7/22/2010

,

Banjir Cengkeh di Code dan Rekor MURI

Di Jogja, kerja bakti massal membersihkan Kali Code sepanjang 20 kilometer berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Bayangpun, dua puluh kilometer orang-orang main air… uh alangkah senangnya!!! Sayang sekali, saya tidak bisa ikutnyebur.

Hari minggu lalu, saat sedang menunggu kereta di stasiun Tebet, seorang kawan meminta saya nonton TV. Kabarnya, sedang ada yang menayangkan tentang Code. Entah apa isinya, karena saya tidak bisa melihat TV. Saya memang tidak tertarik untuk menontonnya, karena bagi saya porsi media adalah memotong sebagian fakta untuk dijual, dan saya sudah memiliki banyak kenyataan tentang Code. Kemudian saya tahu kalau di Code sedang diadakan kerja bakti membersihkan Code. Rupanya ini bukan kerja bakti seperti yang biasa saya ikuti tiap bulan ketika masih tinggal di Code. Ini adalah pemecahan REKOR!

Banjir Cengkeh
Tapi, saya kira bukan itu esensi dari kegiatan bersih kali. Bersih kali lebih mengarah pada upaya membangun kesadaran bersama akan keberlanjutan ekologi sungai. Kerja bakti itu bukan awal dan bukan akhir dari kegiatan lingkungan di sana. Saya pun yakin, setelah hari itu masih akan ada sampah di Code. Hal itu seolah menjadi bagian yang akan selalu terulang dan terulang lagi.

Coba saja, tengok kali itu manakala hujan pertama setelah musim kemarau. Biasanya, setelah beberapa bulan tak didatangi hujan, sungai menjadi tampak lebih bersih, jernih, dan batu-batu yang bertapa di bawah sana terlihat seperti kepala biksu-biksu bijak. Namun, sekitar november, atau kadang sebelum itu, manakala hujan pertama, jika hujan itu cukup deras, maka sungai Code, dari sekitar Terban ke hilir, akan berwarna hitam, pekat, dan lengket. Masyarakat sering menyebutnya banjir cengkeh, lantaran bau air yang menyerupai bau cengkeh. Saya tidak begitu tahu asal muasal limbah ini. Yang jelas, banjir cengkeh dimulai dari sekitar Terban, dekat jembatan Sudirman.

Banjir cengkeh sebenarnya baru terjadi beberapa tahun belakangan. Cairan antah berantah yang mengendap di selokan selama musim kemarau, larut terbawa air dan jatuhnya ke sungai Code. Air kali berubah kehitaman, berbau menyengat, kental dan agak lengket. Lalu, semua orang, anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, akan segera menuju tepi sungai. Nah, kenapa? Apakah ada bayi hanyut? Atau jemuran dari hulu terbawa ke hilir? ternyata bukan. Orang-orang itu membawa aneka wadah, menyiapkan jaring dan serok, bersiap-siap mengambil ikan-ikan yang tergelepar. Ikan-ikan itu kadang ada yang berbobot sampai lima kilo. Dari jenis bader sampai palung menggelepar, megap-megap, dan bisa ditangkap dengan mudah. Maka, berpestalah orang-orang dengan ikan-ikan yang kadang sulit dipancing pada hari biasa. Beruntung kalau hujan pertama sangat deras, karena kemungkinan ikan-ikan mabuk jadi lebih rendah.

Habitat Ikan-ikan Lokal
Saya tidak hafal jenis-jenis ikan di Sungai Code, namun seingat saya lumayan banyak. Ikan-ikan itu sebagian, tampaknya, jenis ikan lokal. Menurut cerita-cerita dari mereka yang sejak kecil tinggal di Code, saat ini jumlah ikan di sungai code sudah sangat berkurang. Malah, sekarang dipenuhi ikan apu-sapu yang lebih banyak menimbulkan kerugian karena bisa merusak talud dan memangsa telur-telur ikan yang lain. Beberapa ikan predator lokal juga masih hidup di sana, khusunya di hulu sungai.

Saya masih ingat, pada bulan tertentu, ikan-ikan melem(?) akan merayakan perkawinan massal(musim kawin). Biasanya dimulai sekitar pukul dua dini hari sampai menjelang muncul matahari. Ikan-ikan dewasa akan mencari tempat yang dangkal, diantara batu-batu, dan membuat kegaduhan dengan terus-terusan berkecipak. Menurut orang-orang Code, ikan jenis ini memang memancing pasangannya dengan membuat gerakan-gerakan ribut tadi. Mereka bergerombol. Biasanya, kami bisa mengambil beberapa hanya dengan tangan kosong. Ikan-ikan itu sebesar lengan tangan anak kecil. Ikan-ikan semacam itu tentunya akan punah bila sungai tercemar limbah antah berantah.

Sungai Code juga masih jadi lokasi memancing yang menyenangkan. Meski jumlah ikan sudah jauh lebih berkurang, namun pada musim-musim tertentu akan mudah dijumpai gerombolan ikan yang bisa dipancing dengan mudah. Pun, cara memancing masing-masing jenis ikan berbeda. Ada ikan yang suka di arus deras, ada yang di tempat tenang, ada ikan siang, ada ikan nokturnal (hewan malam), juga jenis umpannya pun berbeda-beda. Tentu, orang-orang Code-lah yang lebih memahaminya. Mereka seringkali juga punya keluhan mengenai makin berkurangnya ikan, dan makin burunya kondisi sungai.

Beberapa perilaku negatif yang biasanya dibenci masyarakat adalah kegiatan nyetrum. Meski sudah ada larangan dari pemerintah dan masyarakat tidak menyukainya, namun beberapa kelompok orang yang terkesan garang melakukan kegiatan itu tanpa rasa bersalah. Sulit sekali memperingatkan mereka, karena biasanya mereka dikenal sebagai “preman kampung”. Paling banter, kami iseng melempari sesuatu. Itupun dengan sembunyi-sembunyi, karena takut menimbulkan konflik dengan risiko kekerasan.

Namun, saya kira jauh lebih banyak perilaku positif yang sekarang telah menjadi darah daging masyarakat Code. Hanya, untuk limbah industri antah-berantah itu, saya tidak tahu. Mungkin mereka orang yang tinggal jauh dari Sungai.

Selamat hari Rabu! Hati-hati di jalan ya….

0 komentar:

Posting Komentar