya. Teman-temanku, kalian juga harus tahu, tidak ada yang kukasih tahu apa kerjaanku. Pokoknya ini pekerjaan yang bikin otak mengecil karena jarang pakai otak seperti nulis atau mikirin rumus yang tidak pernah mikirin yang memikirkannya. Dan itu sebabnya aku belum lulus setelah lima tahun dibakar panas neraka begini, karena otakku agak lelah kalau sudah sampai kamarku dan mulai buka buku untuk baca materi entah berantah.

Makanya, siang ini benar-benar neraka untuk orang miskin kayak aku ini. Tapi mataku, kalian harus tahu itu, berbinar-binar seperti sebuah padang rumput berembun di bawah sapuan cahaya matahari pagi. Kalian tahu kenapa?

Dalam jarak sebelas meter di dapanku ada baliho besar penjual mie instant yang gambar ceweknya cantik dan kelihatan setengah lapar sedang menyantap mie goreng yang entah digoreng entah digodog juga. Cewek itu mirip, yeah, mirip benar dengan Nuna. Kalian pikir siapa Nuna itu? Ibuku? Bukanlah, karena ia kelak akan jadi pendamping hidupku yang mungkin akan miskin juga. Tapi, percayalah, Nuna itu orang kaya yang tidak sombong dan benar-benar membantuku percaya bahwa aku ini cukup sepadan untuknya.

Tapi siang panas begini, mata berbinar pun tidak akan meneteskan embun yang menyejukkan. Makanya kupikir tepat membandingkan cewek di baliho dengan Nuna, karena Nuna itu tidak lekang oleh waktu kecuali ia dibakar lima tahun di neraka kayak gini. Sedang baliho itu paling bertahan berapa bulan sebelum yang pasang bosan juga lihat wajah dengan mie meleler di mulut. Tapi, Nuna mahluk hidup yang sanggup bertahan di beberapa alam. Ia bisa kayak mengerti dunia elit yang glamour milik bapaknya sekaligus mau menemuiku yang selalu malu-malu kalau harus ngobrol di pinggir kali. Tapi kadang ia sedang-sedang saja kalau ketemu di kampus, ngobrolnya juga nggak kelihatan cerdas-cerdas amat.

Aku tidak bebas kalau ceita soal Nuna, seperti ada yang harus selalu kucantumkan kalau aku sebut namanya. Nuna yang cantik lah, Nuna baik, Nuna yang ini itu atau itu ini. Dan terakhir ketemu aku menjulukinya sebagai perempuan satu-satunya yang akan bikin neraka tidak sepanas yang kukira. Ah, itu bohong. Yang bener, ia kujuluki … nanti sajalah kalian tahu.

Soalnya, aku barusan lihat Nuna si jalang sedang memeluk laki-laki di atas motor. Mungkin ia setan, soalnya mataku juga jadi terbakar kayak mau meledak.



kul-kul

0 komentar:

Posting Komentar