Kopi menjadi tema menarik yang masuk dalam novel dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. Terutama di novel terakhir yang mengulas perihal kopi dengan cara jenaka.


Saya cukup senang membaca bab-bab dalam novel itu mengenai kopi. Ya, kopi sebagai bagian dari tradisi masyarakat Indonesia.


Di sini saya tak akan membahas novel tersebut, kalau mau, bacalah sendiri, dan semoga tak memilih produk bajakan (Saran ini saya berikan sebagai tendensi pribadi bahwa Bentang Pustaka telah melakukan perihal baik terhadap perpustakaan komunitas kami di Code).


***


Sakit kepala yang menyerang sore ini membuat saya tiba-tiba ingin menulis mengenai kopi, tentu dalam kacamata saya (meskipun saya tak berkaca mata).


Sakit kepala ini, saya kira berasal dari sakit maag yang saya derita sejak beberapa tahun belakangan. Pantangan sakit maag adalah kopi.


Tapi, saya merasa perlu memberikan pemberontakan perihal minum kopi. Apapun kata dunia, apapun kata dokter, apapun kata tetangga, saya tetap akan minum kopi.


Kata kopi sendiri berasal dari bahasa Arab, qahwah, yang berarti kekuatan. Menurut Wikipedia, nama itu diberikan karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi. Saya baru tahu arti kopi beberapa menit yang lalu. Maklumlah, saya ini peminum yang tolol.


Meski kopi berasal dari Afrika, namun bangsa Arablah yang pertama kali mengembangkannya. Era budidaya dimulai pada dekade 1000 SM, dimana para saudagar Arab membawa masuk biji kopi ke daerah Timur Tengah dan membudidayakannya.


Petualangan lambung saya dengan kopi dimulai saat saya belum bisa membaca. Sewaktu kecil, kopi milik bapak saya selalu saya coba sebelum bapak meminumnya. Jadilah saya tukang icip-icip.


Kebiasaan mencicipi minuman milik bapak masih sering saya lakukan kalau saya di rumah, sekalipun yang diseduh adalah teh (minuman yang lebih sering menimbulkan huru-hara di lambung saya.)


Saya pernah mendapat pengalaman buruk dengan kopi sewaktu masih kecil. Bukan soal lambung. Tapi saya dimarahi habis-habisan oleh bapak gara-gara usaha saya yang terlalu gigih untuk membuat kopi sendiri dan akhirnya memecahkan sebuah gelas.


Pada waktu itu bapak sedang akan mengajar ngaji di langgar/surau. Mendengar suara prang, gelas pecah, bapak buru-buru ke dapur dan mendapati saya yang ketakutan setengah mati.


Saya dijewer, pelan tapi menyakitkan di hati. Hukumannya…saya dimasukkan ke kandang ayam! Padahal, di surau, yang jaraknya beberapa langkah dari rumah, kawan-kawan saya menyaksikan aksi bapak dengan tertawa.


Saya hanya bisa nangis. Bapak menutup pintu kandang ayam dan menyampur saya bersama warga ayam. Waktu bapak tanya, “Kapok ora?” (Kapok tidak???) Saya menjawab “Ora!!!” (Tidak!) dengan keras diiringi tangis.


Berkali-kali bapak nanya, “Kapok ora?” dan berkali-kali saya jawab “Ora!!” dengan lantang dan tangisan. Barangkali itulah yang membuat saya, sampai sekarang, tidak pernah kapok minum kopi, apapun yang terjadi di dunia!!!




Saya juga pernah limbung semalaman karena minum dua gelas kopi robusta sedang perut belum diisi makanan. Waktu itu saya memang kere, jadi terbiasa tidak makan.


Ceritanya, waktu itu saya hanya punya beberapa rupiah. Lalu, saya belikan kopi hitam. Setelah minum secangkir pertama, tubuh merasa sehat dan bergairah. Tapi, ada rasa lapar yang menghinggapi.


Oleh karena uang tidak cukup untuk beli makan dan saya malas untuk masak nasi, maka saya putuskan untuk minum segelas kopi lagi saja. Gila! Efeknya tidak terlupakan sampai sekarang!!!


Waktu itu saya hanya bisa merintih-rintih memegangi perut. Lari ke sungai, eh tidak keluar (maksunya, saya berniat buang hajat karena memang rasanya memang ada yang ingin permisi di belakang sana). Semalaman saya hanya bisa memegangi perut dan teriak-teriak dalam hati ‘Asu tenan iki’.


Berkat dokter di GMC-UGM, barulah saya mengetahui bahwa saya menderita maag. Saya tidak boleh minum kopi. Saya hanya bilang “Baik, dok!” Saya sadar bahwa saat itu saya berbohong.


Sampai hari ini saya masih minum kopi, dua sampai tiga gelas sehari. Sebagai penderita maag, itu mungkin tindakan tidak waras. Baiklah, saya memang kurang waras dalam hal ini dan saya baik-baik saja.


Saya juga perlu mengatakan bahwa di kantor, pekerjaan saya adalah duduk dan menyeduh kopi. Nikmat. Saya tidak tahu penyebabnya kenapa kopi di kantor ini nikmat sekali.


Soalnya begini, sejak hijrah ke jakarta, saya tidak pernah bisa menikmati kopi seperti saat masih di Code. Di rumah Pak Dhe saya, kopinya dicampur jagung. Kalaupun ada kopi murni, airnya yang kurang pas.


Sedangkan di Code, saya membuat kopi dari air yang saya masak sendiri, dan air itu berasal dari mata air tanah. Saya meminumnya di pinggir kali a.k.a sungai Code, Yogyakarta (Kalau di jakarta, jangan harap).


Dan, itu surga dunia yang tak saya lupakan. Menurut saya, semenderita apapun hidup anda, kalau minum kopi panas sambil duduk-duduk di tepi kali, penderitaan itu akan hanyut di sungai.


Kopi di kantor ini memiliki citarasa yang sama dengan kopi yang saya sesap di Code dulu. Atau, karena kopi di kantor gratis, selalu baru, dari air yang baik… atau karena banyak kawan yang minum kopi di sini. Mayoritas penduduk kantor tampaknya doyan kopi, apalagi para wartawan yang kerja sampai malam. Gelas-gelas di kantor pasti pernah dihuni cairan hitam itu.


Saat ini dari sepuluh kopi terbaik yang diakui dunia, empat di antaranya berasal dari Indonesia, yakni Toraja, Gayo, Mandailing, dan dari Jawa Timur. Dan kopi telah jadi bagian hidup masyarakat. Saya sepakat dengan Andrea Hirata perihal ketidaksetujuan pada kopi yang dijual mahal. Kopi adalah minuman rakjat banyak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama