Sudah Agustus lagi. Sepanjang Juli kemarin kita mendapat kemarau basah. Bagi saya, ini sambutan luar biasa alam atas tingkah polah manusia. Saya mencintai manusia meski mereka hanya sekumpulan penjahat kelas teri yang hanya berani kalau dalam kumpulan. Saya masih bisa mengatakan bahwa dunia tengik ini sangat indah, beserta tiap teriakan kemuakan orang-orangnya. Sebenarnya agak lucu, bahwa ada orang yang membuat kesatiran nasibnya sebagai hal serius. Barangkali termasuk saya.

Saya sering tertawa melihat manusia, baik yang di hadapan kaca itu maupun yang di luar sana. Tawa dalam hati, tentu saja, karena saya masih tidak berani disebut gila! dengan tanda miring di kening. Oh tuhan, maafkan saya yang mencintai yang tak saya mengerti ini.

Kelucuan itu juga banyak saya temukan di Kompasiana. Baik yang lucu secara harfiah maupun lucu karena otak saya yang sudah miring. Saya harus minta maaf karena menganggap sebagian kompasianer lucu, sebab sebagian kalian tentu ingin dianggap serius, dan saya sulit serius kalau menghadapi hal serius begitu. Dan, saya yakin, masalah-masalah yang kompasianer utarakan adalah masalah-masalah serius yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Tapi, kadang saya merasa sudah menyelesaikannya dengan tertawa (lebih sering dalam hati, takut dicoret dari daftar karyawan karena didiagnosis penyakit gila!)
Hal-hal indah itu ada di mana-mana, bukan hanya milik mereka yang memiliki kemewahan. Saya mau bercerita hal yang masih ada kaitannya dengan lucu-lucu. Lucu bukanlah hal yang membuat Anda tertawa, kadang hanya sekadar senyum simpul, kadang hanya batin saja yang tertawa. Kalau lucu bisa membuat Anda tertawa, bersyukurlah.

Mengerek Bendera 
Nah, sebentar lagi Agustus. Kita akan mengerek bendera tinggi-tinggi untuk menghormati hari proklamasi. Ayah saya di rumah pasti akan dengan suka cita memasang bendera di sebuah tiang bambu selama sebulan penuh. Adik saya juga akan bangga memandang bendera di halaman rumah. Di kampung-kampung, orang merayakan Agustus seperti hari raya. Dan, kampung memang garda depan perayaan Agustus di negara ini, karena mereka merayakan dengan sungguh-sungguh dan tulus. Karena mereka tidak mengharapkan bantuan pemerintah ketika mengadakan pentas rakyat. Sedangkan pemerintah biasanya mengeluarkan biaya, dari uang negara tentunya, untuk merayakan Agustus di Istana negara, di Instansi-instansi, dan di sekolah-sekolah.

Agustus adalah bulan meriah, bulan penuh karnaval bendera, penuh cerita-cerita tentang lomba. Saya menyukai ramainya anak-anak berebut mendaftar lomba. Suatu kali, di kampung nan di tengah Jogja, perhelatan yang demikian digelar. Sama seperti di tempat lain, serunya bulan bendera ini kalau pas lomba. Saya pernah didaulat jadi pembawa toa, si tukang teriak dan sok mengatur segalanya. Tapi, seringkali persiapan tak sempurana. Ketika toa tak nyala, tenggorokan saya jadi korbannya. Teriak-teriak seperti orang gila yang marah-marah rupanya menyenangkan juga. Maka, jadilah saya si orang gila. Setelah hari itu, saya harus mengistirahatkan tenggorakan karena rasanya jadi seperti ada yang menggelitik di dalam sana.

Di Code utara selalu ada perayaan, dan salah satunya Agustusan. Ada spirit yang selalu bisa saya rasakan ketika anak-anak mengusulkan puluhan jenis lomba. Dari memindah belut sampai menangkap bebek di kali, dari balap kelereng sampai makan kerupuks, dan semuanya tampak sebagai PESTA! Pesta ini penuh lelucon, penuh drama tawa. Dan saya suka ketika bisa tertawa bersama-sama, sekeras-kerasnya dan tanpa malu sebab semua orang di sana juga tertawa. Mereka merayakan, tanpa perlu mengingat beban keluh kesah bangsa. Mereka orang lumrah biasa yang beban hidupnya tak seperti saudara sekalian yang berkesempatan membaca Kompasiana. Bahkan, mungkin sebagian besar tidak tahu makna proklamasi, sebagian besar buta siapa pahlawan nasional, sebagian tak tahu mengapa presiden tidak ikut lomba di kampung mereka. Bahkan, mungkin sebagian anak-anak akan dengan suka cita memasang bendera bajak laut di depan rumah mereka tanpa rasa bersalah karena ingin ikut larut dalam perayaan menaikkan bendera.

Saat Agustus, saya kagum, orang satu kampung bekerjasama untuk membersihkan yang bukan miliknya, untuk menghias yang bukan halamannya, untuk ikut tertawa pada yang bukan leluconnya. Mereka mungkin tak lupa bahwa kemarin masih terlibat cek cok dengan tetangga, tapi akan melupakan segala perkara hanya agar sebuah kampung pemulung tampak tak kalah mewah dalam membawakan penghormatan.

Foto koleksi pribadi Satu-satunya alasan “logis” untuk setiap pengadaan lomba-lomba aneh adalah karena itu agustusan. Cukup dengan alasan itu, Code Utara akan bersih, kapur-kapur dipoleskan bersama-sama, sungai dibesihkan dari sampah, dan umbul-umbul naik menantang udara. Pak RT tak perlu susah payah mengumpulkan orang dan mencari tenaga karena ini agustusan. Kalau kampung itu istana negara, mungkin orang taka akan sesemangat itu. Mengapa? Sebab orang-orang kampung ini tidak dibayar, bahkan mereka ditarik sumbangan. Sedangkan orang di Istana Negara bayarannya bejibun, bahkan bisa untuk membeli beberapa kampung semacam Code Utara itu.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama