“Tak perlu berjanji padaku!” katanya dengan suara tak jelas apakah memberi pernyataan atau memelas. Dia ini, katakanlah seorang pelajar, seperti kebanyakan mahasiswa, yang berusaha mendapat posisi yang baik di dalam komunitasnya. Yak, baik di kampus atau dalam kegiatan social lain. Mengapa ia melontarkan jeritan semacam itu? Suatu kali aku bertanya, hanya karena tidak banyak tema yang bisa kutemukan manakala berbincang dengannya. “Mengapa?”

Dia menggeliat, sepertinya menandakan suatu semangat untuk menjelaskan duduk perkaranya. “Aku pantas kecewa kalau orang-orang yang dekat denganku ingkar pada janji yang mereka ucapkan padaku. Mereka itu bahkan ada yang dosen, teman selingkuhannya teman, gadis-gadis yang kudambakan, teman-teman aktivis nasionalis, ya, bahkan mungkin yang kukenal sangat sholeh dan sholihah… dan, mereka semua pernah ingkar janji, tidak secara khusus padaku, tapi pada apa yang kulakukan.” Ia kemudian panjang lebar menceritakan kekecewaannya.

“Apa kau tidak pernah ingkar janji?” kataku mencoba membalik pernyataanya, hanya biar seolah aku membela diri karena akupun pernah sekali dua kali tidak memenuhi janji padanya.
“Ya. Kurasa… kadang itu dilakukan tanpa sadar, atau kadang begitu mudah aku melupakan janjiku sendiri. Ini mungkin ganjarannya.”
Aku bergidik, kalau itu mengenai ganjaran atau balasan yang seolah-olah memang ada karmanya, dunia ini akan selesai begitu saja tanpa kita sempat secara sopan-santun menayakan alasan-alasan kita hidup. Bagiku, moralitas macam itu hanya ada dalam dongeng, seorang berbuat baik maka akan ada balasannya, juga sebaliknya.

Kurasa, yang ia temui adalah penyakit sosial. Aku sendiri pernah mengalami, dan kebayakan orang Indonesia kurasa juga sama, kalian juga mestinya juga, bahwa kadang orang-orang dekat kalian mudah sekali membuat janji dan mudah sekali mengingkarinya. Bahkan, orangtua kita pun kadang justru menjadi orang pertama di dunia yang ingkar janji kepada kita. Bukan berarti mereka itu buruk, namun sadarkah kita bahwa ingkar janji dan kebohongan telah menjadi kanker dalam masyarakat ini.

Kenapa masyarakat ini? Karena aku menemukan perbedaan mencolok dari pengalamanku bertemu orang asing. Setahun lalu, dua mahasiswi dari Australia mengadakan penelitian di code selama dua minggu. Waktu kutunjukkan bahwa kami punya perpustakaan mereka begitu senang dan mengatakan akan memberikan beberaapa buku. Yak, beberapa hari kemudian dia memberikan buku-buku itu. Ketika kami mengatakan bahwa mungkin kami perlu computer, dia mengatakan akan berusaha mencarikannya namun tidak berjanji akan memberi. Nyatanya, beberapa bulan kemudian ada lembaga nirlaba dari Australia yang mengirim dua computer.

Bandingkan, ketika suatu hari dua wartawan Kompas, yang kantornya masih satu kelurahan dengan kampong kami, datang ke perpustakaan kami. Banyak sekali yang ditanyakan, juga yang diceritakan seputar kegiatan social yang dilakukan dana kemanusiaan kompas yang juga memberikan buku-buku. Lalu, kukatakan, bahwa kami pernah mencoba mendapatkan buku dari kompas, namun disarankan ke gramedia. Lalu, suatu kali aku buat proposal untuk mendapatkan diskon pembelian, dan bukan mencari sumbangan buku, ke gramedia, namun hasilnya nihil. Padahal, gramedia itu masih satu kelurahan juga dengan kampung kami. Mendengar itu, wartawan kompas itu berjanji akan mengajukan permintaan atau mungkin “bilang” ke DKK agar perpustakaan komunitas kami juga diberi buku. Sudah berbulan-bulan hingga berganti tahun, tidak ada kabarnya, padahal berita mengenai perpustakaan kami sendiri dimuat di halaman pertama kompas jogja. Ini bukan untuk men-judge bahwa kompas itu pelit, atau gramedia itu nggak peduli (sekalipun kenyataanya demikian), tapi kurasa ada penyakit dalam apa yang orang ucapkan, dan itu diulang oleh orang lain, dilakukan orang lain lagi… ini menjadikan kita sulit mempercayai orang sebangsa sendiri, padahala kita sendiri sering ingkar juga pada mereka. Bisa dimaklumi, kalau kita nggak bisa percaya dengan elite politik yang mengklaim mewakili kita.

Yah, meskipun aku hanya memberi dua contoh, dan “menyerang” sebuah institusi, yang ingin kukatakan adalah penyakit ingkar janji sudah menjangkit seluruh lapisan masyarakat kita karena tauladan dari tokoh-tokoh, dari orang-orang yang kita hormati, dari mereka yang kita anggap pemimpin, dari orang-orang yang kita sayangi… “kadang, main-main ini menjadi begitu serius ketika kita keluar dari aturan.”

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama