Datangnya musim kemarau, bagiku, memiliki kesan tersendiri. Berbeda dengan cara orang lain melihat kerontangnya tanah, aku melihat rekahan bumi seperti kembang mekar. Warna kecoklatan yang ditumbulkan dari rumput-rumput mati seperti kulit pohon tua yang terkelupas. Mereka menyanyikan lagu kematian seindah hidup. Pada hari-hari menjelang datangnya musim itu, aku bisa mencium aroma udara yang mulai mendingin, langit cerah dan layang-layang mengitari lembaran biru paling luas.

Waktu aku masih kanak-kanak, musim kemarau yang dibayangi oleh banyaknya kebakaran hutan, telah membuat burung-burung mengungsi ke pemukiman manusia. Burung punai tanah tiba-tiba berkebun di belakang rumah, mematuk-matuk biji-biji buah tak bernama. Trucuk-trucuk menghabisi pisang-pisang tua. Mata kutilang yang merah mengawasi angin dan menyahuti teriakan perang anak-anak. Satu kali, seekor kijang nyasar ke kebun seperti laki-laki kesepian yang dikejar-kejar api. Tapi, kijang itu seperti bersayap, meloncati semak seperti tidak mengenal ukuran berapa meter rumpun itu menaiki gravitasi.
Atau, pada malam-malam tertentu, tidurku terganggu dengan teriakan laki-laki dewasa di luar rumah. Mereka asyik mengejar beruang yang mengacak-acak kandang ayam dan memanjati kelapa. Tak pernah seekor beruang pun tertangkap sebagai bukti bahwa beruang-beruang itu benar-benar ada. Hanya, pagi harinya, kami akan mendapati bulu-bulu ayam tercecer, kadang juga menyisakan cakar ayam untuk permainan anak-anak. Kadang, dari hutan-hutan kalimantan itu, muncul macan-macan hitam yang membuat kami takut berkeliaran di malam hari. Pada musim kemarau, banyak hal keluar dari persembunyiannya, seperti tanah yang mekar.

Saat orang-orang dewasa merasa susah untuk mendapat air bersih, perjalanan menempuh debu dan jarak 7 kilometer adalah pariwisataku. Menemukan sungai paling jernih dalam hidupku, sungai deras yang dinaungi batu-batu kapur tinggi yang diliputi hijau dan monyet-monyet, adalah pengalaman spiritualku. Ikan-ikan kecil seperti menari-nari melawan arus. Kutangkapi batu yang berlari ke hilir. Kuajari kakiku berenang seperti menaklukkan lautan. Musim kemarauku bermekaran seperti segala sesuatu yang dibuka keindahannya.

Ketika aku dewasa, masih dapat kunikmati rekahan itu di desa-desa yang jauh. Itulah tempat tinggal kami yang kering. Atau juga di sebuah ledok, dimana keceriaan anak-anak tumbuh seperti cahaya, setia meski tak pernah kita berdoa untuk memperolehnya. Musim kemarau kali ini…. aku tak mencium jejaknya. Jakarta tak pernah merekahkan tanahnya, tak menguningkan daun-daunnya, tak menghembuskan udara dinginnya. Burung-burung tidak mengungsi. Binatang-binatang terkurung.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama