ada letupan-letupan kecil di perut saya ketika naik angkot pagi ini. Melewati kampung muara, yang dipenuhi petualangan goncangan polisi tidur, saya terima sms rika tentang kangennya dengan jogja. Dalam sejenak, saya pikir dia atau diriku akan menulis tentang itu di kompasiana. dan, benar saja. Letupan-letupan itu berhenti setelah membaca tulisan “Jogja (Bukan) Milik Saya Seorang“. Saya pun tertarik menulis jogja dalam mata saya. Menurut saya, menulis bisa mengatasi sebagian kerinduan akan sesuatu.

Jogja bagi saya tentu berbeda dengan jogja bagi orang lain, namun masih sangat banyak kesamaan-kesamaannya. Saya hanyalah ‘pelancong’ waktu yang sejenak tinggal di kota itu. Jogja bisa saya ringkas menjadi satu kata saja “code”. Tidak bermaksud menghapus jejak-jejak lain, bahwa jogja juga berarti persahabatan, hutang, dan layang-layang. Saya menetap 7 tahun di sana, dan itu cukup lama mengingat bahwa saya paling lama tinggal di satu tempat selama sepuluh tahun, itupun masa kanak-kanak yang sering timbul tenggelam dalam ingatan.Code adalah tempat singgah paling mengesankan. Lima tahun di sana tak bisa dirangkai dalam satu dua kata. Sungai code adalah mimpi lama saya. Mimpi dalam arti sebenarnya. Saya sering memimpikan sebuah keadaan dimana saya tinggal di tepi sungai dan mancing setiap hari. Tinggal di Code memang tidak terbayangkan. Dua tahun pertama saya di Jogoyudan, sebuah kampung padat yang memiliki gang-gang sempit seperti gua-gua. Tempat tinggal kami di tepi sungai, sekira dua tiga meter dari talud. Suara sungai adalah musik termerdu mengantar tidur dan terjaga. Teriakan anak-anak yang amat sangat “bengis” dengan gelayutan dan permintaan-permintaannya. Kemiskinannya yang merasuk tulang. Laki-lakinya yang mayoritas bertatto. Kegarangan beberapa preman. Laki-laki tua buta penambang pasir yang mabuk dan mengalungkan radio merek national sambil “berkhotbah” tentang hidup. Ah…. Jogoyudan adalah pertarungan pertama saya untuk merasakan buang hajat di sungai.

Tiga tahun kedua, saya berpindah ke code utara yang masuk wilayah kotabaru. Perpindahan yang berat karena kami berdua, saya dan rekan saya, diburu pemilik kontrakan gara-gara menunggak listrik selama enam bulan. Untunglah, setelah menebalkan muka dengan semen dan cor-coran, saya “ngemis” ke Bunda (ghifari) untuk minta uang. Rekening sepanjang lebih dari setengah meter itu saya serahkan dengan bangga dan sedikit terhina kepada pemilik kontrakan.

Di code utara, banyak hal berbeda, sangat berbeda. Ini adalah kampung yang menjadi salah satu rintisan Romo Mangun memerdekakan kampung-kampung kumuh di jaman dahulu. Di sini saya tinggal sebagai seseorang yang berbeda. Amat berbeda. Saya membalik “telapak tangan” saya. Yang hitam memutih seketika. Tapi saya lebih suka yang hitam meski dipaksa putih. Hahahaha ….

Masih dengan kegiatan bersama anak-anak tentu saja. Kalau ketika di Jogoyudan saya lebih banyak mengajar di dalam rumah, sewaktu pindah ke Code utara jadi lebih variasi. Saya kadang mengajar di balai kampung, kadang di masjid, kadang di perpus kampung, kadang di perempatan jalan, kadang di trotoar di bawah rinang lampu merkuri. Saya juga mendapat pengalaman-pengalaman menarik. Saya jadi sangat suka memancing. Saya sudah terbiasa buang hajat di sungai karena memang tidak ada wc untuk umum pada awal-awal itu. Saya …. ah, terlalu banyak kalau mau ditulis.

Nah, maka, tak salah kan kalau jogja, bagi saya, adalah code itu sendiri. Code adalah bentangan sungai pembelah kota yang dihinggapi hunian-hunia padat di sepanjang bantarannya. Dahulu adalah kampung-kampung kumuh, penuh preman, pencopet dan pelacur. Tapi, saat saya di sana, code penuh dengan aroma kemanusiaan. Penuh dengan orang-orang miskin baik hati. Saya sendiri hanya berkategori miskin. Code, untuk saya, adalah representasi yang lebih mengena tentang kota Jogja. Memang, di sana ada dua alun-alun yang terkenal, yang kalau pagi hari banyak orang bergelimpangan. Ada malioboro, ada beriharjo, ada sarkem, ada ngasem (yang sudah direlokasi), ada tamansari, ada gudeg, ada mbok djum, ada jejak.

Code, dari waktu-ke waktu juga akan lebih banyak dikenang (kalau dikenal, entahlah). Yang saya tahu, masih banyak orang-orang asing ke Code. Memang, tak sesering dahulu. Tapi, ke depan, saya kira Code juga akan ngangeni seperti tempat-tempat lain. Dan bukan hanya untuk orang seperti saya. Kenapa? Kampung-kampung itu, bagi saya, sangatlah indah. Mural bermekaran di sana. Sungainya, meski masih saja dialiri sampah, masih cukup baik untuk memancing dan mendengarkan lagu-lagunya. Manusianya, seperti pelangi yang dikuadratkan. Cerita-ceritanya akan lebih menegangkan daripada thriller-thriller kacangan. Hahahaha ….

Baiklah, sampai di sini saja khutbah hari rebo saya.

Ini hanyalah berbagi kerinduan kepada rika dan yang lain-lain yang masih merindukan Jogja. Layaklah kalau kita dirikan asosiasi orang-orang rindu jogja…. hahahahaha (ngawur!!!)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama