Kebutuhan belajar masyarakat kita sesungguhnya sangat tinggi, namun kesadaran akan kebutuhan belajar itu belum mengakar. Sebagai negara yang dikategorikan “berkembang”, indonesia sangat memerlukan lompatan ilmu pengetahuan. kita tidak bisa lagi bergerak dengan langkah-langkah pelan.

hari ini saya tergelitik dengan satu tulisan kompasiner mengenai budaya baca di rusia. sebagai seorang yang pernah bergiat di perpus komunitas, ini jelas menggelitik saya. budaya baca di indonesia memang rendah, sekalipun tidak ada skala yang membenarkan pernyataan itu. di kalangan mahasiswa, yang dinilai sebagai kelas intelektuil, juga masih kurang budaya baca. Kompas hari ini misalnya, menurunkan artikel mengenai jual beli skripsi, tesis, dan bahkan desertasi. hal tersebut, sedikit atau banyak, terkait dengan rendahnya budaya baca. para mahasiswa enggan membaca buku sehingga merasa berat untuk membuat karya tulis. saya pribadi pesimis dengan pendidikan formal atau sekolah di indonesia, sebab lembaga ini sangat konservatif. sekalipun, ada sekolah-sekolah yang maju sistem pendidikannya, namun tidak pernah bisa mereprensentasikan dunia pendidikan nasional. sekolah juga tidak sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan belajar masyarakat.

satu kali, saya menyakini bahwa menghadirkan perpustakaan di sekitar masyarakat umum bisa mengurangi hambatan terhadap akses ilmu pengetahuan. karenanya, saya dan kawan-kawan mencoba menggiatkan perpustakaan komunitas di ledok code, di kota pendidikan. sekalipun tak banyak yang bisa diharapkan dari buku-buku kumal sumbangan dari aneka ragam orang, kami cukup yakin bahwa pengalaman bersentuhan dengan buku, bagi anak-anak akan menjadi jejak yang berharga. kami memang hanya membuat sebuah perpus anak-anak, dengan inventaris seadanya dan konsep yang tidak jelas sama sekali. nyatanya, antusiasme anak-anak sangat tinggi. dibanding dengan orang tua yang merasa sudah tidak perlu membaca buku (dan karena banyak yang juga buta huruf), anak-anak adalah sasaran paling potensial. bayangpun, dalam dua tahun tidak ada buku yang masih benar-benar utuh. ada yang kehilangan sampulnya, ada yang robek, ada yang dipinjam tidak kembali, ada yang hanya tinggal sampul saja, ada yang terlempar ke sungai di depan perpus, juga beberapa lembar yang dikencingi bayi-bayi. namun, sekali lagi, kami tidak perduli dengan segala jenis kerusakan yang disebabkan agresivitas berlebih dari anak-anak.

setelah dua tahun pertama, kami berkesempatan mengelola perpustakaan yang lebih baik, masih dengan segmentasi utama anak-anak. perpustakaan komunitas itu sudah lain kampun, tapi masih di code, ledok gondolayu. setelah membunuh perpustakaan pertama secara keji, dengan menjual buku-buku rusak secara kiloan di pengepul, kami meneruskan satu perpustakaan peninggalan tokoh sosial paling terkenal di sana.

kami mendapati bahwa anak-anak mudah terbawa oleh apa yang ada di sekitarnya, termasuk dalam soal membaca buku. anak-anak mudah sekali tertarik dengan aktivitas orang deawasa. mereka suka menirukan beberapa tingkah laku kita. termasuk, membaca. saya tidak pernah menyuruh mereka untuk membaca, tapi cukup dengan duduk di balai kampung dan membuka buku. anak-anak akan berkumpul dengan sendirinya. mulai bertanya-tanya tentang apa yang kami lakukan, apa yang kami baca, hingga mereka juga tertarik untuk membaca buku sendiri. bahkan anak yang belum bisa membaca pun mulai memainkan peran pura-pura bisa membaca. mereka memang cepat bosan, maka perlu banyak improvisasi dalam memberi contoh, selain diberikan berbagai variasi buku yang beragam. buku-buku bergambar jelas sebuah jaminan menarik minat baca anak. tapi, puzzle juga menjadi pintu agar mereka beraktivitas di sekitar perpustakaan.

ini hanya sekilas cerita, bagaimana mudahnya membudayakan membaca di kalangan anak-anak. kalau orang dewasa, saya tidak yakin. kita perlu waktu untuk menumbuhkan “budaya baca”, dan sudah seharusnya kita memulai dari lingkungan sekitar.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama