anak jalanan dalam lingkar kekerasan

Oleh Muhammad Taufikul Basari

Evo (7), bukan nama sebenarnya, hampir setiap hari dalam masa liburan sekolah lalu, turun ke jalan. Berangkat dari rumah di sekitar ledok Kali Code, Gowongan, pukul delapan, bahkan kurang, dan pulang sore hari. Bersama saudara-saudaranya ia mengumpulkan rupiah demi rupiah di perempatan lampu merah. Ibunya mengawal dan mengawasi sambil menjual koran. Setiap beberapa menit ia serahkan uang yang diperoleh pada ibunya itu. Ada target yang harus dipenuhi agar ia tidak mendapat dera ibunya. Tanpa alas kaki, ia masuk di sela kendaraan yang sedang menunggu lampu hijau menyala. Kulitnya yang tidak tertutup pakaian sudah menghitam karena panas matahari. Begitu pula rambutnya yang kemerah-merahan. Hal yang sama terjadi pada Atik (11), kakaknya, kulit pipinya selalu terlihat memerah setelah seharian turun ke jalan.

Belum lagi risiko kanker karena mengisap asap knalpot kendaraan bermotor atau ancaman berbagai penyakit lain dari kondisi lingkungan yang polutif. Sakit "kecil-kecilan" seperti flu atau pusing-pusing yang mereka alami tidak bisa menjadi alasan istirahat di rumah. Di jalan rata-rata mereka memiliki pengalaman buruk dengan Satpol Pamong Praja. Penanganan yang dilakukan pemerintah lebih sering bersifat sementara dan dengan tindak kekerasan yang menimbulkan trauma. Sementara masyarakat umum melihatnya sebagai fenomena kehidupan perkotaan yang akan selalu hadir, tanpa sebuah harapan bahwa hal seperti itu akan dapat benar-benar hilang.


Anak jalanan sering dianggap sebagai masalah tanpa akar yang dapat dipotong begitu saja dengan menangkap dan mengasingkan, tanpa menyentuh sumber masalahnya. Kehidupannya di lingkungan masyarakat tidak jauh dari berbagai macam kekerasan. Pola pengasuhan yang menekankan disiplin versi kepatuhan kepada orangtua kerap kali menjadi sumber bentakan atau pemukulan. Ketika anak terlambat pulang, telinganya bisa jadi korban. Jerit kesakitan tidak dipedulikan. Anak-anak tersebut kerap pula jadi obyek pelampiasan kekesalan terhadap persoalan hidup orangtua. Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi dalam keluarga miskin yang banyak di Indonesia. Adapun kekerasan terhadap anak sering dilakukan oleh orang yang dekat seperti orangtua anak. Satu hal yang ironis.

Hak anak untuk hidup dalam keceriaan dilanggar setiap hari oleh orangtua sendiri. Itu hanya sebagian kecil dari kenyataan yang dialami Evo, juga anak-anak lain di Kota Yogyakarta ini. Belum lagi anak-anak di kota-kota lain seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan lain-lain. Struktur kota yang secara demografis padat penduduk sibuk dengan lalu lalang kendaraan dan cepatnya laju perubahan ekonomi memberikan banyak tekanan pada keluarga-keluarga miskin. Catatan kekerasan terhadap anak dari Komisi Nasional Perlindungan Anak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sampai akhir Juni 2006 saja terdapat 415 kasus yang dilaporkan.

Undang-undang tentang perlindungan anak belum mampu menurunkan angka kekerasan tersebut, bahkan semakin menunjukkan banyaknya kekerasan yang dialami anak. Anak-anak yang dieksploitasi, dipekerjakan dalam lingkungan yang buruk, dan berbagai bentuk diskriminasi masih sangat sering dijumpai terutama di kota-kota besar dan dalam keluarga miskin. Yang lebih berbahaya adalah menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang biasa. Karena miskin, misalnya, maka anak dipaksa mengemis di jalanan. Karena miskin Jika karena miskin mereka turun ke jalan, tentunya hari ini keluarga tersebut sudah punya alasan untuk tidak menyuruh anak-anaknya ke jalan. Tetapi, Evo dan saudara-saudaranya dilihat sebagai aset yang membuat keluarga itu memiliki televisi, radio tape, VCD, dan lain- lain. Cara melihat anak sebagai aset kerap jadi pemicu orangtua memberikan dorongan dengan kekerasan, baik psikologis maupun fisik.

Bukan saja dalam pengertian aset ekonomi melainkan juga cita-cita tertentu yang orangtua pandang baik bagi masa depan anak. Contoh kecil, ketika anak sedang tidak nyaman untuk belajar, mereka dipaksa untuk belajar dengan berbagai ancaman. Cara berpikir yang menempatkan anak sebagai obyek memang harus diubah. Kualitas kehidupan keluarga yang buruk yang menjadi pemicu keretakan hubungan di antara anggota. Memperbaiki kualitas keluarga menjadi agenda yang relevan, terutama pada keluarga-keluarga miskin yang mayoritas di Tanah Air. Mengurangi, bahkan meniadakan, tindak kekerasan dalam mendidik anak adalah tindakan kecil yang paling penting. Anak yang dididik dalam ritme kekerasan tiap hari hanya akan mewariskan nilai-nilai tersebut yang akan direproduksi dalam kehidupan mereka di masa depan. Kekhawatiran akan keadaan lost generation di Indonesia bisa menjadi wajar di tengah kebanggaan kita menyambut tim Olimpiade Fisika yang jadi juara umum.

Tanpa orangtua menyadari tindakan mereka yang semata atas dasar tujuan, tanpa memerhatikan proses, kekerasan terhadap anak akan terus berlangsung. Pemerintah belum bisa menangani perdagangan anak, pekerja anak, anak- anak jalanan, tetapi setiap orangtua bisa mengubah pola pengasuhan terhadap anak dengan meminimalkan tindak kekerasan fisik maupun psikologis. Menangani anak-anak jalanan atau keluarga yang membiarkan bahkan mengeksploitasi anak untuk mencari uang di jalan memang lebih rumit. Meski bukan jalan keluar terbaik, doa ini semoga terkabul: "Tuhan, carikanlah kami orangtua asuh." Itu adalah suara Tina (9), kakak Evo, ketika nglindur (berbicara saat tidur) yang penulis dengar sewaktu berada di dekatnya. Tetapi, bagaimana bisa mencarikan orangtua asuh sementara orangtuanya sendiri masih jadi tumpuan hidup mereka? Dan, mereka tetap hidup di lingkungan dengan sarkasme bahasa yang tinggi.

Muhammad Taufikul Basari Pengelola "Pondok Belajar Ghifari" di Ledok Kali Code, Gowongan, Yogyakarta
dimuat Kompas Jogja, 29 agustus 2006

Komentar