Barangkali sudah sangat biasa kita mendengar orang berkata bahwa buku adalah guru yang baik, yang tak bisa marah pada muridnya. Buku sebagai guru, bagi saya adalah ungkapan tak memiliki makna, kosong, dan malah menjadikan buku seperti mahluk yang kolot karena asosiasi kita pada sosok guru yang terlalu normatif dan selalu ingin menegakkan aturan sekolah. Meskipun, makna guru sejatinya tidaklah seburuk itu, itu hanya berlaku bagi guru sebagai sebuah profesi, sebuah pekerjaan yang dilembagakan bersama yang namanya sekolah. Sekolah pun sejatinya tidak perlu dipandang sebagai institusi pula, sebab kalau demikian yang terjadi, kita hanya akan berada jauh di belakang.

Buku hanya akan jadi guru bagi mereka yang bersedia menjadi murid. Sebagaimana alam akan jadi guru untuk para manusia yang mengambil hikmah/pelajaran darinya. Dan, tak setiap makna di dalam buku sama adanya dengan yang kita tangkap dari pembacaan. Kesediaan kita menjadi murid dari buku tidaklah sama dengan transfer pengetahuan. Murid belajar bukan untuk meniru gurunya, bukan untuk menjadi bayangan dari gurunya, bukan untuk mewarisi ilmu. Murid haruslah seorang manusia bebas yang berkembang dari kreativitas. Makna murid di sini bukan murid dalam pengertian umum, melainkan murid dalam makna penulis sendiri.


Menjadi murid jauh lebih penting daripada kehadiran fisik guru, buku, ataupun gedung-gedung sekolah megah yang didirikan dengan uang pajak. Makna menjadi murid bisa jadi adalah hal yang mungkin terlalu filosofis, berada di ranah kesadaran. Namun, sejatinya pembahasan menjadi murid jauh lebih memiliki arti daripada menjadi guru. Kalaupun di dunia ini banyak profesor, doktor, ahli, dll, semua itu hanyalah sebuah “kepemilikan pribadi” atas ilmu. Bahkan, sekalipun mereka telah menuliskannya di dalam berton-ton kertas, kita masih hanya menyaksikan guru-guru sebagai benda.

Sebenarnya, hal itu juga masih banyak terjadi dalam lingkungan sekolah kita. Tak banyak pandangan filosofis mengenai guru yang bisa mengubah guru-guru tetap sebagai benda, sebagai pekerja, sebagai manusia-manusia layaknya sekian juta manusia lainnya. Kita akan jadi lebih menghargai guru jika kita MERASA menjadi murid. Merasa menjadi murid bukanlah dalam pengertian sesedehana seorang berseragam dan menyalin pelajaran, atau sekadar mencari nilai. Merasa jadi murid adalah semacam spirit untuk mengetahui, mempelajari, memaknai. Dan, dalam pikiran penulis, menjadi murid adalah “tidak mengerti” untuk menjadi “memberi pengertian”. Dalam konteks bahasan penulis, buku diletakkan sejajar dengan benda-benda. Karena, benda semacam batu pun telah terbukti menjadi sumber pengetahuan yang sangat berguna bagi umat manusia.

Kesediaan kita sebagai muridlah yang membuat benda-benda seperti buku menjadi guru. Namun, kesediaan itu tidaklah mudah diperoleh. Bahkan, bagi mereka yang telah mengalami tahun-tahun yang panjang di bangku sekolah, menjadi murid tidaklah memiliki makna lebih daripada sekadar intervensi yang harus diterima dari otoritas sekolah. Karena itu, banyak dari mereka tidaklah belajar, hanya menuntaskan tugas seorang murid dalam pengertian umum. Murid dalam pengertian umum hanyalah benda-benda.

Dengan menjadi murid, dalam pengertian yang lain atau yang saya maksud dalam tulisan ini, adalah jalan untuk membongkar peran angker sekolah dalam pembangunan. Saya sebenarnya amat jengah dengan pemujaan atas peran sekolah, yang hanya sebagai sebuah tren. Bagi seorang murid, sekolah hanyalah sekat yang membatasi dunia dengan dirinya. Mengapakah kita harus menerima hal-hal yang ada ini sebagai biasa dan normal, sedangkan segala sesuatu tidak ada yang aneh?

Banyak manusia di dunia ini yang sebenarnya sudah memberi contoh mengenai menjadi murid itu. Carilah, karena pencarian itu penting.



(Orang asing di surga)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama