saya seringkali menggunakan adagium "setiap orang, cepat atau lambat, pasti kehilangan." untuk menghibur diri ketika hidup dipenuhi oleh runtutan kehilangan. Kamis, minggu lalu, sebelum saya pulang ke rumah, saya kehilangan sebuah sepeda yang harusnya jadi teman saya pergi ke kampus, ke toko buku, ke klitikan, ke sudut-sudut jogja, atau ke manapun saya ingin pergi bersamanya. Yeah, di rumah, Ayah juga kehilangan sebuah sepeda. Waktu saya pulang kembali ke jogja, kucing kecil saya juga hilang; sehari kemudian saya tahu ia telah jadi bangkai di pinggir sungai di depan tempat tinggal saya. Beberapa buku di perpustakaan komunitas, yang susah payah kami bangun, juga tidak ada di rak tanpa catatan ada orang yang meminjam. Mantol baru yang saya beli dua bulan lalu juga tidak ada di tempat terakhir kali saya menaruhnya, entah di mana.
Ah, sudahlah.... ini bukan gayaku untuk mengingat hal buruk, tapi tiap kali saya keluar dan ketemu dengan tetangga di kampung code, mereka menanyakan kabar sepeda saya, apakah benar-benar hilang? apakah sudah pulang?

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama