Kelayapan di Jogja itu nggak lengkap kalau nggak ditambah dengan mengunjungi malamnya. Malam dalam arti yang saya miliki adalah Jogja dalam kesunyiaanya, meski sekarang sulit dikatakan ada kesunyian di Jogja. Saya sendiri mulai menyukai menyusuri Jogja dalam kesunyiaan tatkala harus mencari anak-anak yang minggat dari rumahnya. Minggatnya mereka memang sudah bagian dari kehidupan di ledok Code, jadi anggap ini sebagai kebiasaan liar yang sangat menantang saja, tak perlu mengulasnya dalam perspektif ratapan anak tiri. Tapi, di awal klayapan-nya saya itu memang karena disodori kenyataan, yang naif kalau saya bilang tidak ada nada kesedihannya, yang kemudian malah membuat saya jatuh cinta pada malamnya Jogja.

Sudah sekian tahun (kayaknya baru satu atau dua yang lalu) sejak saya mencatat tulisan bergaris miring di bawah ini:


lebih dari lima hari dan mereka sudah pergi. Rasanya letih kalau tiap malam harus kuputari jogja dengan sepeda buntut yang kerap rusak itu. Aku ingin menembus angin musim ini yang dinginnya lumayan tajam, tapi seringkali kekecewaan yang kudapatkan.


Barangkali orang akan mengatakan tidak masuk akal anak-anak kecil itu menjadi gelandangan dengan rasa senang sebagai pilihannya sendiri. AKu pun tidak. Tapi kalau harus kukatakan mana yang baik untuk mereka, kurasa rumah masih lebih nyaman daripada emperan toko di sepanjang malioboro atau di alun-alun. Nyatanya mereka memilih jalanan, memilih bebas, memilih kumuh, memilih kehidupannya sendiri. Kadang aku bertanya, tahu apakah sih mereka soal hidup kok bisa-bisanya pergi dari rumah menyusuri belantara kota ini? Mungkin mereka tidak tahu banyak, tidak tahu siapa yang akan mengancam, tidak tahu bagaimana kalau bertemu pedofil, tidak tahu kalau laki-laki kecil juga bisa diperkosa, tidak tahu kalau ngelem akan menghancurkan paru-paru mereka, tidak tahu kalau di antara yang menyenangkan itu telah menunggu sesuatu yang setiap saat dapat menghancurkan mereka, tapi mereka menjalani hal-hal besar yang kuanggap kecil ini. bagaimana mereka membiarkan orang-orang yang hidupnya sudah payah sepertiku harus mencari diantara angin malam dan kesunyian….

kupikir menjengkelkan untuk memperingatkan anak-anak yang belum kembali itu, tapi kurasa lebih banyak orang dewasa di bumi ini yang tidak tahu apa-apa tapi selalu merasa lebih tahu dari anak-anak, merasa lebih tahu daripada orang-orang miskin, merasa lebih tahu daripada orang-orang bodoh. kurasa aku di dalamnya.

Huhhhhh…


Nah, itu awal darap pergumulan saya dengan malamnya Jogja yang ngangeni itu. Saya dan kawan saya, di tahun-tahun awal tinggal di Code, sering harus menyusuri jalan malamnya Jogja hanya untuk menemukan kurcaci-kurcaci dekil yang “melarikan diri” dari kekejaman “rumah”. Tapi, ternyata ada berkahnya lo. Saya jadi menikmati hempasan angin, apalagi kalau bulan Juli, Agustus, dan September… selain tak ada hujan, anginnya cukup mengigilkan. Huuu, tapi, itulah serunya. Apalagi sambil gowes-gowes sepeda… jalanan yang sepi bisa dinikmati sepuas hati. Kadang saya kaget, jam dua dini hari, di Malioboro masih ada anak-anak berkejaran. Seolah mereka itu setan-setan yang merayakan padang bulan. Asyik sekali, seolah keributan itu milik mereka sendiri.

Sedangkan di alun-alun, kita bisa menemukan manusia-manusia sejenis saya, kere jelata, tertidur. Saya juga kadang kaget, di antara mereka ada yang membawa kasur besar untuk tidur di lapangan. Kalau di alun-alun memang asik untuk sepedaan pada malam yang sepi.

Sebelum terlalu tengah malam, nonton kereta datang di stasiun tugu adalah sesuatu yang menyenangkan juga. Apalagi, kalau saya mampir ke warung bakso dan mie ayam, sering dikasih semangkuk mie gratis … he he he he … jadinya, kadang segaja ke sana waktu kelaparan dan sudah kekurangan uang. Mengambil bulp dari kereta yang memancarkan lampu juga bagus lo… saya pernah sekali, dan hasilnya lumayan, sayang fotonya tertinggal di Jogja.

Kalau mau dag-dig-dug, pergilah ke Sarkem. Uhui …. sebenarnya ini petualangan yang asyik bagi mereka yang masih polos dan ingusan. Sayang sekali, saya belum berkesempatan masuk ke gang-gang itu. Saya hanya sering mendengar cerita-cerita dari para tetangga di Code.

Kalau sekarang, mungkin kalian lebih nyaman lesehan di pocinan si atas sungai Code. Ini tempat sebenarnya cukup asik, tapi tidak utnuk saya. Terlalu ramai. Pada awal saya tinggal di code, saya sering melewati tempat itu pada malam hari. Dan, waktu itu baru ada satu warung kopi saja. Mereka menyediakan kopi joss, kopi yang dicelupin areng. Memang, kopi joss yang paling terkenal yang di tugu, tapi variasinya di code sebenarnya juga tidak terlalu buruk. Tapi, kalau pengin sensasi, ada kopi yang dicampur minuman keras … eh, bukan batu lo …

Sebenarnya masih banyak lagi sudut-sudut dari malamnya jogja, malamnya yang sunyi … Tapi, denger-denger ada kabar buruk, yakni kasus-kasus percobaan perampokan gitu. Tapi, kalau di sekitar kota sendiri saya yakin aman-aman saja, soalnya di sana masih banyak preman-preman penjaga hehehehehehe ….

I luv preman!

Salam hari senin!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama