saban kali main ke tempatku, dia akan memintaku mengeluarkan mesin ketik. matanya sipit dan bening, seperti pedang terasah. ia meminta selembar kertas lalu mengamati caraku memasangnya di mesin ketik. dia akan mengusirku dari hadapan mesin ketik. dia akan menguasai mesin ketik itu sepenuhnya, seperti hendak menulis sebuah novel.

aku pergi ke dalam sebuah buku sambil sesekali menengoknya. dia berpikir keras, sekeras penyair yang belajar menaruh titik dan koma sebelum judul. kupikir, dia sedang mencoba mengenali idenya, menjabarkan dan menata di kepalanya. matanya yang sipit makin sipit mengarah ke mesin ketik. entah, mungkin dia sedang berpikir mengenai kata apa yang tepat untuk mengawali sebuah kalimat.
namanya nug. waktu aku pertama kenal, dia sudah tak sekolah. katanya dia pernah mengenyam kelas satu sd. dia sudah lulus dari kelas satu. hebat ya. sudah bisa membaca meski sangat lambat. dia suka meminjam buku dariku, buku resep makanan. untuk dinikmati foto-fotonya yang amat menggiurkan. dan sekarang, dia sedang mencoba menulis. kemarin sudah kuajari mengenai hurup kecil dan hurup kapital. dia sudah menemukan titik dan komanya sendiri. dia telah sukses menulis namanya tanpa kehilangan satu hurufpun.

“Mas,” wow, dia tampaknya menemukan ide besar, “hurup n e endhi?” (huruf n-nya mana?)

dubraak….

aku pun menunjukkan sebuah huruf di bawah, dekat b, di samping m. wajah nug menjadi sumringah, tersenyum gembira, seolah menemukan sebuah mutiara. dia mulai dengan huruf itu. N, lalu dicarinya huruf kedua. A. M. A dan ditambahinya titik dua. kemudian ia mulai dari N lagi untuk sampai pada namanya sendiri, Nugroho. Pintar, batinku. “Hm, hebat. ayo teruskan!” nug jadi tersipu dan mendorongku ke belakang. dia tak menginginkan pujian yang terlalu cepat. “belum jadi,” katanya.

nug selalu minta diajari menulis seperti tesa. tesa biasanya menulis namanya, kelasnya, dan sekolahnya. setelah itu, dia akan bingung dan biasanya melanjutkan menulis aneka ragam hal yang terlintas begitu saja. seperti, “mas tovek elek,” atau “tesa ingin es krim biru.” nug biasanya memperhatikan, tapi dengan mengambil posisi agak jauh. entah, apa yang ditakutkannya. kadang tesa menantang nug untuk menulis. tapi nug biasanya hanya diam dan menggeleng, meski aku tahu nug bisa melakukannya.

nug suka dengan mesin ketik manual itu. entah karena bunyinya, yang diiringi bunyi “ting!” sebagai peringatan hampir habisnya sebuah baris. atau mungkin nug ingin menulis seperti tesa. yang jelas, tesa sekolah dan nug tidak. biasanya aku biarkan dia memainkan mesin ketik itu sesukanya. aku tak suka mengintervensi anak-anak. kurasa dia juga menderita melihat anak-anak lain sekolah dan bisa menulis namanya bersanding dengan angka kelas yang sedang dijalaninya. sesekali kuajari ia menulis hal yang berbeda agar tak bosan, tapi nug menolak dan hanya suka menulis namanya, kelas… dan ia menulisnya dengan angka “2″. lalu sekolahnya ia isi dengan … hampa, kadang diisi dengan “sdn gondolayu”.

kalau bosan, kami bermain di luar, atau ke sebuah balai tempat anak-anak biasa belajar pada malam hari. kalau waktu sekolah, tempat itu sepi. aku dan nug sering di sana, sekadar menikmati udara atau membacakan cerita. aku sering coba mendorong dan membujuk agar ia melanjutkan sekolah, tapi biasanya dia beralasan macam-macam. kadang aneh, kadang masuk akal. kadang soal biaya, kadang tentang baju seragamnya yang dibakar orang, kadang tentang ayahnya yang tak pernah memberi ijin. ayah nug memang memiliki gejala yang tak bisa kupahami. mungkin phobia sesuatu sehingga tak pernah mengijinkan nug keluar dari kampung. dia selalu ingin melihat anak laki-laki satu2nya itu di sana.

di kampung itu bukan hanya nug yang tak sekolah. ada beberapa anak lain yang juga tak sekolah. biasanya hari-hari mereka diisi dengan membantu orangtuanya memilah-milah sampah, atau hanya bermain-main di sungai mencari ikan-ikan kecil, lalu dimasukkan ke dalam plastik bening. kalau dapat nila, mereka bawa ke sebuah kolam kecil kreasi mereka sendiri dan memelihara ikan-ikan kecil itu di sana. ikan itu akan dirawat dan dijaga sepenuh hati. tak boleh ada yang menganggu.

