Saya termasuk orang baru di Jakarta, kota metropolitan yang dikaruniai kegiatan bisnis luar biasa. Sebelum ke Jakarta, sudah banyak kawan-kawan yang berbicara dengan nada negatif tentang Jakarta, bahkan oleh mereka yang sudah lebih dahulu menambah padat ibukota. Banyak yang bilang, Jakarta itu kurang manusiawi; macetnya, manusianya yang egois, biaya hidupnya, banjirnya, bahasanya, wilayah pinggirannya, dan lain-lain.

Saya sendiri sempat meragukan kemampuan adaptasi saya. Maklum, selama di Jogja saya lebih banyak menghabiskan waktu di antara komunitas Code, yang meski miskin dan kurang berpendidikan tapi mereka sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Orang jadi sulit kalau mau hidup menyendiri di sana. Memang ada sosok-sosok cerdas yang sekolahnya tinggi malah kesulitan bergaul dan memilih membatasi diri dalam bergaul dengan orang-orang Code lain. Di sana, masyarakat cukup permisif terhadap berbagai perilaku dan kebiasaan, tak aneh kalau komunitas waria, misalnya, justru merasa mendapat tempat di daerah sekitar Code.

Dan, yang paling sulit bagi saya adalah kehilangan kebiasaan memandangi sungai Code waktu pagi ditemani secangkir kopi. Juga keinginan untuk memancing dan bermain-main dengan air. Apa yang bisa saya pandangi di Jakarta? Mobil? Gedung? Jalan-jalannya yang lebar tapi tetap macet? Mall? Kerumunan orang?

Suatu kebetulan bahwa hampir setiap hari saya melewati kampung muara. Kampung, yang kurang lebih saya bayangkan sebagai sosok Code. Tapi, pembayangan itu gagal tatkala saya melihat sungai di sana berwarna hitam. Entah bagaimana cerita panjangnya sampai-sampai air sungai yang bebau busuk tersebut jadi sehitam itu. Sungai Codhe sangat berbeda. Sungai itu membelah Jogja. Di tepi sepanjang alirannya juga menjadi kampung-kampung padat. Bahkan, di kampung yang saya tinggali dulu, mayoritas profesi penduduknya adalah pemulung, artinya mereka banyak membawa sampah ke sekitar lingkungannya. Sebuah keberuntungan memang, bahwa pernah suatu masa Romomangun mengarsiteki pembangunan pemukiman kumuh itu sehingga menjadi kampung pinggiran yang manusiawi dan respek terhadap lingkungan. Dampaknya, banyak kampung lain yang sekarang menjadi lebih bersih, tertata, dan bisa dinikmati sebagai bagian dari wisata kampung.

Nah, di Jakarta, yang saya yakin orang-orang cerdasnya berlimpah dan bertebaran di seluruh penjuru kota, keberadaan sungai tampaknya masih belum menjadi perhatian. Bagi saya, kota yang gagal menjaga sungainya adalah kota yang gagal. Untuk saya, memandanggi Code adalah cara menghilangkan tekanan/stress sekaligus menikmati alam. Sedangkan di Jakarta, orang lewat dekat sungai pun harus menutup hidung. Mungkin tidak semua sungai, namun setelah kemarin melihat betapa hitamnya air BKT, saya merasa perlu meragukan masa depan Kota ini. Padahal, BKT terhitung sebagai sungai buatan/kanal yang baru… namun, saluran sepanjang itu dapat menjadi seperti cairan tinta dalam waktu sangat cepat.

Saya sendiri sebenarnya sangat kagum dengan masyarakat kampung muara, misalnya, yang saban hari berada di dekat sungai hitam dalam waktu yang sangat lama, tetapi seperti tidak terpapar oleh bau dan rupa sungai itu. Saya kadang ingin muntah manakala angkot yang saya tumpangi berjalan di dekat sungai, sedangkan orang lain, memegang hidung pun tidak. Apakah di hidung mereka sudah dipasang sumpal? Dan, tampaknya sayalah yang ketinggalan jaman ketika harus dengan susah payah memencet hidung dan tetap gagal mencegah bau itu masuk ke paru-paru.

Saya tidak tahu bagaimana sungai-sungai hitam itu terbentuk, karena dalam pelajaran sekolah tidak pernah disebutkan ada sungai hitam, yang ada adalah laut hitam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama