7/13/2010

Surat Cinta Kepada Laki-laki Mabuk I

Hai anak-anak yang memanggul dunia, aku ingin berterimakasih atas harapan yang kalian bawa. Kepada Yuri yang kutemui ketika dua giginya menyembul seperti kelinci lucu, aku meminta maaf atas sekantung jambu air yang belum kuterima. Kepada Intan yang menulis puisi pada mesin ketik manualku, aku sungguh berterimakasih atas cerita lucumu tentang si Amin. Dan, kepada anak-anak yang tak kusebutkan namanya, aku minta maaf atas tulinya telingaku pada penderitaan.

Ada beberapa hal di dunia ini yang membuat saya, yang kadang kasar dan sinis, merasa jadi lembut: menceritakan anak-anak.

Saya agak gugup katika mengingat kalian, sekaligus tumbuh rasa senang dari dalam kenangan. Sampai hari ini, saya masih menggenggam cinta kalian seperti membawa lentera pada seruas jalan remang tak berujung. Cara kalian menerimaku adalah cara yang yang indah. Kami tak lebih dari manusia-manusia bebal yang tak mengerti dunia anak-anak meski kami mengalaminya. Kami datang seperti setan, pada suatu malam yang sangat larut, dan menganggu mimpi yang sedang kalian nikmati. Tiba-tiba, kalian sudah merubung kami. Tidakkah kalian pernah melihat mahluk asing seperti kami? Kalau nanti alien datang ke bumi, akan kutugaskan kalian menemui mereka, karena kalian bisa tertawa pada yang belum pernah menyapa.
Ini surat cinta pertamaku pada kalian, meski berkali-kali aku telah mengatakan bahwa saya menyayangi hidup kalian. Meski, kata cinta tidak mewakili perasaanku sendiri kepada kalian. Letak kalian yang jauh membuatku menjadi gelandangan lagi. Karena dahulu, kegelandangan adalah cara terbaik untuk memahami hidup yang tak kumiliki. Karena dahulu, tujuan adalah perihal yang terlalu mewah bagiku. Karena dahulu, rumah adalah tempat singgah yang selalu saya khianati.

Maafkan kami yang tidak mengerti, tapi rupanya kalian telah menggambar banyak rumah di kertas-kertas polos. Kalian memberikannya padaku bersama sebuah matahari kuning terpotong, sebuah pot dengan sebatang tumbuhan berbunga sebuah dan dua helai daunnya yang kehijauan tak penuh. Kalian berikan sebuah sungai di depan rumahku. Aku mencintai sungai. Dan, kalian goreskan ikan-ikan yang berenang ke hulu. Kalian telah memberi saya cara memahami sebuah tujuan. Kalianlah pembuat rumah untukku dan kalianlah rumah itu. Karena, kalian akan memberi nama pada setiap gambar, dan itu nama kalian yang paling indah, dan kalianlah rumahku.

Cara berkenalan seperti itulah yang tidak pernah saya lupakan. Karena itu, surat cintaku sangatlah patut kutujukan untuk setiap yang memberiku “rumah”.

Ingatkah kalian pada laki-laki mabuk dengan sebuah kalung yang bisa menyiarkan gending-gending jawa? Yang kalian goda karena suara tongkatnya merusak jalannya sebuah perhelatan belajar di ghifari dahulu? Seandainya aku laki-laki tua buta itu, apakah kalian akan merebut tongkatku? Ataukah kalian menuntuk langka ke rumah 3×3 meterku?

Hmmm … Ida, si kecil kumal yang bacam rambutnya. Caramu menghadapi hidup, yang berbekas sebagai guratan di punggung, seolah kau telah memikul seluruh beban kesakitan, adalah caraku untuk menangis. Maafkan saya yang hanya bisa memberimu sedikit nasi dengan kerupuk melempam. Cintaku tidak pernah benar-benar tulus, sebab aku masih saja menyangsikan masa depan kalian. Saya meragukan bahwa kalian itu manusia. Tak ada manusia kecil seperti kalian yang pulang jam dua pagi hanya untuk mencarikan nasi. Tak ada manusia kumal yang dicaci maki tapi masih mengucapkan terimakasih. Tak ada manusia kecil yang bertahan menjadi bahan lelucon dan tamparan, hanya untuk bertahan hidup. Tak ada gadis kecil, tak ada gadis kecil yang menangis di pagi buta di tepi jalan raya. Kau bukanlah manusia. Karena itu, aku maragukan cintaku. Aku curiga, kau ini malaikat yang terpeleset sewaktu berlari-lari di awan. Kau pasti merindukan kawan sepermainanmu yang mengintip dari atas. Kau mungkin tak berani meminta untuk diberi sebuah tangga agar bisa memanjat awan-awan itu dan kembali jadi malaikat kecil yang berlarian mengejar waktu.

Maafkan saya yang menyingkap keberadaan malaikat dalam dirimu. Kau mungkin akan marah padaku karena menceritakan pada orang-orang perihal malaikat kecil yang terpeleset sewaktu bermain-main di atas awan. Malaikat itu, kumal dan bacam, bahkan mencintai kutu-kutu tuanya yang merayakan hari raya dengan baju warni-warna. Kutu-kutu menyedot darah dari kepalnya dan kau, Ida, tetap tertawa seperti malaikat kecil yang berkejaran di atas awan.

Maafkan aku yang ikut memanfaatkan keberadaanmu untuk sebuah rasa kasihan dan tangisan kecil di malam sakitku. Aku selalu memanggilmu ke dalam kepalaku jika ingin menangisi sesuatu karena rasa bebalku. Aku terlanjur karatan untuk bisa menangis tanpa bantuanmu.

Aku mencintaimu seperti seorang majikan tua pada babunya yang paling setia. Karena itu, kau seharusnya menghukumku di sebuah periuk nasi yang berisi batu.

>>ke bagian II (yang sebenarnya belum ada)

0 komentar:

Posting Komentar