nug tak suka bermain dengan mereka. dia lebih suka ke kamarku. memainkan mesin ketik atau melihat gambar-gambar makanan. beberapa hari ini ia terlihat murung dan pelit bicara. kelihatannya dia dirundung sesuatu. kalau sudah begitu, sulit sekali mengajaknya bicara. aku akan mengajaknya mencari cicak di balai. cicak itu ditangkap dengan tangan atau dipukul dengan sapu. setelah terkumpul, cicak-cicak itu akan kami berikan pada ikan lele di kolam milik pak watno. kami berdua senang melakukannya, menikmati cara ikan-ikan rakus itu menyantap cicak hidup.

malam itu nug bermain ke kamarku. agak jarang dia ke kamarku pada malam hari. kelihatannya karena ada cek cok di rumahnya. kalau ayahnya sedang mengamuk, yang biasanya terjadi setelah minum minuman keras, semua orang bisa jadi sasaran. maka, nug akan pergi keluar, tidur di rumah tetangga atau ke tempat saudaranya yang agak jauh. ayahnya akan dihadapi ibunya seorang. mungkin malam ini dia berniat tidur di kamarku. maka kubiarkan dia menikmati mesin ketik itu, aku tenggelam sendiri dalam bacaanku.

nug memainkan mesin ketik seperti biasa. aku sendiri kelelahan setelah siang tadi konsultasi dengan dosen pembimbing dan harus memperbaiki bab satu-ku. bab satu sialan. entah berapa lama nug memainkan mesin ketik itu, karena aku tertidur saat membaca buku. bangun-bangun sudah pagi. hmmm

“mas tovek! mas! mas tovek!” seorang anak memanggilku dari luar. nug sudah tak di kamar. entah jam berapa dia pulang. waktu aku keluar, tesa tampak habis berlari-lari. dia sudah mandi dan mengenakan seragam sekolah, tapi masih mengenakan sandal jepit.

tiab-tiba aku tersadar akan sesuatu, orang-orang kampung ramai. mereka berlari ke balai. akupun ikut ke sana, mungkin ayah nug semalam sudah merusak balai. ah, ternyata bukan. di sana, tubuh nug tersampir di sebuah sarung yang menjerat lehernya. sarung warna hijau. aku kenal sarung itu. itu sarungku!!! mata nug tak bisa terpejam, wajahnya biru. orang-orang agak takut menurunkannya. ayah nug lah yang kemudian menurunkannya. dia sudah sadar dari mabuknya semalam, meski matanya masih merah. entah karena alkohol atau karena menangis. tak ada ibu nug. kata orang dia pingsan.

hmmm… aku sendiri seperti belum sadar. bangun tidur dan langsung disuguhi hal demikian, seolah bukan hal yang wajar. ini seperti mimpi. tapi, sarung itu, sarungku!

hari itu, kampung kami diratapi duka. meski nug bukan warga teladan, atau orang yang erjasa, tapi caranya meninggalkan kami sudah cukup membuat seluruh warga merasa kecolongan sesuatu. untung, tak seorangpun menyalahkanku atas peran sarung hijau, yang biasanya lebih sering jadi selimut daripada untuk shalat itu. mereka juga tak mengungkit keberadaan nug semalam di kamar. mereka mungkin belum sadar mengenai sarung itu dan keberadaan nug semalam. aku jadi ngeri sendiri. tidak mungkin lagi menjamah sarung itu, apalagi mengklaim sebagai milikku. itu punya setan. entah setan mana. waega kampung sepertinya juga belum sadar tentang sarungku itu.

aku kembali ke kamar dengan lunglai. mencoba menyadarkan diri, benarkah nug melakukannya sendiri semalam. apakah bukan aku yang ngelindur, lalu menjerat lehernya, dan menggantungnya di balai?

aku lesu. mesin ketik itu masih menyisakan kertas di sana. oh, dia semalam sempat menulis namanya.

Nama: Nugroho

Kelas:2

Sekolah:SD NGondolayu

dan, di bawahnya lagi dia menulis sesuatu. “aku igin sekolah,”

ia lupa menambahkan huruf n. dia juga salah memberi tanda di akhir. seharusnya bukan koma, tapi titik atau tanda seru. hmmm… tiba-tiba terlintah sesuatu. aku mendekat ke mesin ketik itu, dan mulai mengetik di bawah tulisan itu.

aku igin sekolah,

agar bisa menyisipkan huruf n dan melengkapi inginku,

aku ingin sekolah, agar tidak kehilangan n lagi!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama